Langit Tanpa Warna | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Langit Tanpa Warna Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:26 Rating: 4,5

Langit Tanpa Warna

APA itu kebenaran? Hal yang kita percayai sedari kecil? Yang nampak dari mata dan indera? Yang kau baca dari realita? Apa itu kebenaran?

Itu pertanyaan pertama yang kami terima di sekolah di negeri Langit Merah Muda. Tak semua orang seberuntung kami. Negeri Langit Merah Muda memang selalu percaya bahwa fungsi dari sekolah bukan untuk menjejalkan ilmu ke dalam kepala, melainkan hal yang lebih sulit lagi dari itu: untuk menundukkan ego. Membentuk pola pikir bahwa manusia sungguh tak tahu apa-apa. Karenanya keberhasilan produk pendidikan tidak ditentukan oleh otak yang penuh pengetahuan melainkan semakin merunduknya ego para ilmuwan, semakin terbukanya pada gagasan baru, dan semakin tidak keberatan mempertanyakan gagasan lama.

Aku menghentikan jemari yang sibuk menari sedari tadi di atas laptop. Kuangkat kepala mengamati sekitar. Siang sudah lama menunjukkan batang hidungnya, tapi tidak dengan para undangan. Seharusnya konferensi para ahli dari berbagai negeri ini sudah dimulai sedari tadi. Aku sendiri datang mewakili negeri Langit Merah Muda sebagai insinyur. Di sebelah fraksi kami, terlihat perwakilan negeri Langit Ungu. Di sisi lain ruangan ini ada pula mereka dari negeri Langit Kelabu dan negeri Langit Biru. Kami dibagi berdasarkan bagaimana kami melihat langit. Kami tinggal bersisian pulau yang hanya terpisahkan sejumput lautan.

Entah bagaimana kami bisa melihat satu hal yang sama dengan berbeda: langit. Aku bisa memaklumi mereka yang bilang langit ungu. Mungkin mereka salah lihat atau sedikit dungu. Ungu dan merah muda memang sedikit saru. Tapi biru? Bagaimana bisa ada yang salah tangkap bahwa merah muda itu biru? Sebagai orang yang berpendidikan, aku takkan mengeluarkan komentar apa pun keras-keras, namun dalam hati kami yang tinggal di negeri Langit Merah Muda meyakini sepenuhnya bahwa mereka memang sedikit sakit jiwa.

Kini kami tengah dikumpulkan untuk membahas pembangunan jembatan antarnegeri. Bagaimanapun juga, segila-gilanya mereka, negeri Langit Biru masih penghasil makanan dengan cita rasa terbaik seantero jagat raya. Tak ada pula yang mampu menghasilkan para pemikir serta buku-buku sarat ilmu dan kebijaksanaan layaknya negeriku, negeri Langit Merah Muda. Jangan juga ditanya isi kepala yang bisa menandingi film-film dan lagu-lagu melankolis dari negeri Langit Kelabu. Kami semua saling membutuhkan.

Sayup-sayup, terdengar sorak-sorai para demonstran dari luar gedung. Banyak memang yang menentang pembangunan jembatan ini. Banyak alasannya, aku paham ketakutan itu, meski tak sepenuhnya setuju. Membuka pintu untuk orang-orang berpandangan lain sering kali membuat orang takut. Mereka takut tercemari. Mereka takut anak-anak kecil bermain dengan ide-ide baru yang tidak sesuai dengan ajaran orang tuanya. Mereka takut mempertanyakan sesuatu yang telah mereka percayai seumur hidup. Butuh seumur hidup untuk berani, bahkan bisa beberapa generasi. Tak apa.

Sidang belum juga dimulai. Punggungku yang sudah duduk nyaris seharian ini mulai pegal karena duduk terlalu lama. Perlahan aku bangkit, memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke taman sebelah gedung. Kapan lagi aku bisa melihat-lihat negeri Langit Biru di musim semi. Pemandangan yang cuma bisa kami lihat dari foto-foto belaka.

Benar saja, yang pertama menyambutku adalah hamparan bunga dan cuitan burung-burung. Kupu-kupu terlihat berpesta di setiap sudutnya. Tanah yang subur luar biasa memungkinkan rakyat negeri Langit Biru untuk bisa menanam apa pun yang mereka suka. Taman mereka ada di mana-mana.

