Tragedi-tragedi di Tramway | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tragedi-tragedi di Tramway Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:00 Rating: 4,5

Tragedi-tragedi di Tramway

SALJU turun begitu deras pagi ini. Kota Konya telah sempurna menjadi putih seperti hamparan kain kafan yang panjang. Aku tak bisa memalingkan pandangan mataku kepada rumah-rumah dan pohon-pohon ringkih yang serupa jejeran batu nisan. Tak ada suara sama sekali yang bisa kudengar pagi ini, dari apartemen menuju durak tramway yang berjarak sekitar durasi menikmati segelas teh orang Turki. Di durak Fakultas Hukum, ada beberapa orang yang tengah menunggu tramway. Aku tak bisa mengenali wajah mereka. Tubuhnya dibungkus rapat jaket tebal, penutup telinga, syal, dan topi dari bulu domba.

TAK sampai lima menit, tramway yang kami tunggu tiba. Aku biasa naik di pintu paling belakang, lalu menyusuri koridor menuju kursi bagian tengah. Dan di tramway tua berwarna merah putih (warisan dari Jerman) itu aku biasa mengambil posisi duduk di kursi bagian tengah gerbong.

Fakultas Hukum adalah durak pertama, tetapi ternyata sudah banyak penumpang yang duduk beku di dalam tramway. Apalagi tepat pukul 06.00 pagi hari, jadwal tramway pertama di kota ini. Tapi siapa mereka? Entahlah. Mungkin ini faktor lembap yang menyembulkan asap pada kacamataku karena mesin pemanas ruangan di tramway sedang menyala. Di antara titik-titik rembes di kacamata, aku melihat mereka duduk rapi dengan wajah tertunduk. Seperti tengah bermain khusyuk dengan telepon pintar atau memang sengaja menyembunyikan wajahnya.

Entahlah, sedang apa mereka….

Setelah mendapatkan tempat duduk di sebelah kiri, aku merasa ada seseorang datang menyeret langkah dari belakang menuju kursi di sampingku. Aku mengira mungkin ada yang mau duduk di sampingku.

“Mau ke mana?” sapanya dingin.

Aku terdiam kaget. Bukankah di tramway tidak pernah ada petugas atau sejenisnya yang menanyakan tujuan?

Aku coba perhatikan wajahnya lebih lekat. Dia menunduk dengan topi jaket yang menutupi kepala dan kain syal yang dibalutkan ke hidung dan mulutnya. Nyaris hanya bisa dilihat matanya yang tampak putih dan dingin.

“Mau ke mana?” dingin suaranya kutangkap jelas, sedingin kaca tramway yang sedang dibelai kapas-kapas putih yang turun pagi hari.

Aku tidak mau membalasnya. Aku duga dia hanya seorang pemuda mabok yang tersesat hingga pagi begini, atau mungkin pengungsi Suriah yang ingin mengganggu dan membikin keributan.

“Mau ke mana?” ujarnya sekali lagi. Suaranya tetap dingin tanpa ekspresi, tapi sedikit meninggi.

“Anda siapa?” aku bertanya balik. “Bukankah orang-orang di tramway ini sudah tahu tujuan masing-masing?”

“Tidak semua penumpang dalam tram ini tahu tujuan hidup mereka.”

“Tujuan hidup?”

“Bukankah hidupmu sekarang adalah peristiwa naik tram dan di dalam tram. Apakah kamu sedang menjalani kehidupan yang lain, di luar sana?”

“Ya, hidupku saat ini ada di dalam tramway. Terus kenapa?”

“Tidak semua penumpang dalam tram ini tahu tujuan hidup mereka,” dia kembali mengulangi.

“Termasuk Anda, golongan yang tidak tahu tujuan hidup?”

“Aku tidak termasuk. Mungkin kamu saja.”

Tiba-tiba kupastikan hidupku saat ini, hidup di mana dan bersama dengan siapa. Di dalam tramway yang terus melaju menembus bentangan rel pada hamparan salju, aku kembali melihat orang-orang yang merunduk di kursi tanpa cakap. Mereka sama seperti sedia kala, menunduk dan menyembunyikan wajah.

Sementara orang yang sedari tadi bercakap denganku masih berdiri di samping tempat dudukku. Setiap durak yang dilewati, dia mengangkat tangan menunjukkan arah ke depan, seperti memberi aba-aba agar tramway terus melaju tanpa berhenti dan menaik-turunkan penumpang.

