Hujan Cahaya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Hujan Cahaya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:58 Rating: 4,5

Hujan Cahaya

SAIF Rohmah namanya. Namun kalangan pesantren dan masyarakat Bojonegoro memanggil dia Gus Saif. Dengan perawakan gagah dan rambut gondrong, Gus Saif tampak sangar. Namun dia rendah hati, sangat rendah hati, dan suka humor.

Dia mengelola pesantren warisan dari Mbah Abu Darrin, yang diwariskan kepada ayahanda Gus Saif, Mbah Dimyati Adnan. Sekarang Pesantren Abu Darrin mendidik ribuan anak bangsa dari berbagai kota serta masyarakat sekitar sebagaimana pesantren umumnya. Upaya besar itu didukung seluruh anak-cucu Mbah Adnan, termasuk Gus Saif.

Semula Gus Saif hanya suntuk di dalam pesantren, tidak pernah keluar. Itu berlangsung puluhan tahun. Sesekali dia bersandal theklek dan tongkat kesukaan berjalan- jalan di seputar pesantren. Dia tidak pernah keluar, antara lain, karena menjadi salah seorang anak yang dekat dengan sang ibu. Setiap dini hari secara rutin dia memandikan sang ibu untuk sembahyang malam.

Namun karena sering kedatangan warga masyarakat yang mengeluhkan keadaan langgar atau masjid mereka yang sepi, Gus Saif mohon izin dari sang ibunda dan diperbolehkan. Dengan catatan, tetap sebelum subuh pulang untuk melakukan kebiasaan bersama sang ibu.

Bagai Gusti Kanjeng Nabi Muhammad di Makkah, saat Gus Saif hanya di dalam pesantren selama ini. Atas izin ibunda, dia berangkat membuka pengajian di luar pesantren, seperti zaman Nabi pada era Madinah, turun gunung membangun peradaban. Tak tanggung-tanggung, selama selapan Gus Saif memiliki pengajian rutin di seluruh wilayah Bojonegoro. Ada 120 acara rutin.

Praktis, dia menghabiskan umur untuk menyambangi pengajian rutin sebanyak itu. Ketika ditanya pendapat soal keliling pengajian itu, sang istri tersenyum sambil menyatakan, “Asal aku dibagehi, tidak lupa pesan Ibu.” 

Gus Saif paham soal kata “bagehi” dari sang istri, karena dia sangat berbakat bergurau soal yang satu itu. Namun saat disebut tentang sang ibu, habis sudah hatinya; nyawa sekalipun dia serahkan asal sang ibu meridai dia. 

Wilayah Bojonegoro luas, sehingga butuh tenaga ekstra dari Gus Saif. Namun dengan beberapa santri yang mengikuti dan kadang membantu menggantikan dia jika berhalangan, semua berjalan dengan ringan dan asyik. Tidak semua perjalanan berjalan mulus. Namun kadang-kadang ada yang menjadikan hati Gus Saif nyeri. Karena di satu sisi ada yang menyambut dengan sukacita, ada pula yang acuh tak acuh. 

Soal terakhir itu, pernah terjadi di sudut wilayah yang jauh. Untuk ke sana butuh waktu dua jam dari pesantren. Sejak lama dia sudah menelateni, tetapi kurang mendapat respons. Suatu sore, saat Gus Saif datang ke masjid tempat pengajian digelar, tak seorang pun hadir. Padahal, dia datang sendirian.

Sementara di luar hujan deras mengguyur. Secara manusiawi batin bicara, apa sebaiknya menutup saja rutinan itu. “Tidak,” jawab batinnya pula. “Tidak!” 

Untuk menyiasati keadaan, saat menunggu magrib dalam suasana hujan, dia bermunajat di masjid sambil menangis. Saat dalam tangis membayang riwayat Gusti Kanjeng Nabi Muhammad ketika mengajak ke arah kebaikan atau dakwah sering, bahkan kerap, menerima keadaan lebih mengerikan daripada yang dia alami. Itulah api cinta yang membakar hati Gus Saif, lalu tumbuh semangat menggelora dan menyala serta berkobar menjadi tenaga luar biasa. 

