Eustasius | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Eustasius Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:21 Rating: 4,5

Eustasius

LENIN mendengar suara berdebum. Ia bergegas keluar dan menemukan dirinya sendiri terkapar di atas rumput-rumput yang belum sempat dibersihkan. Diamatinya sosok itu, bagian-bagian yang tertelungkup di atas rumput tinggi yang menyemak karena telah lama tak dihiraukan. Sosok dirinya yang seperti baru saja terjatuh itu merasakan kakinya dingin, pipinya gatal seperti menyentuh ujung-ujung bunga digitaria; aromanya terhirup lembut. Ia merasa seekor serangga merangkak dari dalam tanah ke lubang telinganya, suara langkah serangga itu menggema di gendang telinganya. Ia bangun terperanjat, menemukan dirinya masih di dalam kamar…

Lenin duduk memiringkan kepalanya dan mulai mengorek-ngorek lubang telinga mencari serangga yang kini sudah terasa menapaki saluran eustasius-nya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rupa saluran eustasius yang sesungguhnya. Ia berharap serangga dalam telinganya kini menikmati perjalanan di dalam sana dan keluar membawa cerita yang mungkin menginspirasi Lenin untuk menjelajahi saluran eustasius orang lain.

Semenjak mendapat gagasan untuk menulis dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, Lenin mulai mendengar suara-suara khayalan-seakan suara itu keluar dari otaknya dan masuk lagi melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius, memukul gendang telinganya dan kembali masuk ke dalam sumber di mana suara itu berasal. Ia sedikit terkejut karena ternyata tak hanya mendengar suara khayalan. Ia pun mampu melihat wujud khayalannya. Saat itu ia sedang asyik menghitung rumus-rumus fisika dasar yang berhubungan dengan jatuhnya sesuatu yang dipengaruhi oleh gaya tarik bumi. Di pangkuannya ada modul perihal Hukum Newton dengan tinta warna hitam tebal, angka-angka yang hampir tak terbaca, formulasi rumus berjajar membentuk kerumitan tanpa garis, tanpa kalimat yang bisa dieja untuk mengerti dari mana datangnya angka 200 dari akar 400. Sebelum suara itu terdengar, ia sampai pada pengamatan tentang gerak suatu dimensi. Di bagian itu ia tertarik pada prinsip gerak jatuh tanpa hambatan. Prinsip itu menjelaskan, jika sebuah benda jatuh dari ketinggian tertentu dengan besar kecepatan 0, maka seutuhnya benda itu akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi.

Lenin mulai menduga seberapa tinggi gedung apartemen tempat Veronica tinggal. Saat ia masuk ke dalam apartemen wanita itu, ia melihat angka terbesar pada lift berhenti pada 15 dengan menghilangkan angka 13-ia yakin bahwa siapa saja yang merancang atau membuat gedung itu pastilah seorang penderita triskaidekafobia-jadi ada 14 tingkat secara keseluruhan. Jika masing-masing tingkat dari apartemen itu memiliki ketinggian 2,5 m, maka tinggi keseluruhan bangunan itu adalah 35 m. Kemudian ia bayangkan menempatkan dirinya di atap gedung itu dan membiarkan dirinya ditarik gravitasi seperti apel yang jatuh di hadapan Newton. Ia mulai menghitung berapa lama waktu yang diperlukan hingga tubuhnya terhempas di atas permukaan tanah; t =  dengan kecepatan gravitasi sebesar 10 m/s2, ia hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 detik untuk terhempas ke permukaan tanah. 3 detik cukupkah untuk mengingat semua kehidupan yang pernah dijalaninya? Hanya 3 detik dan kematian yang dirindukan akan datang menghampiri? Sesingkat itukah memanggil kematian? Telinganya berdenging mendengar suara dentuman keras melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius dan memukul gendang telinganya. Lenin terperanjat mendengar betapa nyatanya suara itu. Ia berlari keluar dan menyaksikan tubuhnya sendiri terlungkup di atas rerumputan..

Beberapa malam sebelum Lenin mulai mempelajari rumus-rumus yang berhubungan dengan gravitasi, gerak, dimensi, kejatuhan atau apa pun itu, ia telah terlebih dahulu jatuh cinta pada Veronica. Wanita ini mampu membuat Lenin memikirkan hal-hal yang tak pernah dipikirkan; termasuk memikirkan wanita itu hampir setiap saat meski pada awalnya ia tak pernah memikirkannya sebelumnya, tepatnya tak pernah sekeras itu. Lenin mengeja nama wanita itu bagaikan membaca sebaris ayat suci; dengan lembut dan penuh rasa haru. Pada malam-malam ketika ia tak bisa tidur karena apa pun, bayangan Veronica menjadi selimut lembut menyelubungi dan membuatnya nyaman. Saat dalam kebimbangan dan kesulitannya menemukan pembenaran, Lenin seringkali menemukan perkataan Veronica menjadi fakta yang absolut. Lenin akan selalu terpesona pada apa pun yang dilakukan Veronica; akan selalu mendengarkan perkataan Veronica dengan antusiasme yang terkadang berlebihan. Ia akan selalu mengamati setiap detail pada wajah dan tubuh wanita itu, memeriksa kembali detail-detail yang luput dari perhatiannya sebelum melepas wanita itu dengan pelukan hangat.

Beberapa malam lalu mereka bertemu di “sarang” mereka-Lenin menyebutnya begitu. Veronica telah menyiapkan makan malam dan mereka duduk berhadap-hadapan. Tak ada hujan hari itu. Lenin juga tak bisa melihat bulan karena jendela di belakang Veronica mengarah ke kegelapan. Lenin merasa hatinya penuh.

