Lorong Jiwa Senyap | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lorong Jiwa Senyap Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:00 Rating: 4,5

Lorong Jiwa Senyap

AKU lelah berharap,” gumamku, dalam renungan—seperti baru selepas kencan short time. Sesuatu yang rutin dilakukan, tapi aku tak ingat, yang mana, di mana, serta (terutama) siapa gadis yang dibayar itu—aku tidak pernah ingin menemukannya lagi di bar, di mall, dan di manapun. Melulu hanya kontak, komunikasi, ereksi, dan tuntaslah. Tapi benarkah itu hanya hubungan profesional?

Lelah? Mungkin karena tadi bergegas ke Periuk Wesi—dari mobil—, menerobos gerimis rinai sejak sore. Di lobi menepiskan basah dari punggung jaket—dipakai untuk mengaling kepala—, mengibaskan bintik thujan dan mengenakannya lagi, meski pasti lembab. Sekilas menyimak penampilan diri di pintu kaca, sebelum pasti memperbaiki penampilan di toilet. Tapi kapan kencan terakhirku?, pikirku sambil menelusuri gang berteratak ke pondok makan terpisah. Menyelinap ke balik meja, untuk menghenyak, bersila di posisi langsung menghadap ke gang berteratak—ngungun dikurung gerimis.

Tapi apa Dina memang akan datang, menepati janji meski ia mungkin tak suka Periuk Wesi—nasi liwet dan lawuh tradisionalnya? Pelayan datang dengan kartu menu. Sambil menerimanya aku bilang, kalau aku mau makan, tapi masih menunggu teman, karena itu hanya minta kopi serta dua pisang bakar keju. “Semoga tidak terlalu telat,” kataku. Pelayan berblus putih dan rok biru itu mengangguk santun. Berlalu membawa pesanan (ringan) itu dalam ingatan, untuk disampaikan ke dapur sambil sekalian jalan ke kasir dan mencacat dalam bon pesanan.

Audio jempol menyebabkan suara lirih George Michael—“Careless Whispers”—bagai bisikan, samar tapi jelas. Intim. Misterius. Laiki langkah lelah menjauh di gang senyap, menjauh karena si seseorang sadar tujuan dan tidak akan bisa dicapai—sedang titik keberangkatan enggan ditelusuri, untuk awal satu perjalanan penyesalan. Sebuah dilema. Momen simalakama. Tapi bukankah di kemarin ia yang memilih waktu, dan mempersilahkan aku untuk memilih tempat serta menu? Kini semua sudah terlanjur—sedang gerimis mempercepat kelam. Kini aku hanya berserah pada kodrat menunggu: apa kencan mendapat kepastian, atau malahan batal. Tapi siapa sesungguhnya Dina? Kenapa ia mendadak jadi terasa intim?

***
DI Southren Steak, ketika terhenyak memrasakan lapar memuncak saat pelayan berlalu dengan kartu menú, saat telah dengan pasti minta steak dan bir, penjaga pintu, datang menyerahkan kartu nama. “Buat bapak,” katanya—menyatakan itu dari wanita yang tadi berpapasan di pintu. Aku terhenyak. Yang mana? Tadi ada dua wanita serta satu pria bercakap depan pintu, menunggu Camry mendekat. Si yang bersigaun merah atau yang bergaun biru? Cantik mana? Tak ingat. Tak bisa mengingat—meski aku tetap senyum, rutin mengucapkan terima kasih—reflek seperti yang diajarkan Nu Profile

Tertulis dengan tinta keemasan: Dina Galura Aya; nomor HP—tanpa ada telepon serta alamat rumah—, serta telepon dan alamat kantgor. Di sebaliknya tertulis, Call at 22.00. Tersenyum. Mengeluarkan dompet—pelan disiselipkannya di soket peruntukan kartu. Mengembalikannya. Meraih rokok, meloloskan sebatang, serta mulai memijiti—mensidorong irisan tembakau yang terlalu padat di suatu tempat tapi di tempat lainnya ampang. Menarik rajangan berlebih sehingga terbentuk pipa pepalia sempurna dengan celah merata. Menyulut sambil menunggu pesanan dalam kenikmatan ruangan lelaki—bebas merokok, bukan tempat elit anti-rokok. Nun. Tapi siapa Dina Galura Aya?

Lepas makan, berselonjor dengan sisa bir, aku mengirim SMS, satu kata—Hallo. I am here—, dan sekaligus mengirimkan nomor agar di-save. Membalikkan inisiatif ke si yang berinisiatif. Bukankah—selama tujuh belas tahun sejak SMA ini—: perempuan cuma melintas, meski sesekali dipilih secara acak, terantung kebutuhan semata. Hanya pelengkap senggang dalam momen singkat. Semua tak beridentitas, tak bereksistensi—hanya tergantung pada (ia) yang paling mungkin diraih. Iseng. Ya! Karena, untuk apa membina ikatan legal bila tugas kantor memeras energi dan konsentrasi? Kalau hidup hanya sergapan kelelahan, sedang sisa waktu melulu dimanpaatkan bersantai—makan dan seks shorttime?

