Mitos Hari-hari | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mitos Hari-hari Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Mitos Hari-hari

Mitos Hari-hari

Senin
Habis pekan. Senin yang membara membakar kulitmu perempuan. Kekurusan apakah yang membawamu pada kerja pada keriuhan hidup dan sunyi benda-benda? Rumah terlalu riuh terlalu gerah bagi kata bagi istirah. Di punggung kaurajah sebuah ingatan dari dendam dari ketandusan. Kota begitu lapang bagi hibuk bagi penat bagi kesendirian. Gedung-gedung dibangun dan diruntuhkan. Aku berbicara dengan langit dengan kekosongan. Kelak menjadi tanda bagi doa bagi dosa bagi kemampusan.

Selasa
Sempat bibirmu membakar sebelum akhirnya runtuh, menjadi abu dalam kelu. Kiranya benar, Selasa adalah selasar bagi sunyi bagi rindu. Di udara, angin ngambang melarungkan perahu-perahu gaib dari kegerahan tak tentu. Kanak-kanak bermata kemarau menggerogoti nafasku. “Lautmu, Kekasih, lautmu adalah nujum bagi teluh dan sedu.” Di bawah kutuk kuburan kutempuh segala sedih segala pilu. Kemurungan menjelma tengkorak tanah – meretak pada jejak. Menggaib dalam tidur serupa bibirmu.

Rabu
Cuma gersang yang pernah ditiupkan. Rabu yang sampai ke pelupuk mata membawa api menjatuhkan kerontang. Tak ada yang lain, terik mengentalkan ketandusan, mengambang di antara sunyi dan makna kekeringan. “Jantung yang merindukan detak dan pelukmu itu, Kekasih, adalah umurku yang percuma.” Segala tanya yang melayang di udara hanyalah rasa putus asa. Langit meneteskan darah – muram, sehitam hangus sisa arang. Serupa Rabuku.

Kamis
Ini wajah, rabalah, rasakan kerja yang suntuk, pipi yang kering, yang meretak dalam kerontang dan hati sedih, bibir yang asat yang surut ke dalam pendiaman dan cumbu yang letih, bahkan ketika hari telah jatuh Kamis, dan orang ramai sibuk memberi nama pada sengit kemarau dan terik yang ritmis. Mungkin, bukan nasib sial atau iklim gersang yang membuat umur terasa sia terasa asing. Tak ada yang perlu diingat lagi dari putih pahamu, bahkan burung-burung gaib yang pernah menggambar langit dalam mimpiku telah mampus membelatung. Cinta yang luput, rindu yang akut adalah gerak murung suntuk rumput – hanya mampu memeluk bayang-bayang dalam sihir singup kabut.

Jumat
Mungkin telah tiba saat: Jumat. Patung-patung yang runduk, yang sujud, yang menciumi bumi padas. Cuaca yang lelah. Angin derita di tebing menara. Kota dibangun dari dendam dari terik dari kehampaan. Katakanlah musim tinggal kemarau, namun di kedalaman cahaya masih aku buru sukma hujan, meski pada akhirnya umur hanya gersang, dan jasad yang dilupakan pelukan tinggal hangus – diabukan impian dan mitos. Mitos muram kisah pembakaran. “Biar matahari menangis darah, sebab sungai telah jatuh asat.” Azan dan tandus tanah warna jelaga menyimpan riwayat seratus tahun pertempuran. Aku tancapkan mayatku di langit kerontang. Kematianku berdiri tegak sebagai pilar. Pilar hitam rumah. Rumah murung kerinduan.

Sabtu
Ternyata, kemarau telah menutup semua peristiwa semua kecupan. Malam yang panjang adalah maut – menjelma arah menjadi jalan bagi kesendirian. Kekosongan apakah yang menata riwayat yang menulis nasibmu – kian kering kian gersang kian kerontang. Ketandusan yang melukis semesta membuka malam dan rumah-rumah penjagalan. “Kejenuhan itu, Kekasih, adalah isyarat yang menuntun jejakmu di bumi ringkih.” Hujan tak pernah sampai di pelupuk mata. Aku menjadi ingatan kejemuan semula. Suara-suara dari neraka terasing memanggil cuaca. Kureguk panas musim. Ruhku mengikuti arus bara – membara, melampaui kerinduan.

Minggu
Kucari sejenak istirah, namun perih apakah yang menenggelamkanmu dalam sunyi dalam hibuk kerja dan mimpi tiada. Katakan burung-burung pagi berkelana di putih angkasa, namun kota-kota dibangun dari terik dan kilau murung matahari. Kehampaan adalah takdir yang harus ditempuh dalam kering musim dan kemarau cumbu. Bahkan ketika bumi retak dan lenganku kian hitam kian gersang dari pelukan. Seorang bocah berkulit mayat mendongakkan kepala, di rambutnya mitos hari-hari menjelma api. Berkobar membara. Begitu panas. Begitu membakar. Serupa minggu. Seperti perasaan kehilangan dan batu-batu.

2017-2018

Indra Tjahyadi lahir di Jakarta, kini bermukim dan bekerja di Surabaya. Kumpulan puisinya, Syair Pemanggul Mayat (2012), terpilih sebagai buku puisi terbaik 2013 versi Balai Bahasa Jawa Timur. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indra Tjahyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 17 Februari 2018

0 Response to "Mitos Hari-hari"