Di Pelabuhan - Setiap Pagi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Di Pelabuhan - Setiap Pagi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Di Pelabuhan - Setiap Pagi

Di Pelabuhan

: Bagi Seamus Heeany

Tak ada yang bisa kuucapkan,
juga untuk kulakukan di sini
Selain berkendara, menyusur pelabuhan
Memendam karat air mata.

Di permukaan bening mata negeriku
tak bisa kulihat lagi garis katulistiwa
dari pancang temali sangsaka
Segalanya begitu samar, dan menggigil

Hanya bisikan bulan kutangkap
dari kegelapan angin mengelus kalbu
Seusai mendesirkan kebisuan di pintu
negeri

Dari bentangan ke bentangan lain
Tak kulihat panorama selain dingin
Meminang kegaduhan politisi, mengajaknya
safari dengan baju terlipat di lengan
merana

Hanya tepuk derita menggema dari
batas perjalanan
Menyuruh penyair berpaling,
mengekalkan puisi nyeri
Hati ditinggal kekasih sayang, atau
buah bulan sunyi
dengan kosa kata nasihat kritikus
pesanan.

Tak ada yang bisa kusematkan di
pundakmu,
Hanya puisi negeri mendesir di nadi

Dan perjumpaan yang teramat singkat
ini
Biarlah kubawa serta ke negeri tropis
Negeri, di mana tangisan rakyat jadi
hiburan.

Setiap Pagi

(1)
Setiap pagi kurasakan derap rinduku
menjelma kereta fajar kenangan
lintasi sunyi, seberangi buku harian
bersampul hangat pelukan

Dari luar kelokan rel penantian
peluit cinta melengking dari semesta air
mata
hingga masinis hentikan laju perjumpaan.

Di stasiun pemberhentian sementara
dua helai rambutmu terentang
sepanjang helaan putih nafasku

(2)
Setiap pagi kusesap sisa keheningan
dari bibirmu yang dihinggapi debu malam
dan baju tidurmu bermotif awan masa lalu
menutupi sekujur tubuhku yang basah

Kuselipkan cecahan kaktus
ke dalam saku bernoda merah
bekal kelana jiwa masuki belantara hidupmu,
juga hidupku yang rawan.

(3)
Setiap pagi kupeluk gema keberangkatan
Dari siku kursi dengan motif kaktus
Sampai angin mendesau pilu, dan rindu
menderai

Kemarilah, kemari. Kalungkan selendang
cintamu
hingga jenjang leher senja tak tenggelam
dalam laju kereta rindu
menuju stasiun pemberhentian
hati yang malam

*) Mahwi Air Tawar, lahir dan besar di Madura. Saat ini tinggal di Jakarta. Karyakaryanya
yang sudah terbit antara lain; Blater, Karapan Laut, Taneyan, Tanah Air PuisiPuisi
Tanah Air, dan Lima Guru Kelana ke Lubuk Jiwa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mahwi Air Tawar
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 11 Februari 2018

0 Response to "Di Pelabuhan - Setiap Pagi "