***
AKU menjamu Bertolt van der Groot, Cristiano “Cristo” Mendoza, serta Klauss Ersling di Pampa la Bamba saat seorang pelayan mendekat sambil membawa sebotol anggur yang disejukkan dalam wada beres. “Maaf, Bapak,” katanya, “botol anggur ini dipersembahkan seorang teman umtuk anda?” Aku tersentak. Sesaat ingin menelusuri, tapi pelayan itu pamit dengan membungkuk santun, dan reflek pergaulan membuatku sigap menelan ingin tahu secara profesional. Tahu. Ada seseorang tak ingin diketahui, yang memberi hadiah tanpa ingin diketahui. Tapi HP bunyi—SMS masuk. Dina yang menandaskan isyarat. Tertulis—ejaan singkat aku koteksi—: Saya ingin menemani, tapi saya asing bagi tamumu, bagi pembicaraan bisnis. Saya wakilkan ke anggur.

Aku mengajak tamu perusahaan, yang mengecek kesehatan dan potensi perusahaan sebelum memborong 40 % saham, bersulang—dengan mengsikatakan ada pihak ketiga ingin ikut memeriahkan. Setelah itu, sebelum mengobrol lebih panjang—dengan minta maaf—, aku mengambil HP dan mengirim SMS. Sebuah pesan—Aku berhutang, dan berharap ada kesempatan melunasi. Di sesaat balasannya tiba—Just dinner, OK! Aku  tersenyum—Hanya makan malam. dengan berangkat dan pulang sendiri-sendiri. SMS Dina masuk—When. Where. Aku senyum. Itu agenda untuk seminggu ke depan, pikirku—sambil menutup komunikasi tanpa suara. Dan pesan singkat: Nanti dikabari. Atau nona yang menentukan tempat dan waktu?

“Siapa?”

“Kontributor anggur.”

***
KETIKA cuti di Bali, karena sukses mempertemukan dua kepentingan bisnis itu, aku menghubungi Dina—Seminggu ke depan ini aku di Bali. Di setengah hari (ia) baru membalas. Seperti ketus. Apa peduliku—tulisnya. Aku senyum. Membalas tidak kalah ketus—meski tak nemakai diksi sinis—: Sorry - tapi jangan menagih utang dinner dulu. Dina Galura Aya cepat membalas. Belum kepikiran. I am bussy—tulisnya. Aku senyum. Puas kuasa melolos dari lelah dengan suntuk bercinta. Bangkit meninggalkan ranjang, iseng menyibak tirai lantai 11: memindai hamparan pantai penuh dengan lampu dan si kehidupan malam Kuta. Meraih softdrink sambil memikirkan Dina—sosok yang belum pernah dilihat—, tapi tak kukirimkan gambar kehidupan malam dan momen shorttime.

Paginya Dina kirim SMS—Wake up! Mentersijagakan dalam sunyi bersendirian di kamar: aku tak membalas. Ogah! Menghidupkan TV—cari berita. Ambil softdrink, menumpuk bantal merasakan ketenangan abai tak harus bergegas segera tiba di kantor –sementara kemacetan mulai mengkerkah—seperti malam memekat tak bisa dilawan lampu jalan, mobil, pekarangan, bar, rumah, dan si seterusnya—, karenanya (manusia) menyerah cala, tak berdaya. Apakah kota hanya usaha artifisial untuk melawan yang alami, sebab itu semua tindakan manusia amat cenderung memperkosa keseimbangan alam? Mencabik keselarasan, mmicu cara hidup artifisial egoistik?

Kalau itu, kenapa merasa bahagia dengan yang artifisial, bangga karena dilirik si beratus mata sirik dan hati jelus saat mempertontonkan cara menikmati hidup artifisial? Aku termangu—perasaan kosong selalu menyergap bila tak sibuk mengejar target, atau tak tuntas menghibur diri. Bila tiba-tiba ditarik kembali ke dalam kemurnian jiwa seusai sekuat tenaga tenggelam dalam yang artifisial? Yang membuat aku ingin selalu kerja atau menghibur diri—sampai pingsan. Tapi apa yang bisa dilakukan ketika harus cuti dan mesituntaskan bonus? Aku ingat Dina. Menulis—Aku bosan dengan life style.

Dina membalas—Tapi tiap orang menginginkannya. Aku senyum.

