Epitaf Pada Waktu - Pohon Kapas di Taman Kota - Inikah Sajak? - Di Ruang Tamu - Nocturno - Kerudung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Epitaf Pada Waktu - Pohon Kapas di Taman Kota - Inikah Sajak? - Di Ruang Tamu - Nocturno - Kerudung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Epitaf Pada Waktu - Pohon Kapas di Taman Kota - Inikah Sajak? - Di Ruang Tamu - Nocturno - Kerudung

Epitaf Pada Waktu

Di tanggal kelahiran
Beberapa daun tanggal dari ranting
Lantas diri di tiap catatan silam
Nyalakan lilin bukan untukku hari ini

Hari serasa makam
Nisan berjajar tersurat kisah-kesah
Yang ditulisi darah sendiri
Kususuri dan kubaca semua

Belum ada debu dari rambutku
Membuat musim kembali tumpah
Lantas buat bumi hijau, terbuka tuk ditulisi puisi
Belum ada kata-kata bangkitkan kota runtuh

Tuhan siapa mesti bahagia hari ini?
Selalu di tanggal kelahiran
Kulihat diri pada wajah kolam
Samar kini harus apa

Setelah jaman makin jauh
Makin samar diri mesti kemana
Orang tak lagi terasa lalu-lalang
Aku sendirian, ingin tiup nyala api
Di dada

2018


Pohon Kapas di Taman Kota

angin berlari kencang
dan kita berdiri di ini ladang
menatap kapas matang berjatuhan
macam hujan yang lembut

aku hampir kamu
melihat jiwa kita
yang pergi
banyak dan sakit.

2017


Inikah Sajak?

Inikah sajak?
Di mana kau menempati rumah
Bersama sanak keluarga
Ketika bulan dan bintang-bintang berkilauan
Di wajah kolam yang bergelombang

Menuntut puji dan penyerahan diri
Lantas matamu rela bertahun-tahun
Mengupas rahasia yang tak mungkin terungkap
Orang-orang yang meninggalkan sajak

Inikah sajak?
Di mana kau bisa berpesta
Bersma hal yang menurutmu sia-sia
Malam anggur, pagi vodka, bergoyang bersama

Inikah sajak?
Waktu yang tak pernah samar
Mengantarmu ke harapan-harapan
Atau membuatmu manusia kembali

2018

Di Ruang Tamu

-ibu

Seperti biasa tengah hari
Kau sering ceracau
Ingin jelmakan tiap benda di ruang
Menjadi pintu, aku dengarkanmu ibu

Inikah ruang ke masa lalu
Cinta lagi, tak ada hal lain
Ingin nikmati tahun-tahun
Milik waktu yang kita runtuhkan
Lalu kita bangun kembali:
Sebuah bukit
Rumah kayu di puncak
Rak kayu dengan potret kita
Anak-anak dan miniatur binatang

Aku ingin mengajakmu
Melihat bagaimana cinta
Melerai badai
Mengurai dingin
Menafsir hal-hal nihil
Jadi sebuah kebanggaan

Tapi, semua sudah tak miliki pintu
Samar bagaimana rupa cintaku
Ruang tak lagi miliki pintu
Benarkah semua ilusi?
Kuubah semua jadi pintu
Orang keluar-masuk
Entah ke ruang mana, samar

Kita sama diam
Kau ingin muda
Aku ingin tua
Di ruang sama kita buat
Semua benda jadi pintu
Ah, hari karnaval itu
Kita tertawa, nasib masih sama

2018

Nocturno

Lagi, kukelilingi kota
Saat malam tak kunjung
Menina-bobokan diriku
Malam laiknya aku menunggu

Di pertigaan, sunyi seperti
Arit digenggam penyamun
Yang kuhadapi, yang keliru
Sebab aku tak punya apa-apa

Kukatakan padanya
Apa arti jiwaku
Di mana awan kelabu
Lalu-lalang tak bertujuan

Kukatakan padanya
Malam datang bak pasukan berkuda
Menuntut bayang-bayang dari diriku
Kujelaskan semuanya padanya

Kukelilingi kota
Membayangkan ia ada di sisiku
Sekaligus bertanya ia sedang mengatakan apa kali ini
Ia sedang bersama siapa di jam ini
Ia sedang di negara krisiskah seperti negeriku
Ia sedang diburu penyamunkah sepertiku
Apakah ia sedang membayangkan aku macam aku
detik ini

Di hadapan penyamun yang menggenggam sunyi
Kukatakan bunuhlah diriku ya penyamun
Sebab duniaku telah samar seperti malam ini
Entah ia atau dunia yang telah jauh dariku
Aku tak bisa tidur, tuhan
Aku tak bisa tidur, Dara

2018

Kerudung

antara bintang dan bulan
yang membiru. sama-sama kami lihat
doa-doa terbang serupa layang
lepas dari genggam, lalu kami tak punya apa-apa.

malam masih terbang mengitari
bangkai-bangkai bocah gamis
sementara matahari anjing
berebut air dari mulut mereka.

hari itu, di sekitar puing panti
bocah-bocah cari mukanya sendiri
kutanya pada mereka
sudahkah kalian temukan mukaku?

rayagung yang limbung
adakah satu ledak bom lagi
untuk hari yang fi tri ini
alam masih berpadu, bernyanyi

tentang taman kota dan langit cemerlang
disorot matahari kuning tembaga
bunga-bunga mekar pada dada
yang sekarat, kesedihan yang sekarat.

hey, orang dewasa apakah hobimu mengacau
di negeri sekecil tubuh kami
bila begitu bunuh saja aku
bunuh nasibmu yang mungkin melekat padaku.

sebelum itu, tunjukkan di mana kerudung kami
kerudung kami. selembar kain
di mana dunia yang hijau
menggeraikan rambutnya seperti

orang-orang tua kami sebelum keranda
ingin kupakai kerudung sebelum keranda.

2017

Fajar Kliwon ,lahir di Bandung 30 Desember 1998. Bergiat di ASAS UPI. Aktif sebagai mahasiswa sastra di UPI. Beberapa karya dimuat dalam antologi bersama, di antaranya Koda Untuk Chet Baker (Literat, 2016) Cara Mencari Teman (SPK 2017). Menulis puisi, cerpen, dan esai. Kediaman terkini di Sekber Institute.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fajar Kliwon
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 25 Februari 2018

0 Response to "Epitaf Pada Waktu - Pohon Kapas di Taman Kota - Inikah Sajak? - Di Ruang Tamu - Nocturno - Kerudung"