Petani | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Petani Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:29 Rating: 4,5

Petani

TASNO bersepeda. Derit rantai senantiasa terdengar setiap kali kaki mengayuh. Ia berhenti di Jl Soeparjo Roestam memandang sebuah hotel yang megah. Satu hal yang tidak pernah luntur dari ingatannya adalah pohon akasia yang tetap tumbuh di halaman hotel itu. Mungkin saja pemilik hotel itu tidak bisa menebang atau memang dianggap tidak mengganggu. Toh, tetap kelihatan indah seperti masa lalunya. 

Tasno menaruh sepeda di dekat pohon akasia. Ia duduk melihat langit biru. Sebuah masa lalu terbayang dalam benak Tasno. 

Tasno dulu sering berteduh di bawah pohon akasia ketika matahari di atas umbun kepala. Ketika ia harus mengusir burung-burung sawah atau saat lelah mencangkul. Pohon itu seperti penyejuk jiwa. Ia masih ingat persis pada batangnya pernah menuliskan Janaka Saputra sebagai nama anak satu-satunya. Ia mulanya berjanji bahwa sawah yang kini menjadi hotel itu sebenarnya menjadi milik sah anaknya. Pernah terbayang pula dalam benaknya akan mendirikan warung di tepi sawah, yang menjual beraneka sembako, namun impiannya kandas karena tak pernah punya modal yang cukup. Hidup serba pas-pasan. 

Sawah yang dimilik Tasno adalah warisan ayahnya yang pernah menjadi kepala desa. Ia mendapat bagian yang sebenarnya cukup untuk ditanami padi dan kebutuhan makan. Ia tidak pernah kekurangan beras. Tetapi hidup hanya bertani semakin tertinggal dari tetangga yang mampu beli sepeda motor, mampu bangun rumah, dan hidup dengan makmur. Ia ingin anaknya bisa menjadi pegawai. Untuk bisa menyejahterakan hidup yang senantiasa berubah. 

Kelulusan Janaka Saputra dari sekolah menengah atas membuat Tasno berinisiatif agar anaknya itu bisa menjadi pegawai. Kalau bisa polisi, tentara, atau apalah. Yang penting bisa negeri. Dapat pensiunan. Karena itu, ia mencari-cari orang yang bisa memasukkan Janaka agar bisa diterima. 

”Berapa? 300 juta?” 

Tasno menggernyitkan dahi. Jalan satu-satunya adalah menjual sawah yang menjadi tumpuan hidup. Sawah laku 400 juta. Seorang pengusaha yang telah lama ingin membangun hotel berani membayar. Strategis katanya. Tetapi, jumlah uang itu belum terpotong Mas Udin, Darmo, dan beberapa lainnya yang ikut membantu menjualkan. 

Dengan uang itu, Janaka dititipkan kepada Pak Edi, kenalan teman dari teman. 

”Kelak semoga bisa.” 

”Pasti bisa masuk. Pak. Tenang saja.” katanya 

Tasno pun bercerita kepada para tetangganya bahwa anak satu-satunya itu akan menjadi pegawai. Sudah pasti diterima. Orang seluruh desa kalau bertemu selalu disapa. Seolah sudah menjadi ayah yang paling sukses di seluruh dunia. 

Siang yang terlalu terik menyengat Tasno. Dalam pengumuman penerimaan tak ada nama Janaka Saputra. Maka itu, buru-buru Tasno pergi menemui Pak Edi. Rumah sunyi. Gelap. Kata orang-orang di sekitar, Pak Edi itu cuma ngontrak di situ. Pekerjaan ya kurang tahu. Memang katanya di Pemda. Tapi kalau ditanya kenal pak ini, ibu itu ngakunya kenal. Saat ketemu pak ini dan bu itu, dia bilang bahwa di Pemda tak ada Pak Edi. Sudah sebulan, kontrakan itu selalu sepi. 

*** 
APABILA mengingat peristiwa itu, hati Tasno seperti hancur. Ia serasa tidak punya harapan. Langit seperti runtuh. Sisa sedikit dari uang penjualan tanah akhirnya untuk beli sepeda motor yang sekarang digunakan untuk mengojek Janaka. Tak mungkin uang kembali. Tak mungkin tanah kembali. Tanah-tanah telah berubah menjadi bangunan. Padang hijau hilang. 

Biarlah anaknya yang memegang sepeda motor, sementara ia tetap bersepeda. Gumannya. Ia ikhlas. 

Yang paling menjadikan tak ikhlas adalah kondisi seperti sekarang ini. Ketika harga beras naik, ia menjadi buruh mencangkul milik tetangga, sementara sawahnya telah menjadi hotel megah milik orang lain. Sekarang ini, untuk beli beras 10 kg saja, semakin susah. Penghasilan Janaka selalu pas-pasan sebagai tukang ojek. Belum lagi kebutuhan keluarganya. 

Tasno tidak ingin menjadi orangtua yang hidup mengandalkan anak. Selama masih mampu untuk berjalan, ia akan makan sendiri. Dalam siang itu, ia merasa rindang pohon akasia begitu menyejukkan di hati. Tasno terlelap seperti menahan lelahnya kehidupan. 

Tasno terbangun ketika mendengar telolet bus. Ia ingat harus membeli beras. Beberapa warung di daerahnya sedang kehabisan stok. Ia mencoba untuk ke beberapa warung. Ia mengambil sepeda. Tapi roda sepeda tidak bisa berputar. Tampaknya, pelk melengkung. Mungkin terinjak oleh bus. Tasno memanggul sepeda. ❑ - g

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Hidayat
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 11 Februari 2018

0 Response to "Petani"