Spontan menulis—Aku ingin memutar jam ke masa TK. Tahukah di mana agency mesin waktu, untuk tur nostalgia—, sambil membayangkan: Dina terbahak. Mungkin! Tapi jawabnya seperti tendangan kaki kuda pada dahi—Coba ektasi dan morfin—sinis. Mengatakan kalau hanya itu yang biasa dilakukan seusai makan, minuman, dan seks—atau sebelumnya. Aku memenjam. Merasa sepi—suara TV bagaikan gema—, terkurung di ruang kosong ujung lorong. Semua hanya bunyi tak jelas, tak mengantarkan makna apa-apa. Meraih softdrink. Menyibak tirai. Meneguk malt sambil memperhatikan aura panorama pantai. Hamparan kekosongan berbatas cakrawala tidak terukur yang padat, dan mendadak merasa terkurung—sendirian.

Melihat gerak ombak serta liuk nyiur tanda laju angin—tapi tidak merasakan itu menggelisir di kulit dan debur di pendengaran. Merasa terisolasi cuma ditemani laung gema TV. Apa ini tanda kematian? Ancangan aroma kematian bagi si yang terkepung galau dunia—keriuhan mengisolasi. Ya! Barangkali—terpikir—kematian hanya kondisi tur berselaput. Diselaputi dan terpisah secelah tipis dari dunia nyata. Jarak transparan, laminating kukuh yang memisahkan—dunia riil tak bisa disentuh. Kalau hanya begitu, rasanya, selama ini aku ada dalam kondisi setengah mati: bersibuk dengan diri sendiri, serta tak pernah intens berhubungan dengan dunia dan orang yang tertatih mengharap Tuhan membagi rejeki—berujud sesama yang makmur dan peduli?

Aku menelan ludah. HP bunyi—SMS Dina berharap aku menghubungi usai cuti, dan merayakan dinner. Aku minta agar ia menentukan hari, dan ia mengiyakan sambil minta aku menentukan tempat dan menu. Tapi siapa (sesungguhnya) Dina?

***
AKU pesan gurame bakar asam pedas, sayur asem, krupuk kulit, lalab, sambal, dan wedang jahe. Yang sederhana dan mengingatkan masa sekitar tiga puluh delapan tahun lalu, momen aku masih bocah dan menikmati—bersama keluarga—makan di luar, seperti menikmati gadis dijaja dalam pesta seks setengah teler. Dan di malam ini aku ingin mendengar riuh dengkung katah mijah di awal penghujan—kerinduan yang tidak pernah tuntas di tengah metropolis Jakarta. Saat (ini) aku ingin pulang ke rumah untuk makan sayur bening tomat muda, dan sambal dengan lalab tomat muda—amat nikmat disantap saat diajak teman berlibur di Pasir Jambu, ke wilayah pertanian tomat. Nun.

Terbayang Dina ternganga ketika diajak ke Periuk Wesi. Kenapa?—sergah SMS-nya. Aku tersenyum, dan (rasanya) ingin bicara panjang tapi kemudian memilih tidak menjawab—aku ingin mengatakan langsung. Dan dalam gerimis ini aku bergergas ke Periuk Wesi. Dan kini, setelah menghabiskan dua pisang keju, dalam menunggu satu setengah jaman—: aku menelepon dua kali tapi HP Dina tidak aktif. Kini aku memilih makan sendiri. Menghabiskan dua porsi besar. Sunyi merokok. Tak peduli pada tatap setengah kasihan dan mencemoohkan pelayan. Aku rindu pulang. Entah kenapa, aku amat rindu pulang. Kembali ke kampung, ke rumah Ibu—bertemu dengan saudara dan banyak kerabat, seperti Lebaran—, ke zona waktu dari tiga puluh delapan tahunan lalu.

Ketika jiwa masih polos kekanakan. Lalu: meniti hari dengan corak gaya hidup lain dan tiba di kekinian sebagai si yang sama sekali lain. Mungkinkah aku berubah? Bangkit. Menyelinap ke toilet. Mencuci muka—sambil mengingat runtut urutan wudlu dan mengeja bacaannya. Tertunduk depan cermin. Merasa tersiksa karena terlunta dan tak ingat apa-apa. Istigfar. Mengusap wajah. Minta diberi petunjuk untuk jadi si orang lain. Reborned. Pergi ke meja kasir untuk melunasi semua—bergegas pulang ke rumah meski tanpa sua Dina. Langsung pulang, dengan mensitekan instink ingin mampir ke masjid kecil, mengambil wudlu, dan terhenyak dalam shalat tobat yang basah tangis—dan aku menangis.

Kini apa Dina itu ada atau tidak-ada sudah tak penting lagi, setidaknya saat aku memilih menghabiskan menú makanan udik dalam pukau nostalgia masa kanak. Kini tersisa tekad menekan instink rutin, serta ingin jadi yang sama sekali lain. Aku ingin menjadi orang lain—berusaha meski nyaris tak mungkin—dan tak dikerkah sunyi.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Bali Post" edisi Minggu, 4 Februari 2018

0 Response to "Lorong Jiwa Senyap"