Suatu Malam di Rumah Sakit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Suatu Malam di Rumah Sakit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:51 Rating: 4,5

Suatu Malam di Rumah Sakit

KALAU tidak terlalu lelah, seseorang tak akan tidur di bangku panjang kayu jati tua itu. Tidur dalam posisi terduduk pula. Tak menghabiskan ruang karena kursi itu bisa diduduki empat orang dewasa. 

Orang tak akan betah berlamalama duduk di kursi model balok tipis panjang membujur itu. Kelewat lama duduk membuat pantat seseorang tercetak bergaris-garis, meski dia sudah lima langkah berlalu. 

Namun bagi Uky, cukuplah tidur sejenak. Meski cuma tidur-tidur ayam, sambil doyong kekanan-kiri seperti cemara tertiup angin. 

Jadwal hari ini padat. Selalu padat di stase bedah untuk dokter muda. Setiap hari adalah Senin dan tiap waktu adalah pagi. Begitulah kata kepala bagian bedah. 

Subuh bersiap untuk visite dokter spesialis bedah, pagi periksa pasien, siang sampai sore kuliah, malam jaga. Itulah jadwalnya, sehingga dalam tidur pun dia tetap bermimpi mengenai tugas ilmiah.

Mimpi dikejar-kejar tugas. Apes, tugas itu berwujud makhluk hidup. Sang kakak yang menjadi akuntan bilang kadang bermimpi dikejar-kejar tagihan cicilan rumah. Lalu mimpi Uky berganti; melihat suami-istri menangis ditinggal sang anak yang baru berumur empat belas. 

Dia terbangun karena mimpi itu.

Potongan mimpi itu benar-benar terjadi minggu lalu. Seorang anak tanggung lunas nyawa. Meninggal, menabrak tiang listrik dalam keadaan mabuk oplosan. Kepalanya benjol sebesar bakpao. Namun dia meninggal karena luka di dalam tengkorak. Meninggal di depan mata Uky, setelah diberi resusitasi jantung paru, seperti dalam film dengan menekan dada secara berirama dan sambil memberi napas buatan sampai setengah jam. 

Itu kematian pertama sejak dia menjadi dokter muda. Dia pula yang, bertopeng wajah datar, dengan hati kacau mesti menjelaskan pada orang tua bahwa si bocah mabuk itu sudah mati. 

Malam ini sepi. Tak ada pasien masuk instalasi gawat darurat (IGD).

Sebenarnya tidak aneh. Ini kan rumah sakit di kota kecil. Meski rumah sakit utama daerah tetap saja sepi. Televisi mati. Namun perawat yang lebih muda sedang menonton drama Korea di hape dari balik meja jaga. Takzim dia. Teman dokter mudanya yang jaga bersama dia juga menonton. Namun menonton perawat muda itu sambil cengar-cengir. Gemas melihat anak muda itu berbinar melihat cowok Korea yang tidak maskulin buat ukuran umum. 

Reni, itulah dokter mitra jaga Uky malam ini. Yang lebih sering pada malam-malam lain. Tentu Uky senang. Reni berwajah luhur dengan senyum yang, kalau mau percaya, membuat dengkul lelaki yang baru puber melemas. Perempuan itu berambut lurus hitam kelam. Karena dokter muda, dia harus menguncir rambut. 

Uky beranjak dari bangku jati menuju pintu utama IGD sambil memeriksa apa masih ada sekotak rokok di saku. Pikirannya masih berkabut. Nyawa belum sepenuhnya berkumpul. 

Reni melihat Uky keluar, lalu menyusul.

“Mau ke mana, Ky?” 

“Merokok sebentar. Mau ikut?”

Reni menaikkan alis, tetapi terus mengekor. Malam ini sepi. Benar-benar sepi, sehingga suara katak dari got depan pun terdengar. Tak ada suara ambulans. Mobil juga tidak ada. Hanya sesekali motor dengan knalpot memekakkan lewat. Dasar ABG labil.

Uky tercekat, ingat anak muda yang melepas nyawa karena kebut-kebutan. Mungkin mereka yang lewat itu kumpulannya juga. Jelas kematian teman tak cukup menjadi pengingat bagi mereka. Dasar ABG labil! 

Mereka beralih ke samping IGD. Tidak elok jika terlihat orang berpakaian jaga malah merokok. Ada bangku jati panjang di selasar samping IGD. Entah mengapa banyak betul bangku jati panjang tua di rumah sakit ini. Agak remang di situ. Kelipan api korek menyala sebentar, digantikan bara rokok kretek. Kepala Uky jadi agak enteng sedikit demi sedikit. 

“Masih kepikiran Rusdi, Ky?” tanya Reni.

Rusdi adalah anak tanggung yang meninggal karena balap liar itu.

“Iya. Sedikit.” 

Reni terdiam. Dia tidak menjadi saksi kematian Rusdi. Namun dia yang sang ayah saat sakaratul maut, tanpa sang ibu di sisinya.

Diam sejenak, sambil memikirkan hendak membahas topik apa. Sebelumnya mereka tidak begitu saling kenal. Setelah menjadi satu kelompok kerja, mau tak mau akhirnya mereka akrab. Kaarena itulah dia kadang bingung menghadapi Uky. 

Hening. Suara kodok terdengar lagi sesaat, ditingkahi suara keretek dari rokok Uky. 

“Ky,” Reni memanggil. “Aku kira kamu batal lanjut dokter muda. Teman-teman mengira setelah sarjana kamu bakal melanjutkan usaha ayahmu.” 

