Tilas Harimau - Langgam Harimau - Mengkaji Langkah Surut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tilas Harimau - Langgam Harimau - Mengkaji Langkah Surut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Tilas Harimau - Langgam Harimau - Mengkaji Langkah Surut

Tilas Harimau

– untuk Raden Saleh

Kenapa kau biarkan air muka pagi tempias
mengasihani torehan luka di sekujur tubuhku
lambang tuah yang ditikamkan oleh seribu
ekor maut, sebelum aku memangsanya satu demi satu.
Lihatlah bagaimana ulur tangan cahayanya, justru
menumpas denyar gulita dari liang petilasanku
tentu juga merampas kilat-kilau ilahiah
yang bersemayam dalam relung suluk moyangmu.
Dengan udara seiris limau dan warna seragi kamboja
hendak ia tiriskan juga, derau cuaca pada pakis dan akasia
lembap waktu pada lumut dan batu.

Oh, hutan sungsang rimba suling
masih ada lagikah lurah, lereng, atau tebing
yang lena kelabu, bakal menyempurnakan belangku
yang haru biru, menyimpan kubur aib leluhurmu.

Jikalau sorot mata fajar budi itu
kau biarkan menghalau hantu gunung, arwah lembah
makhluk bingung, penghuni sekalian belantara lenyah.

Sementara di setiap penjuru pintu
jalan menuju ulu hati tali jantung belantara ini
kaum pemburu pirang jembut jagung
puak pengelana berkuncir akar gantung
tipak pedagang keling cangkang kenari
mengintai dengan tatapan bermata peluru
menunggu dengan dengus nafas asap mesiu.

Meskipun kau berusaha merintangi alur ke hulu
– di mana benih semesta ditanam dalam kelam –
dengan gelondong kayu, patahan dari pepatah dahulu
lembu tak bakal rebah di padang datar 
rusa tak akan terkejar di semak belukar 
pekik siamang di malam buta pertanda akan bala 
keluang melintasi pagi alamat berkah sepanjang hari.

(Sembah salamku untuk gelagatmu)

Tapi hanya berapa kali kemarau lagi
sebelum cahaya belas kasihnya – yang kau puja dengan
kuas yang berlumur, tangan yang bersih – mulai menagih
buah jerih, hewan-hewan yang diberi pakan sekadar
untuk disembelih.

Hanya berapa selisih purnama lagi
sebelum kerontang mataharinya mendahagakan gelap
paling murni, muasal dari setiap denyut hutan rimba ini.

Dan mata peluru sedia menghunjam ke segala tuju
dan setiap jengkal tanah menguarkan aroma mesiu.

Pandanglah kini. Di luar bias waktu, batas pigura itu
betapa lembu rebah di padang datar
bagaimana rusa terkapar dalam semak belukar
siang malam siamang mengguncang pucuk ketapang
keluang membenturkan diri pada beringin gadang.

“Aku lupakan harum pandan yang tumbuh di halaman
untuk membilurkan hijau yang telah mengunjungi
setiap helai rumput dan dedaunan.
Aku lupakan bau tembikar yang menguar dari dapur
ketika menyusuri jalan setapak yang belum pernah
dilalui oleh pengembara manapun.
Jangan tanyakan kepadaku perihal hutan
yang tak lagi ramah pada benalu, sebab telah aku sisihkan
lena kelabu dan haru biru itu dari kilas masa laluku.”

Kalau begitu inginmu, biar aku balur bulu dan kuku
dengan abu sisa pembakaran, biar aku simpan
aum dan geram dalam selubung kain hitam
biarkan aku khalwat ke arah malam
haribaan yang tak terjamah
oleh pedih padanan warnamu itu.

(Sembah salmku, untuk anak-keturunanmu)

Mahali, 2017

Langgam Harimau

Jangan kau alamatkan lagi sirih pinang
bagi penjaga nadi air, untuk pengawal jantung angin
pada pengasuh lambung tanah.
Atau gelombang pitunang
untuk menziarahi kuntum rahasia
warna pasi kematian terkilas di pucat kamboja
aroma mabuk kesedihan tajam sengat lantana.
Atau decak tolak bala dan siulan tiga nada
sebab musim pancaroba menyeret jubahnya
demi mengunjungi kesepian yang meninggi
di pucuk akasia, menguji ketabahan
yang menebal pada kulit trembesi.

Demi degup rimba, lenguh gunung, desah padang sabana
yang sehembus setarikan nafas dengan aumku.

Jangan kau haturkan sembah seluruh salam
sebagai puja-puji pada denyut renik sekalian alam.

Ketika suluh pandangmu padam
tongkat langkahmu patah, kitab pikiranmu latah
memilih jalur mana menuju landai lembah
jalan mana ke arah curam lurah
membaca rusuh muara dari gelagat tenang hulu
memisahkan racun cendawan dan tawar benalu.

Semenjak jelujur akar dan sulur menjalar
putus tali rima dari sampiran pantunmu
mata air tak hendak menuntun mata kailmu
menemu insang ikan di balik batu-batu
tangan angin enggan membimbing anak panahmu
mendahului lesat tungkai rusa dan lejit waktu.

