Pesta Kematian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pesta Kematian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:00 Rating: 4,5

Pesta Kematian

JANDA setengah tua itu telah merencanakan pesta untuk kematiannya sendiri. Lihatlah! Semur sapi kentang, rendang, daging bumbu rempah, kuah santan, daging kuah kuning, lodeh nangka muda, sate, telur rebus digoreng berlumur tepung, memanjakan selera pelayat yang tentunya sungguh sangat jarang menikmati masakan semacam ini, kecuali ada acara komantan1 atau orang mati.

Ia, janda setengah tua itu, telah mengumpulkan uang untuk pesta kematiannya sejak bertahun-tahun lalu. Menyembelih sapi merupakan adat kematian yang disakralkan di kampungnya. Sembelihan sapi bisa menunaikan akikah untuk yang baru saja mangkat, menghargai pelayat dengan jamuan laik, sekaligus petuah nyata bagi yang masih hayat agar sifat pelit tidak menguasai tabiat.

Di bawah bantal, tempat kepalanya terkulai setelah roh dijemput malaikat ajal, ditemukan kantong kain kumal berisi sejumlah recehan dan lembar-lembar uang kucal. Sebagian uang itu sudah ditarik dari edaran beberapa tahun silam. Setelah dihitung, cukup untuk membeli dua ekor sapi besar dan kebutuhan dapur lainnya. Ditambah dengan hasil penjualan sepasang sentar2—yang kauhadiahkan pada malam pertama kita—berbungkus plastik bening yang ditemukan di antara tumpukan uang itu.

Tidak ada yang tahu pasti pada jam dan menit ke berapa ia meninggal. Tubuhnya ditemukan sudah terbujur kaku dan beku di atas lincak—tempat kita sering berbagi kehangatan dalam dingin malam pada musim hujan dan awal-awal kemarau—ketika istri tetangganya mengantarkan bumbu rempah, kemiri, cabai merah, kentang, dan minyak goreng, sepulang dari pasar. Padahal kemarin sorenya ia masih mendatangi rumah tetangganya itu untuk memesan barang belanjaan tersebut.

“Untuk apa belanja sebanyak ini?” istri tetangganya bertanya heran waktu itu.

“Ada perlu saja,” katanya.

Biasanya, ia hanya memesan tahu dan bawang merah. Kadang setumpuk teri basah seharga dua ribu rupiah. Tentu terkecuali menjelang Lebaran—dan saat mengenang tanggal dan bulan kematianmu yang tak pernah kulupa.

Saat menyerahkan uang itulah, tanpa sengaja istri tetangganya bersentuhan dengan tangan janda setengah tua itu.

“Tanganmu panas sekali. Bibbik3 sakit?”

Tidak langsung menjawab. Hanya terbatuk. Patah-patah. Matanya basah memerah. Tampak rekat pada bulu mata.

“Mau dikerokin, Bik?”

“Besok saja, sepulang kau dari pasar,” ujarnya.

Ia pun pamit pulang dengan sesekali terbatuk hingga terbungkuk-bungkuk. Istri tetangganya menatap penuh iba.

Surut ke belakang, seminggu sebelum dijemput malaikat ajal, janda setengah tua itu meminta tetangganya menjual dua kambing yang dipelihara sejak suaminya masih ada. Itu pun setelah ayam-ayam di kandang juga habis terjual.

“Kenapa dijual semua?” tetangganya bertanya sambil menurunkan dua kambing dari tangga kandang.

“Capek mengurusnya,” tersengal batuk sebentar.

Sejak suaminya meninggal, hanya dengan ternak piaraan itulah janda setengah tua itu hidup. Berbagi sepi. Berbagi kasih.

Pada sepasang mata dua kambingnya ia melihat tatapan hangat lelaki yang telah meninggalkan dirinya pergi. Kenyinyiran mulutnya memberi kebahagiaan tersendiri, serasa mendengar omelan sang suami—tentu saat kau mengomel karena secangkir kopi tak segera terhidang, saat sayur keasinan, saat kehilangan korek sehabis makan hingga harus menyulut ujung rokok ke mulut tungku. Kau tahu? Saat mengomel wajahmu terlihat lucu. Lucu sekali!

Pun, keributan anak ayam saat berebut makanan mengingatkan impiannya pada bocah-bocah yang tak pernah ia lahirkan hingga usia pernikahannya terpenggal ajal.

Setelah ayam-ayam dijual, janda setengah tua itu seperti seorang ibu ditinggal anak-putu. Akan tetapi, ia memang tidak mau kematiannya menjadi kepergian yang piatu. Hasil penjualan ayam ia belanjakan barang kebutuhan untuk hari kematian nanti. Termasuk dua kambing betina-jantan yang telah menemani kesendiriannya, akan segera digiring ke pasar dan kepergian keduanya akan menggenapi kesepian.

Setelah diminumi air dedak, dipakani daun pisang hingga kenyang, si tetangga menyeret dua kambing gemuk itu ke pasar hewan. Hasil penjualannya disuruh belikan beras, gula, bawang putih, biji kopi, pada istrinya, atas permintaan si janda setengah tua.

Hari ini, ia telah sempurna merayakan kepergian dengan pesta kematian sebagaimana yang direncanakan. Jenazahnya diantar ke pekuburan dengan ruap aroma kembang seperti keberangkatan mempelai—apakah kau masih ingat aroma pernikahan kita dulu?