“Mauku sih begitu, Ren.” 

Dia mengisap rokoknya kembali. 

“Tapi sebelum meninggal Bapak memintaku melanjutkan. Kalau kuat, lanjut spesialis. Kalau kuat ya.” 

Kali ini dia mengisap lebih lama, lalu menahan asapnya, baru mengembuskan. Wajahnya khas. Satu per satu beban seperti lepas dari kepala.

“Usaha Bapak akhirnya diurus kakak perempuanku. Aku terima bagian saja. Kalau mau egois, sejak dulu aku tak mau kuliah berat begini, Ren. Tapi rasanya aku ingin menebus dosaku pada Bapak. Zaman beliau hidup, aku Cuma bikin susah beliau. Disuruh ke pesantren tak mau, sekolah biasa malah nakal. Untung, agak pintar,” ujar Uky seraya terkekeh pelan. Tawa satire, sedih. 

Hening lagi. Reni merasa salah pilih topik pembicaraan. Sejenak Uky menyesap rokok. 

“Waktu bapak kakak sepupuku meninggal, dia berpesan, ‘Dik, kamu masih punya bapak. Mesti kamu sayang.’ Ibuku juga begitu, settiap kali ada saudara meninggal, waktu mau uruk liang kubur, beliau menghampiri aku. ‘Lik, sekarang saudaramu sudah nggak punya bapak, sayangi bapakmu ya.’ Kalau sudah begitu, ya tak mungkinlah aku memungkiri pesan Bapak.” 

Reni tersenyum. “Anak ini ternyata sudah dewasa,” batin dia. “Bapakmu pasti senang ya lihat kamu sekarang.” 

“KalauÖ. Sayang, Bapak tak melihat. Aku menjadi seperti sekarang juga harus melewati proses Bapak meninggal dulu.” 

Orang lain mungkin canggung menghadapi pembicaraan macam itu. Namun mereka tidak. Mereka sama-sama anak yatim. 

“Untung, warisan dari Ayah lumayan, Ky. Kalau tidak, mungkin kuliahku bukan di kedokteran.”

 “Ibumu?” 

“Mama? Tidak tahu. Aku wisuda sarjana, batang hidungnya tidak kelihatan.” 

Hening sebentar. Baru suara keretek terdengar lagi, lalu menguar bau wangi tembakau. 

“Mungkin sudah senang dengan kehidupan barunya. Sama laki-laki baru. Aku merasa cukup kok. Warisan Ayah aku bawa. Lebih dari cukup, asal aku tidak jalan-jalan ke luar negeri, terus beli tas Hermes.” 

Reni tertawa kecil. Manis sekali.

Dia melepas kuncir rambut, lalu menguncir kembali. Uky melihat adegan itu dalam sorot lampu remang dari belakang Reni.

“Sori, Ren. Aku tak tahu.” 

“Tak apa. Aku juga jarang cerita ini pada teman-teman. Karena itulah, Ky, bersyukur. Setidaknya kau masih punya mama kan?”

“Oh iya, aku belum cerita ya?” Uky menatap wajah bingung Reni yang selalu manis itu. “Ibu menyusul Bapak tak sampai setahun setelah Bapak pergi. Kuburan mereka bersebelahan. Gundukan tanah Bapak juga masih tinggi. Lebaran kemarin aku memimpin tahlilan keluarga besar di depan kuburan mereka. Aku dulu nakal, tetapi masih fasih baca Yasin tahlil kok.” 

Mereka berdua tertawa. Setelah lebih dari enam bulan mereka satu kelompok, baru ini mereka bisa bicara secara lancar. Mereka jadi tahu, sama-sama tak punya orang tua. Bedanya, Uky tahu kedua orang tuanya meninggal, sedangkan Reni tak tahu apa kabar sang ibu. 

Malam masih panjang. Masih hening pula. Reni hampir bilang hari raya nanti tak punya rumah untuk pulang.

Namun belum sempat karena Uky berkata, “Aku berniat ke pedalaman Kalimantan sehabis lulus, Ren. Kalau bisa.” 

“Kok?” 

“Seperti katamu, biar orang tuaku bangga melihat anaknya berbakti.” Mereka berdua tertawa.

“Biasanya ya, ini biasanya, anak baru masuk kedokteran saat ditanya alasan kenapa masuk kedokteran, menjawab mau bantu orang, termasuk aku. Tapi saat kuliah susah, mahal pula, alasan itu menguap. Kamu berkebalikan. Dulu bilang supaya bisa mapan, sekarang lain.” 

Uky mengangkat bahu sambil menyedot rokok. “Takdir, tak ada yang tahu. Sekarang terpikir, besok-besok bisa saja niat itu meluntur.” 

Reni hendak menyahut omongan Uky, tetapi tiba-tiba terdengar suara motor memasuki pelataran IGD. Lagi-lagi korban kecelakaan balap liar. Lagi-lagi remaja tanggung. Berboncengan tiga, bocah yang tak sadarkan diri berada di tengah. Ketika dipindah ke ranjang IGD, tercium sengak minuman keras dari mulutnya.

Tak tertolong lagi. Uky lagi yang harus menyampaikan kabar kematian itu pada orang tua si bocah. Namun kali ini dia merasa lebih siap.(44)

- Alif Bareizy, alumnus SMA Negeri 1 Blora, kini kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alif Bareizy
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 11 Februari 2018

0 Response to "Suatu Malam di Rumah Sakit"