Aku mulai berpikir aneh. Jika setiap durak yang dilewati tanpa berhenti, bagaimana aku bisa memberhentikannya ketika tiba di kampusku? Aku harus turun dari tramway ini secepatnya, meski durak tujuanku masih jauh. Aku harus pindah dan terbebas dari tramway keparat ini.

“Mau ke mana?” sergapnya bersamaan ketika aku hendak berdiri.

“Mau turun!”

“Apakah tujuanmu sudah sampai?”

Aku tidak paham. Pikiranku kacau.

“Ya, tujuanku sudah sampai. Durak Otogar!”

“Ke Otogar? Ke mana lagi kamu akan menyambung tujuan hidupmu?”

“Tujuanku naik tramway ke Otogar! Tujuan hidupku sekarang ke sana.”

“Tidak. Kamu termasuk golongan yang tidak tahu tujuan hidup.”

Aku terdiam dalam ketercekatan yang menjengkelkan. Ingin sekali berteriak dan mendamprat sosok keparat di depanku ini.

“Apakah salah mengubah tujuan hidup?” tannyaku kemudian. Kesal.

“Dalam tram ini tidak diperbolehkan mengubah tujuan hidup.”

“Siktir git. Aku harus turun!” Aku langsung melesat menuju pintu dan menekan tombol berhenti.

Orang itu kembali mengangkat tangannya, seperti memberi isyarat. Dan tramway terus melaju melewati durak Otogar. Tramway tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti sama sekali.

Di tengah kebingungan yang meringkusku dengan beringas, aku terkejut melihat orang-orang yang sedari tadi menunduk dan menyembunyikan wajahnya bangkit dari tempat duduknya. Mereka seperti zombie di pagi hari. Matanya pucat, jalannya diseret tertatih.

“Kalian mau ke mana?” bentakku seketika.

“Kami mau ke Aleppo,” jawab mereka serentak.

“Apa? Aleppo? Kalian sedang bercanda, bukan? Aku datang ke sini bukan untuk perang!”

“Ya, tujuan kami ke Aleppo. Kamu harus ikut bersama kami ke Aleppo, menyaksikan jerit tangis manusia dan luka-luka yang darahnya bersimbah di jalanan.”

“Tidak bisakah aku memilih tujuan berbeda selain Aleppo?”

“Bagi kami tujuan hidup hanya satu. Kami tidak bisa memilih bebas, sepertimu. Sekarang cobalah menjalani hidup tanpa pilihan lain selain ke Aleppo,” mereka berkata serentak dan sama, seperti robot yang sudah diprogram.

“Tidak! Aku harus turunn!!!!” aku berteriak kencang, sembari meloncat dan memecah kaca di pintu tramway. Tubuhku terbang dan terjatuh di atas tumpukan salju. Sebuah buku puisi hadiah dari Ala, sahabatku dari Aleppo, yang kusimpan di saku tasku terjatuh di atas salju. Sebelum buku gubahan Aşik Ömer itu kuambil, aku membaca larik terakhi di sana: ifte geldim gidiyorum şen olasin Halep şehri.

“Kenapa terburu-buru turun sampai jatuh begini?”

“Hati-hati, Nak!”

“Anda baik-baik saja, kan?”

“Kalau mau main bola salju jangan di sini. Coba ke Bukit Alaaddin.”

Suara-suara itu kudengar sayup-sayup dari mereka yang berdiri di sekitarku. Mereka kemudian beranjak ke pintu durak tramway. Di tengah ketekejutan yang kacau pagi itu, aku ingin berteriak kepada mereka agar tidak naik tramway. Aku tidak ingin melihat orang-orang tua tadi dibawa ke Aleppo. Tapi aku tidak berdaya. Teriakanku tidak mereka gubris.

Dari belakangku datang seorang ibu paruh baya, “Kamu kelihatan mengantuk sekali pagi ini. Apa ketiduran di tramway?” tanyanya.

Aku terdiam. Pikiranku masih kacau sembari menatap tramway seperti ulat raksasa yang meliuk-liuk di tengah gemutih salju. ***

Istilah Asing:
Siktir git: Fuck off
Otogar: Terminal bus
işte geldim gidiyorum şen olasm Halep şehri: Aku telah datang dan kembali pergi engkau adalah serupa kegembiraan wahai Aleppo

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bernando J Sujibto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu, 4 Februari 2018

1 Response to "Tragedi-tragedi di Tramway"