Sedari petuah rimba hilang rimbun
dalam pokok kecambah gurindammu
dendam babi tak menunggu gugur kamboja
untuk menyudumu dan menghantamkan taringnya
amarah cindu akan mencegatmu
dan menyabetkan kukunya
sebelum aroma lantana menguap di udara.

Gelombang pitunang, sembah salam
tebu manis yang pernah tumbuh di bibirmu itu
kini hanya tinggal sepah serapah penyulut api jerubu.

Tak akan mampu lagi mengusik petilasanku
agar menyeberangkan nyawamu di musim bandang
tak bakal bisa lagi memanggilku untuk datang
dan mengalihkan topan dari jalanmu pulang.

“Semenjak benih hutan masih dikandung tanah
moyang kita telah saling bertukar cendera kata.
Pohon riwayat telah mencatat persetubuhan laknat
yang melahirkan anak-anak belang kala dilanda kesumat
Di lain bunga hikayat, arwah leluhurku
menunggangi jasad leluhurmu
menjaga malam kelat dengan pupil mata yang biru.

Jangan pisahkan usul arang dengan muasal abu
yang berbagi serat dalam satu jasad kayu.”

Demi gelap belukar yang bersekutu dengan belangku
jangan sebut lagi kisah-kisah lama perintang lengang itu.

Pulangkan sejumput bulu yang aku titipkan
jadi jalin gelang sumpah kita dahulu
kembalikan seruas kuku yang aku berikan
dan kau tanam dalam bandul perjanjian masa lalu.

Kemudian, hanya terkamanku
yang akan menyahut sirih pinangmu.

Padang-Depok, 2017


Mengkaji Langkah Surut

Kitab tebal yang kau kaji semalam suntuk
memang mampu menuntunmu membaca
jalinan pantun pengusir bala
untaian doa penolak hari buruk.

Ahli nujum yang kau panggil
dengan sekeping pinang dan selembar sirih
menerka takdirmu dari angka-angka ganjil
yang ia susun dari helai ubannya yang tersisih.

Beringin keramat tempat segala jihin bermufakat
dengan sebisik rayu boleh menyaru sebagai juru selamat
mengantarkanmu pada tinggi pucuk makrifat.

Tapi tak sehelai bulu pun dari serimbun cara
menanam nasib dalam muslihat umpama
yang bakal mengajarimu siasat mengambil langkah surut

Langkah bijak lagi patut
bagi kaum yang tak ingin
mati oleh jatuhan mumbang kelapa,
oleh perangkap getah nangka.

Bagi golongan yang tahu cara berkilah
dari tudingan pepatah
bahwa harimau mati haruslah meninggalkan belang
gajah mati mestilah meninggalkan gading ganih lagi panjang.

“Hari-hari naas, Guru
telah aku tukar dengan derai pasir dari tujuh muara
kelopak kembang tujuh rupa
percik air dari tujuh sumur yang berbeda.

Malam-malam celaka, lihatlah Engku
sudah aku gadaikan pada empunya marabahaya.
Kepadanya segala sakit berhulu
segala pedih bermuara.

Serasa tak seujung kuku pun dari tikaman tangan maut
yang mampu menggoreskan kata takut dalam kitab
detak jantungku.”

Syair yang lebih ngilu dari lengking seruling manapun
pernah diuntai dari gelimang tubuh sahid di medan jihad.

Serangkaian epos dengan iringan tetabuh gendang
dikumandang untuk menyambut seorang panglima perang
yang pulang dengan panji-panji musuh dalam genggaman.

Tetapi betapa golongan yang selalu menumpang biduk ke hilir
tahu bahwa hidup paling lugu
adalah berserah pada arus dari hulu.

Betapa kaum yang lihai berenang-renang ke tepian
paham bahwa kematian lebih dingin
bahkan dari bebatuan yang berharap hanya
pada pelukan lumut dan belaian kerakap.

Jika kau rasakan sekerikil ragu
menyelip dalam alas kakimu
sehembus gamang meniup bulu remang di tengkukmu
tanpa mengucap dan melafal nama si anu
picingkanlah matamu.

Langkah surut, langkah bijak lagi patut ini
boleh kau ramu dengan siasat pepatah lama itu
kilik rusa mengelak dari sekawanan serigala
pekik beruk membangunkan seisi rimba raya.

Agar kau segera tunai mengkaji
langkah terakhir langkah para petarung yang berusaha mangkir
dari terkaman takdir.

Kandangpadati-Mahali 2016-2017



Fariq Alfaruqi lahir di Padang, Sumatera Barat, 30 Mei 1991. Alumnus Fakultas Budaya Universitas Andalas. Bergiat di komunitas Kandangpadari dan Lembaga Kebudayaan Ranah. Saat ini bermukim di Depok. 




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fariq Alfaruqi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 24 Februari 2018

0 Response to "Tilas Harimau - Langgam Harimau - Mengkaji Langkah Surut"