“Betapa menyenangkan melihat kau menikmati makananmu.”

“Benarkah?” Veronica mengangkat tatapannya ke wajah Lenin, matanya yang coklat bagaikan memancarkan hangat matahari ke dalam hati Lenin.

“Sungguh, aku selalu menyukainya.”

“Kadang aku merasa sedikit aneh jika kau perhatikan seperti itu, kau seolah-olah sedang melihat sekuntum bunga purba yang sedang mekar.”

“Kau benar,” Lenin tersenyum dan melihat Veronica benar-benar menjadi sekuntum bunga purba yang begitu rapuh dan indah dengan semua kenangan yang terkatup dalam kelopak-kelopaknya. Rambutnya menjuntai bagai benang sari yang mengikat nasib para bayi yang belum menemukan pintu masuk ke dunia ini.

“Kau benar. Kau seperti sekuntum bunga purbakala yang sedang mekar dan selamanya akan mekar karena kau tak tersentuh waktu.”

Mereka tersenyum dan kembali menikmati makanan tanpa suara atau percakapan, itu membuat Lenin semakin jatuh cinta padanya; ketenangannya yang lambat seperti ketika langit jingga senja hari berubah gelap. Lenin bersyukur karena mampu menikmati ketenangan itu dari wajah Veronica. Saat acara makan malam yang khidmat itu selesai, mereka akan memulai percakapan perihal apa saja, apa saja bagi Lenin berarti Veronica dan semua hal tentang dirinya. Jadi ia selalu berharap Veronica menceritakan sesuatu tentang buku-buku yang dibacanya, tentang burung yang hinggap pada tali temali yang ia lihat entah di mana, tentang arwah nenek moyang yang menginjak kakinya, tentang seorang laki-laki yang baru kembali dari rantauan dan lupa mengeja nama desanya, tentang sejarah seekor belatung atau nama mahoni, tentang film yang telah ditontonnya malam lalu, tentang seorang sutradara dan aktor serta aktris favoritnya, tentang musik dan keinginannya mengumpulkan semua album yang dimiliki oleh semua musisi yang dikenalnya, tentang seseorang yang memberinya vodka saat udara begitu dingin menusuk hidungnya yang manis. Apa saja berarti kemungkinan yang selalu menggairahkan. 

Begitulah, malam itu Veronica bercerita tentang buku yang ia baca, buku itu menyita perhatiannya. Veronica adalah seorang penulis. Jadi, apa pun yang ia katakan tentang buku, cerita, atau puisi akan terdengar begitu hidup dan nyata. Ia mulai bersemangat menceritakan tentang cerita yang sedang ditulisnya. Cerita itu berkisah tentang upaya bunuh diri seorang wanita dengan cara melompat dari jembatan. Dalam cerita itu ia menuliskan bahwa tokoh yang ingin bunuh diri itu berusaha menghindari tatapan orang lain agar tak ada siapa pun yang melihatnya. Secara tidak terduga ia menemukan hal serupa dari buku yang dibacanya malam sebelumnya. Buku itu juga berkisah perihal seorang yang melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat dari jembatan. Bedanya, karakter dalam cerita Veronica tidak berhasil melompat karena ada seorang ibu baik hati yang berusaha menolongnya, sedangkan karakter dalam buku itu berhasil melompat dan berusaha mati. Karena Lenin sangat ingin menjadi bagian dari apapun yang Veronica pikirkan, ia mulai berpikir untuk menulis cerita tentang seseorang yang ingin bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan.

Pertemuan terakhir dengan Veronica itu terus mengganggu Lenin hingga ia memutuskan menulis cerita tentang dirinya sendiri.

“Lenin Endrou duduk termenung menatap dahan pohon yang berayun. Di dalam kepalanya keinginan untuk bunuh diri begitu kuat. Ia pernah menyaksikan orang-orang yang begitu putus asa hingga memutuskan untuk bunuh diri, ia memikirkan hal itu hingga tertidur dan ia bermimpi dirinya jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Ia menyadari dirinya jatuh tepat seperti adegan dalam film garapan Federico Fellini di mana tokohnya diikat dengan tali seperti layangan, terbang di atas hamparan laut di bawah langit abu-abu, kemudian jatuh karena orang yang memegang tali itu menarik-nariknya, memaksanya turun. Ia merasa terhempas di atas digitaria dan seekor semut masuk ke dalam telinganya.”

Saat mengetik tanda titik, Lenin tahu ia belum sempat menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan tubuhnya untuk menyentuh tanah, ia juga belum menetapkan di mana tempat karakter-dirinya itu harus melompat; karena jembatan-jembatan telah digunakan oleh Veronica dan seorang pengarang besar yang bukunya telah dibaca Veronica. Hal lain yang membuatnya beralih dari angka-angka dan hitungan adalah alasan apa yang kira-kira masuk akal bagi karakter-dirinya itu untuk melakukan upaya bunuh diri?

I Still Can’t Sleep dari Bernard Herrmann mengalun dari pemutar musik terpantul pada dinding-dinding kamar yang menjaga imajinasinya. Lenin baru ingat ia telah memutar lagu itu berulang-ulang semenjak tadi. Tepat sebelum adegan Robert De Niro mulai bercerita tentang bagaimana buruknya kesepian dan masalah susah tidurnya, Lenin menutup mata. Ia mulai melihat dirinya berada di puncak sebuah apartemen. Angin dingin menggoyangkan tubuhnya sebelum ia terjatuh begitu dalam.

Maywin Dwi-Asmara, penulis cerpen dan peneliti. Tahun 2014 mendapat researchfellow dari salah satu universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Ia berkhidmat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Maywin Dwi-Asmara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 24-25 Februari 2018

0 Response to "Eustasius"