Kutapaki jalan dengan canggung. Meski taman ini ramai penuh tawa dan manusia, aku tak bicara pada siapa-siapa. Orang-orang lebih memilih menyeberang dan menyusuri jalan lain atau berbalik demi menghindariku. Pakaian dan penampilan fisikku memang khas dari negeri Langit Merah Muda. Aku berkulit putih pucat dengan rambut yang dibiarkan terurai panjang, sedangkan rakyat di sini berkulit hitam legam dengan rambut ikal pendek, baik wanita maupun laki-laki. Aku mencolok dan aneh di sini.

“Kyaaa!” seorang bayi di kereta dorong sebelah tertawa kala ia lihat wajahku. Tawanya mau tak mau menular. Aku pun terkekeh. Kusodorkan bunga yang kupetik, segera ia terima dengan gembira. Disorongkan hidung mungilnya ke bunga itu berkali-kali, setiap kalinya diiringi tawa, yang lagi-lagi tersebar hingga ke kedua sudut bibirku.

Kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Sang ibu akhirnya sadar, ia segera merebut bunga itu dan membuangnya dengan curiga sambil bergegas pergi. Dari kejauhan, bayi itu melambaikan tangannya padaku. Ia tak peduli warna kulitku, ia tak peduli asalku dari mana. Seandainya saja semua bisa seperti itu.

Aku menghela napas sambil menatap langit. Teringat ibu bapakku yang tak suka aku bergabung dengan perjuangan ini.

“Nanti mereka cuci otakmu sampai kau jadi gila! Bisa-bisa kau lihat langit warnanya biru!” Bapak menentang paling keras.

“Nak, apa kau tak pikirkan dosamu nanti? Kau bangun jembatan, nanti masuk paham-paham yang bisa merusak generasi muda kita. Nanti mereka sakit jiwa semua, sama seperti yang lihat langit biru, bahkan kelabu.” Ibu sempat membujukku untuk tidak berangkat.

Sudah puluhan kali kukemukakan alasanku. Aku ingin semesta yang damai, tanpa peduli warna apa yang kita lihat di atas sana. Kukemukakan betapa bergunanya jembatan itu untuk semua orang. Sebenarnya kita bisa membantu rakyat negeri Langit Kelabu ketika mereka terkena bencana gempa yang memakan jutaan nyawa, hanya dengan membuka pintu. Kala itu kami tengah panen dan berlebihan makanan. Kalau jembatan ini sudah jadi, pertolongan akan datang dengan mudahnya. Kelak pertanyaannya bukan lagi perkara bisa atau tidak, hanya sekedar mau atau tidak. Setidaknya aku ingin bantu menuntaskan satu perkara itu.

Atau mungkin… tak sesederhana itu. Batinku mengusik. Wajahku bersemu. Kutengok kanan kiri, untungnya tak ada yang memperhatikanku.

Mungkin kau ingin bertemu dengan seorang penulis dari negeri Langit Kelabu, goda entah siapa yang bersuara di dalam kalbu. Bukan penulis biasa, wanita itu berpikiran terbuka dan berpengetahuan luas. Wanita pertama yang tahu filsafat melebihi ibuku sendiri. Pembangunan jembatan tentunya akan memperlancar surat-suratnya yang harus kutunggu sebulan sekali itu. Tapi itu bonus, sumpah setengah mati, itu sekedar hadiah tambahan yang bukan tujuan utama.

Baru sesaat larut dalam lamunan, seketika terdengar suara letusan. Aku berlari kembali ke gedung pertemuan, mengingat semua barangku ada di sana. Laptopku yang berisi tulisan-tulisan. Langkahku terhenti. Mataku terbelalak menyaksikan kericuhan yang terjadi. Yang terlibat bukan hanya pria orang dewasa, tapi juga anak kecil dan kaum wanita entah dari mana.

Beragam orang dari berbagai negeri bercampur aduk, sayangnya bukan untuk urusan yang baik, bukan pula dengan hati yang bersih. Bayi yang beberapa saat yang lalu bercanda denganku kini menangis dalam pelukan ibunya yang tak lagi memiliki kepala. Kenapa nyawa orang lain seketika lebih rendah nilainya dibanding nyawa kita, hanya karena mereka melihat langit dengan warna berbeda?

