Pisau Belati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pisau Belati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:01 Rating: 4,5

Pisau Belati

KETIKA aku tiba di tanah kosong pinggir kali itu sudah ada puluhan orang. Mereka langsung menatapku. Wajah mereka tampak cemas. Beberapa perempuan bahkan sudah sembab matanya. 

“Mas Sam jangan mendekat!” kata Nur, ketua pemuda kampung kami. 

“Kenapa?” tanyaku sambil menyibak kerumunan orang itu. 

“Dia bisa bunuh diri!” 

“Bagaimana mungkin?” 

“Sejak pagi Boging sudah mengasah pisau belati. Ketika ada orang bertanya untuk apa, dia jawab untuk bunuh diri. Dia mengancam mau bunuh diri jika ibunya tidak sanggup memenuhi permintaannya.” 

“Dia minta apa?” 

“Sepeda motor matik.” 

“Ohh.” 

“Tadi dia bilang, jika sampai ada pengurus RT atau RW datang, dia juga akan bunuh diri.” 

Aku mengangguk-angguk. Boging anak satu-satunya Yu Marni, seorang janda yang ditinggal pergi suaminya. Sejak kecil ia membesarkan sendiri anaknya. Mencari nafkah sebagai buruh cuci di beberapa keluarga. Bulan-bulan terakhir ini ia sering mengeluh. Penghasilannya berkurang sejak menjamurnya jasa laundry di mana-mana. 

Boging tidak sempat menamatkan SMK jurusan mesin. Ia tidak mau meneruskan sekolahnya karena malu. Hanya dia satusatunya siswa yang tidak punya motor. Dari mana Yu Marni bisa dapat duit untuk beli motor meski bekas pakai sekalipun? 

“Bagaimana Mas Sam?” tanya Nur cemas. Ia seperti mewakili puluhan tetangga yang tidak berani mendekati Boging. 

“Akan kuusahakan semua berakhir tanpa insiden apa pun,” jawabku. 

“Tadi dia sudah mengancam akan ngamuk jika para tetangga mau menangkapnya. Bahkan katanya, lebih baik ia bunuh diri saja dari pada ditangkap tetangga. Apa kita perlu memanggil polisi?” 

Aku menggeleng. “Tidak perlu.” 

“Bagaimana kalau nanti terjadi tindak kekerasan? Sampai ada warga yang terluka?” 

Aku menghela napas. Diam-diam aku memuji para tetangga yang tidak memberitahu Yu Marni. Andaikata sampai tahu ulah anaknya, perempuan itu bisa shock. Kasihan. Hidupnya sudah menderita. Sekarang ditambah anaknya berulah dan bisa membahayakan nyawanya. 

“Kamu pergi! Kamu harus pergi!” teriak Boging sambil mengacung-acungkan pisau belati. Warnanya mengkilap. Berarti ia benar-benar sudah mengasahnya. “Kalau berani mendekat, aku akan ngamuk. Atau aku akan bunuh diri!” lanjutnya. Wajahnya memerah. Rambutnya awut-awutan. 

“Dia sudah kena pengaruh aliran sesat,” bisik seseorang. “Hati-hati Mas Sam. Jangan sampai ada pertumpahan darah.” 

“Apa yang kamu inginkan Ging?” tanyaku sambil berjalan pelan-pelan mendekatinya. “Kamu kepingin punya motor?” 

Mata Boging tampak liar menatapku. Tangannya yang memegang belati menjulur. Seolah sebagai peringatan agar aku mengambil jarak. 

“Kalau kamu ingin motor, ini ambil kunci motorku!” kataku sambil melempar kunci motor. “Ambil kuncinya. Turunkan pisau belatimu. Motorku ada di bawah pohon mangga itu. Ambil saja. Sekarang menjadi milikmu.” 

Semua orang diam. Dada Boging tampak kembang kempis. Pelan-pelan ia menurunkan pisau belatinya. Lalu mengambil kunci motor. “Pak Sam tidak menipu?” 

Aku menggeleng. Jarak kami semakin dekat. Aku tersenyum sambil mengulurkan tangan. Tidak kuduga anak itu menerima uluran tanganku setelah melempar pisau belati ke kali. Dia lalu kupeluk. “Benar, motor Pak Sam sekarang jadi milikku?” tanyanya. 

Aku mengangguk. 

“Saya tidak harus membelinya?” 

“Tidak,” jawabku. “Tapi ada syaratnya. Tiap pagi kamu harus mengantar Ning dan Nolan ke sekolah. Jam sepuluh mengantar Bu Sam ke pasar. Lalu kira-kira jam satu siang kamu jemput anak-anak dari sekolah. Itu setiap hari. Sanggup?” 

Boging menatapku. Aku tersenyum. Orang-orang bertepuk tangan. ❑ - g 

Dayu, Jakal, 2018

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 25 Februari 2018

0 Response to "Pisau Belati"