Saat magrib tiba pun tak seorang warga kampung yang nongol. Serta-merta Gus Saif menyalakan amplifier, mengambil mikrofon, lalu melantunkan azan. Suara parau Gus Saif terdengar di telinga orang-orang kampung, menerobos deru suara hujan. Setelah itu Gus Saif melakukan pujian sendirian, hingga iqamat. Salat sendirian, wiridan sendirian. Saat berdoa usai sembahyang, Gus Saif tak mampu membendung air mata. Doanya panjang, tangisnya panjang. 

“Gus,” panggil seseorang. 

Suara panggilan lirih terdengar dari belakang. Gus Saif masih larut dalam doa dan tangisan. Saat Gus Saif selesai dan menoleh, ternyata imam masjid yang datang. Imam itu merangkul Gus Saif sambil mengisak tangis. 

“Maafkan aku, Gus, maafkan. Hujan badai begini ternyata engkau datang juga.”

Gus Saif tak marah atas kejadian itu. Cinta di hatinya menjadi keramahan; ramah disertai tangisan. Beberapa orang menyusul sang imam ke masjid dan larut dalam tangisan. 

Gus Saif berdiri untuk berpamitan. Orang-orang mengadang. “Jangan pergi dulu, Gus. Di sinilah sebentar, jagong sebentar.” 

Mboten, saya harus pamit karena orang-orang di tempat lain sudah menunggu. Besok selapan lagi saya tetap datang,” janji Gus Saif menenangkan mereka dari tangisan. Dia keluar dari masjid saat hujan masih deras mengguyur.

Gus Saif masuk ke mobil Taft dan meluncur menerobos hujan. Namun hujan yang turun terasa ke hatinya sebagai hujan cahaya, lebih deras dari hujan air. Sepanjang perjalanan Gus Saif bagai Majnun terusir dari rumah Layla. Betapa berat dia meninggalkan masjid yang bagus, tetapi sepi itu. 

Saat mobil melaju, dia tak bisa membendung air mata. Makin dia usap dengan serban, hatinya kian keranta-ranta. Makin deras air matanya mengalir. 

“Duh, Gusti,” doa Gus Saif dalam hati. “Panjenengan dandosi manahipun masarakat mriki. Dalem saderma ngrencangi supados masarakat sesarengan saget caket dateng Paduka. Duh, Gusti.” 

Benar, hujan air yang turun saat itu adalah juga hujan cahaya yang turun ke hati masyarakat. Saat Gus Saif mengadakan acara seratus hari atas kematian sang ibunda, rombongan terbanyak datang dari daerah itu. Saat mereka datang, diwakili sang imam bilang pada Gus Saif. “Inilah kami semua sowan, 200 orang. Mereka menyatakan akan hadir pada selapanan besok. Mereka satu per satu datang ke rumah saya, Gus, sambil menangis, menyesali diri atas peristiwa selapan lalu.”

 Gus Saif memandang mereka dengan mulut terkatup. Lalu memandang ke atas langit, pandangan jauh, dengan air mata mengalir. 

“Inggih, inggih, matur nuwun atas rawuh Panjenengan sedaya.” Lalu mereka menghambur ke pengajian seratus hari ibunda Gus Saif, malam itu. (44)

Catatan:

Theklek: kasut dari kayu, bakiak. 
Selapan: siklus 35 hari dalam hitungan atau penanggalan Jawa. 
Bagehi, dibagehi: memperoleh bagian, jatah. 
Jagong: duduk bersama untuk mengobrol atau berbincang. 
Mboten: tidak, tak, bukan. 
Keranta-ranta: nelangsa, sedih. 
Panjenengan dandosi manahipun masarakat mriki. Dalem saderma ngrencangi supados masarakat sesarengan saget caket dateng Paduka: Engkau sadarkanlah hati masyarakat di sini. Saya cuma membantu agar masyarakat bersama-sama bisa mendekat kepada- Mu. 
Sowan: bertandang, menghadap. 
Inggih, inggih, matur nuwun atas rawuh Panjenengan sedaya: Iya, ya, terima terima kasih atas kedatangan Anda sekalian.

- Budi Harjono, kiai pengasuh Pesantren Al-Ishlah Meteseh, Tembalang, Kota Semarang. Buku puisinya yang telah terbit Pusaran Cinta (2013). Kumpulan cerpennya yang segera terbit Kafilah Cinta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Harjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 4 Februari 2018

0 Response to "Hujan Cahaya"