Kutatap sekali lagi bayi yang tak tahu apa-apa itu. Sial sekali hidupnya. Ia tak pernah minta dilahirkan di negeri ini, di mana semua orang melihat langit berwarna biru. Kalau boleh memilih, bisa jadi ia akan minta dilahirkan di negeri Langit Kelabu. Dan kalau ia tinggal di situ, bisa jadi pula ia melihat langit kelabu, bukannya biru. Tanganku menjangkau, hendak meraihnya ke dalam pelukanku, ketika sebuah meja besi menghantamku.

Aku jatuh dengan kepala terbentur terlebih dahulu. Ada sesuatu yang terjatuh dari mataku. Kucermati dengan seksama sambil bergegas memeluk sang bayi. Semacam lensa kontak. Warnanya bersemu merah muda.

Kepalaku berputar keras demi mengingat sesuatu, apa jangan-jangan ini yang dipasang oleh para tetua di setiap ritual untuk bayi-bayi baru lahir? Segera kuamati bayi yang ada dalam pelukanku. Sambil berdoa semoga dugaanku benar, perlahan dan hati-hati, kusentuhkan jemariku ke bola matanya. Ada lensa kontak juga di sana! Kulepaskan pelan sambil menahan napas. Lensa kontaknya bersemu biru. Dengan gemetar, kubuka lensa kontak di mataku yang satu lagi. Kutatap langit dengan segenap keberanian yang tersisa.

Langit tak lagi merah muda. Ia tak berwarna!

Aku berlari dengan napas terengah dan jantung berdebar ke arah mimbar. Harus kusampaikan! Harus kusampaikan bahwa segala pertengkaran ini tak perlu. Kita semua terpenjara dalam jeruji yang kita ciptakan sendiri!

Kuraih mikrofon dengan semangat. Semua baku hantam terhenti. Yang tengah mengangkat kursi, menurunkannya untuk sesaat. Yang hendak membakar buku-buku, mematikan apinya. Kususun kata-kata sedemikian rupa, dengan berhati-hati, dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya.

Bodohnya aku lupa. Tak semua orang seberuntung kami yang bersekolah. Tak semua dibesarkan untuk menerima, untuk bertanya, untuk terbuka akan gagasan baru dan mempertanyakan gagasan lama. Ucapanku lewat begitu saja meski sudah kusodorkan bukti: lensa kontak yang dipasang di mata kami sedari kecil. Kupinta mereka melepaskannya sekedar untuk membuktikan.

“Bohong! Kita semua tahu kalau lensa kontak ini dilepas, kita akan mati!”

“Aku tidak mati. Lihat aku,” menunjukkan bukti terbesar yang ada, aku berdiri, aku bernapas keras-keras agar semua bisa dengar bahwa aku hidup. Kuperlihatkan pula lensa kontak yang ada di bayi dalam pelukanku.

Beberapa orang terlihat ragu. Kulihat seorang wanita melepaskan cengkeramannya dari pisau dan mencoba menyentuh matanya.

Tiba-tiba sebuah parang melintang tertancap di dadaku. Darah mengucur. Bayi dalam pelukanku ketakutan.

“Jangan mau dengarkan orang gila ini! Dia gila! Mau merusak kita! Langit itu biru…” Belum selesai ia bicara, seseorang meletuskan pistol ke arah kepalanya.

“Salah, ia kelabu!” Lalu mereka kembali saling bunuh. Seperti lingkaran setan yang tak ada hentinya.

Aku terbaring di sisi bayi itu. Aku meminta maaf segenap hati akan ketidakmampuanku menyediakan dunia yang lebih ramah akan perbedaan untuknya kelak. Sudut mataku menangkap beberapa orang yang ragu tadi diam-diam membuka lensa mereka dan berlari keluar menyelamatkan diri.

Aku tertawa lega. Peranku tuntas sudah. Kutanamkan sekedar ragu, sekedar keinginan untuk mempertanyakan, sudah cukup. Sisanya biar orang lain yang meneruskan.

Kuhabiskan napas yang tersisa sambil menatap langit yang tak berwarna. Bertanya-tanya apa langit peduli pada nyawa-nyawa yang hilang karenanya?

Apa langit benar-benar ada?

Lalu gelap. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zhizhi Siregar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 4 Februari 2018

0 Response to "Langit Tanpa Warna"