Lusi dan Negeri Para Dewa - Prembaen Pagi Hari | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Lusi dan Negeri Para Dewa - Prembaen Pagi Hari Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Lusi dan Negeri Para Dewa - Prembaen Pagi Hari

Lusi dan Negeri Para Dewa

Di antara batu dan pasir
Deras yang tak seberapa mengalir
Dalam gelombang dan riak air
Dalam dawam engkau berzikir

Sesekali saja bergejolak untuk menandai
keberadaan
Sesekali saja menelan korban untuk mengingat
-kan kewaspadaan
Sesekali saja tampak bening
saat panas dan juga kering

Suara gemuruh di antara kapur dan batuan
Seonggok bambu sendirian
Ada sedikit lele dan juga ikan
Melengkapi kehidupan

Dalam peti batu engkau simpan
Sejarah keberadaan, juga catatan
Di antara kehidupan dan kematian
Mereka yang tinggal di pinggiran

Ada anak-anak membuat siwakan
Terumbu buatan digelarkan
Menjaring lele juga ikan
Kadang ular didapatkan

Ada Bu As pembuat tempe
Mencuci dan membilas kedelai
Ada pencari ikan berbekal jala
Kadang beruntung, lebih sering hampa

Ada kedung di bawah jembatan
Anak-anak berenang jempalitan
Di sana ada keriangan
Sering juga kematian

Negeri para dewa
Dibangun dalam panjat doa
Para waskita juga pujangga
Menempel dan melekat di tanah kota

Wiku Barada ditasbihkan
Ada Samin diperjuangkan
Ada Tirto dilahirkan
Ada Pram dibesarkan
Ada sejarah dicatatkan

Mengalir di antara lembah dan hutan jati
Ada sumber kecil tak pernah mati
yang mengalirkan rezeki tanpa henti
Menggelandang dalam sunyi
Menggerayangi tanah kota ini

Memang kudengar kemiskinan
Tapi tak ada kelaparan
Tak terjadi perampokan
Kudengar kesaktian
Tak ada dipamerkan

Blora, 1 Januari 1981

Prembaen Pagi Hari

Wajah-wajah semringah
menemani pisang dan ketela
Membumbui buah dan petai cina
Menguliti daging, juga kelapa
Dalam segar mereka menyapa


Bibir-bibir yang tersenyum
Bersandar pada bedak dan mentimun
Bercerita tentang harga yang naik-turun
Juga tentang mangga yang sedang ranum

Penjual beras bicara tentang harga
yang tak pernah beranjak rendah
Merelakan diri turun untuk mengabarkan
kebahagiaan mereka yang gelisah
Atau sekadar memotong berita dan kisah-kisah
Atau mungkin sekadar mengurangi desah

Beras melambung tak terkendali
Melampui batas yang biasa terjadi
Batas normal terlewati
sepertinya pemerintah tak ada lagi
Atau barangkali demikianlah harus dilalui setiap
kali.

Harga terkendali adalah cita-cita
Pasokan memadai adalah cita-cita
Bahan bakar turun adalah cita-cita
Bahkan makan pun cita-cita

Kedondong, salak, juga rambutan
Daging, ayam juga berbecak ikan
Garam, bumbu masak, juga larutan

Kadang perut harus dipersiapkan
Kadang makan tidak ukuran
Sembarang masuk tanpa hitungan
Memberati lambung berbulan-bulan
Dan mengganjal darah di peredaran

Bermacam pedagang di jalinan
Bersuara rancak menawarkan
Sesekali teriak menyakitkan
Kadang juga mengecewakan
Berlaku hukum persaingan

Kolesterol dijajakan
Asam urat disajikan
Darah tinggi diperjualbelikan
Bahkan diare ditawarkan
Berlaku hukum kepantasan

Membeli apa yang diinginkan
Menawar harga yang ketinggian
Sekadar melirik tanpa tawaran
Berlaku hukum kewajaran

Prembaen pasar pagi
Berkisah tentang telur juga seledri
Lalu-lalang datang dan pergi
Mengerami amis ikan tak peduli
Kadangkala keinginan tak terkendali

Prembaen pasar pagi
Berkisah tentang jamu jun penghapus nyeri
Diseling gitar para penyanyi
Bersuara sembre memaksa diri.

- Hendro Basuki, kelahiran Blora, 3September 1960. Jurnalis senior ini telahmenerbitkan buku Asmaragama sertaKamasutra Jawa: Eksotisme PerempuanJawa. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hendro Basuki
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 25 Februari 2018

0 Response to "Lusi dan Negeri Para Dewa - Prembaen Pagi Hari "