Sekembali pengantar jenazah dari pekuburan, tenda-tenda dibangun menyungkupi seluruh halaman, tempat penyambung tahlil nanti malam—dan malam-malam berikutnya—yang jumlahnya mencapai ratusan. Seekor sapi gemuk disembelih. Para ibu sibuk menyiapkan olah masakan yang sungguh sangat jarang dinikmati oleh si janda setengah tua semasa roh masih bersemayam di kandung badan. Tentu aku akan merasa bahagia dengan pesta kematian itu.


DUDA tua itu tidak pernah ingin merencanakan pesta untuk kematian dirinya. Menurutnya, kepergian tidak harus dirayakan dengan penyembelihan seekor hewan dan membuat olah masakan yang beragam. Peran pelayat justru sebagai obat bagi keluarga yang ditinggal mangkat—meskipun aku tidak memiliki keluarga, bukan sekadar penikmat makanan lezat.

Ia memang tidak begitu merumitkan hidup—tentu saja berbeda dengan cara berpikirmu yang rumit itu. Semua dijalani seiring suara hati. Seperti air mengalir, dan tetap meyakini pemberhentian dalam kubangan yang tubirnya tidak akan bisa dipanjat; liang lahat.

Sejak ditinggal istri, hidup bersendiri membuat hari-harinya lebih banyak dihabiskan di pasar hewan dan warung yang menyediakan kopi, gorengan, serta sundal murahan—istilah yang kaugunakan untuk rokok lintingan noncukai, dengan rasa cemburu.

Duda tua itu ditemukan mati pada pagi hari, di serambi warung kopi. Puntung rokok berserakan di lantai, di antara dahak berdarah yang mulai dikerubung lalat. Orang-orang meyakini sangkaan sendiri; ia mati dengan penyakit paru parah yang tak pernah mencoba mengobati.

Semalam ia memang tidak beranjak pulang hingga semua pengunjung bubar. Batuknya senyinyir kambing lapar. Meskipun begitu, jemari tangannya tetap menjepit sebatang sundal murahan dan kepulan asap kian membuat napasnya sengal—ketika batuk separah itu biasanya kau segera mengambilkan air minum sambil berceramah panjang-lebar, menyuruhku berhenti merokok!

“Warung ini akan ditutup, apa kau tidak akan pulang?” perempuan pemilik warung bertanya dengan mata sipit terserang kantuk.

“Aku akan duduk-duduk di luar. Kau tutup saja!”

Ia pun beranjak meninggalkan bangku panjang dan cangkir kopinya yang tinggal ampas. Memungut korek di atas meja. Duduk di lincak serambi. Sendiri.

Semakin larut, dingin malam kian rapat meringkus badan. Pelepah nyiur di tepi jalan diam tak berkutik. Dadanya terasa sesak seperti ruang sempit dipenuhi gemulung asap. Batuknya tersendat. Suara-suara lesap.

Tiba-tiba ia merasa malam begitu sepi. Begitu sunyi. Sunyi yang mengepungnya dengan angkuh. Ia menjadi begitu rapuh. Luluh. Rubuh. Ingatannya melayang. Jauh ke masa silam. Aku teringat hari pernikahan kita. Tentang sampirmu yang sobek pada malam pertama. Denyit lincak yang terdengar lebih nyaring di sunyi malam dan sering menerbitkan kecemasan di matamu; malu didengar mertua. Teringat aroma rambutmu yang basah di pagi hari dan membuatmu malu keluar kamar untuk segera membuatkan secangkir kopi.

Entah pada jam dan menit ke berapa hidupnya yang seperti air itu berhenti mengalir. Terjebak dalam kubangan curam tanpa dasar. Asing, tak bertuan. Berpusar-pusar.

Pemilik warung menemukan tubuhnya sudah beku dan kaku. Bergelung badan dalam sarung. Perempuan pemilik warung itu berteriak panik. Tetangga berdatangan dan memeriksa tubuh dingin berbau apak. Bau asap rokok, keringat, bau kambing, amis dahak, bersekutu menyengat. Mengaduk isi perut. Daki menempel tebal di ujung lengan dan kerah baju.

Jasad duda tua itu digotong ke rumahnya yang lebih mirip penyimpanan barang tak laik pakai. Baju-baju dan sarung bergelantungan di paku dinding. Sebagian lagi berserak di tempat tidur. Sarung bantal terlempar ke sudut lincak tanpa kasur. Kapuk keluar dari balik lubang guling yang bolong dimakan tikus. Plastik bungkus rokok dan puntung berserakan di lantai. Jaring laba-laba dan wang-sawang bergelayut di atap.

Tidak ada uang di bawah bantal. Tidak ada bahan-bahan masakan di dapur. Tidak ada sapi untuk disembelih sebagaimana adat kematian yang disakralkan. Hanya ada seekor kambing kurus di kandang dan lima anak ayam yang baru disapih. Itu pun harus dijual untuk membeli kain kafan dan melunasi utang tiga cangkir kopi, gorengan, dan sundal murahan di warung langganan.

Jasad duda tua itu dimandikan, dikafankan, lalu diusung ke pekuburan dengan ritual paling sederhana, seperti bocah piatu tanpa sanak keluarga. Tidak ada makanan lezat untuk merayakan kepergian. Tidak ada pesta kematian. Kematian piatu seperti itu apakah akan membuatku ingin menjadi pengantin kembali? Entahlah!

Sepasang suami-istri duduk di serambi, pada senja hari. Saling berbagi tentang bayang-bayang kematiannya sendiri di hari tua nanti.

Madura, Januari 2018

Catatan:
1 pernikahan
2 giwang
3 Bibi

Muna Masyari, bermukim di Pamekasan, Madura. Cerpen-cerpennya dimuat di sejumlah media. Penulis Cerpen Pilihan Annida 2011.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muna Masyari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 17-18 Februari 2018

0 Response to "Pesta Kematian"