Jejak Malam - Percakapan Rahim 2 - Percakapan Rahim 4 - Risalah Doa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Jejak Malam - Percakapan Rahim 2 - Percakapan Rahim 4 - Risalah Doa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 00:25 Rating: 4,5

Jejak Malam - Percakapan Rahim 2 - Percakapan Rahim 4 - Risalah Doa

Jejak Malam

Jejak malam. Malam berjejak. Aku luruh dalam auman lukamu. Auman cinta
yang tak bertepi, tak berperi. Cinta yang kau tanam di gang sempit itu, tumbuh
subur jadi hama hidupku. Aku dan kamu, hanyalah bingkai-bingkai kecil yang
tak pernah tertata rapi. Tak pernah selesai dibangun oleh jiwamu dan jiwaku.

Di gang sempit itu, kau membisu, beku dan kelu. Bibirmu terpasung
kata. Sunyi adalah pilahan. Sunyi adalah pilihan. Pilahan dan pilihan itu,
mengusung jarak batas antarkita. Batas jasadku dan jasadmu yang tak
pernah berujung pada dipan panjang, tempat kita menabur benih cinta.

Di sini, di gang sempit, aku merindu lenguhmu. Merindu keluhmu. Merindu
desah napasmu ketika tubuhmu terbujur kaku tanpa busana di perjalanan
malam. Aku tetap mengenangmu dari jauh, di antara kepingan puzzle,
kepingan lego, yang tak pernah berhenti mencari batas kesempurnaan.

Percakapan Rahim 2

Larut di sela sujudku
Rambah kedalaman rahimmu
Rindu jalari tubuhmu, dekap tubuhku

Rambutmu luruh ketika airmatamu
jatuh satu per satu di atas sajadah.
Kau bicara soal sujud yang tertunda
dan malam yang tak lagi bercahaya.

Wajahmu kusam ketika hutan-hutan
terbakar di telingamu. Akar-akar
rumput dan warna tanah
menangis.

Percakapan Rahim 4

sore hari, debu di Karbala dan Najaf,
seperti jejak kaki yang tak lagi tersisa
oleh mimpi-mimpimu. Jari-jemarimu abadi
ketika hujan tumbuh di lenganmu
aku menyelam di kedalaman rahimmu
menanam benih dari sudut-sudut kota
yang tak lagi alirkan gelombang laut.

bersama rumput-rumput laut,
ketika hujan jatuh di jalanan Kota Pompei
aku arungi rahimmu di bawah cemara yang patah
memeriksa tubuh yang makin memerah
hinggap di akar-akar laut
menuju pembaringan tidurmu.

Risalah Doa

Kepingan rohku, kepingan jasadku,
kepingan lukaku, adalah risalah doa
yang tak bertepi. Terbujur kaku di atas
sajadah panjang tanpa suara. Tanpa
bisik angin yang menyelinap dari
rongga hidupku. Aku menemukan
hening tanpa bening dalam
risalah doa-doa malamku.

Januari 2018

Edy A. Effendi, selain menulis puisi, juga seorang jurnalis. Kini mengelola sebuah portal online dan mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Edy A. Effendi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 11 Februari 2018

0 Response to "Jejak Malam - Percakapan Rahim 2 - Percakapan Rahim 4 - Risalah Doa"