Zera | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Zera Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:34 Rating: 4,5

Zera

BU Raka mengadu lagi pada Bu RT. Suaminya diam-diam punya wanita simpanan. “Sudah lama uang belanja bulanan saya terus dikurangi. Turunnya juga seret. Kalau sudah saya ancamancam akan bunuh diri, baru dia membuka dompet. Tapi sudah siang. Mau masak apa coba. Akhirnya saya sering minta makan ke rumah tetangga supaya tidak mati. Eh, pulangpulang, dia ngamuk, ribut tidak ada makanan. Padahal kalau ada juga, menoleh sebelah mata pun tidak. Segalanya jadi salah. Saya heran, dia sering marah-marah tanpa alasan. Segalanya dia gampar, tak terkecuali saya. Untung, anak saya Risky selalu melindungi. Dia tidak takut lawan papa tirinya yang kesetanan itu. Saya suruh Risky terus latihan fitnes supaya ototnya kuat. Nanti kalau tiba-tiba berantem supaya tidak kalah. Kalau mulut papanya pedas, harus dia jawab lebih pedas lagi. Kalau papanya banting kursi, Risky juga saya suruh banting kursi. Masa dia nuduh saya sudah morotin sampai dia bangkrut. Saya juga selalu dia tuduh bawa sial. Batu bara hancur, nyalahin saya. Gagal nyaleg, dia bilang saya tidak bawa hoki. Padahal yang selalu bikin perkara kan itu, si Riene anak kandungnya. Perempuan kegenitan itu maksa-maksa papanya menceraikan saya dan menuntut semua warisan jatuh ke dia. Anak saya jadi marah. Kalau saya tidak cegah dia sudah ngamuk. Untung, bisa saya bujuk. Lalu dia hanya mengadu ke LBH. Papanya kaget, mengeluarkan pistol. Entah dapat dari mana, entah ada isinya atau tidak. Tapi saya kan jadi stres. Akhirnya, saya...” 

Putus. Bu Raka menyemburkan tangis. Dengan tangkas Bu RT menenangkan seperti biasa, sambil mengusap- usap. Tapi tangis tamunya terus mengucur. Baru setelah disuguh makan, ia anteng kembali. 

“Makannya lahap sekali, seperti orang kelaparan, Pak. Masa sih orang kaya begitu kelaparan? Pulang juga minta dibawain, untuk makan malam, katanya!” lapor Bu RT kemudian entah sudah berapa puluh kali pada suaminya. “Kalau kelas dia saja kelaparan, bagaimana kita ini?” 

“Ya betul, Bu RT, serius! Sudah enam bulan saya hanya makan mi instan. Yang lain tidak ada yang bisa masuk!” 

“Jangan, Bu Raka! Kebanyakan makan mi instan sama dengan bunuh diri.” 

“Tapi kan enak!” 

“Semua yang enak berisiko tinggi. Enak di mulut, racun di perut!” 

Biarin, yang dalam perut kan tidak kelihatan! Yang tidak kelihatan bukan urusan kita!” 

Bu RT tersenyum. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan otak yang lagi kacau. Tetapi ia tak bisa membiarkan warganya sesat terlalu jauh. 

“Kalau Bu Raka makan mi instan terus berarti selalu membuang makanan yang saya sering berikan dong?!” 

Bu Raka bingung, tak menjawab. Ia loncat ke soal lain.

“Sekarang saya mulai minum pel mengurangi tekanan, karena tekanan saya sering sampai 120. Tinggi kan, Bu RT?” 

“Siapa bilang, 120 itu normal.” 

“Bukan 120, melainkan 210!” 

“Wah, 210? Itu tinggi sekali. Ibu harus ke UGD. Cepat, sebelum kecolongan!” 

“Betul, Bu RT. Risky juga bilang begitu. Tapi bagaimana ya, ke UGD kan repot, jauh, belum kalau dimainkan rumah sakit. Periksa sini, periksa sana. Mau bilang mencret saja, pakai periksa jantung, periksa darah, dironsen. Nanti kalau saya dikirim ke rumah sakit gila bagaimana? Memang itu tujuannya! Supaya saya pergi dari rumah. Jadi dia merdeka dengan cemceman-nya dan si Riene ambil alih semua. Tinggal Risky yang akan jadi anak ayam kehilangan induk. Aduh, tak kuat saya. Akhirnya, akhirnya saya....” 

Putus lagi. Ibu kaya yang kelaparan itu sekali lagi dilabrak tangis.

Bu RT kemudian menyelipkan selembar 50-an ke tangan Bu Raka. Langsung tangisnya tamat. Lalu ia mau pulang ke rumahnya yang berlantai tiga di ujung. “Itu dia. Kenapa aku kemarin ngotot menentang kamu jadi ketua RT!” kata Amin ngedumel. “Sudahlah. Mundur saja, Bu!” “Lo, Pak, kamu ini bagaimana! Mau saya langsir? Jangan berpikir negatif terus! Ini kan risiko. Mana ada jabatan tanpa risiko. Katanya ingin belajar jadi caleg.

Sudah, bersihkan rumah, jangan sambat aja, aku nengok saudara dulu! Nanti kalau tetangga baru itu lapor mau bawa tamu untuk nginap, tahan KTPnya, jangan terulang kasus sodomi itu lagi!” Amin tak bisa membantah. Sejak istrinya jadi ketua RT, ia tak bisa ke manamana, karena seluruh kegiatan rumah praktis jatuh ke tangannya. Maka ketika dulu warga mencalonkan dia jadi ketua RT, ia angkat tangan. Tapi istrinya kepengin. Teman hidupnya itu ngiler dipanggil Bu RT. 

Menjelang sore, datang Pak Raka. Curhat dia juga tak sedikit. Entah tahu entah tidak istrinya langganan menangis di rumah Bu RT. Ia begitu saja nubruk Amin.

“Pak Amin, payah!” 

“Apalagi, Pak Raka? Kan mobil baru ganti!” 

“Bapak-bapak menteri ada-ada saja! Masa pembangunan Menara Jakarta kerja sama dengan Tiongkok, pelaksanaannya mau ditumpahkan ke saya!” 

“Oh ya? Hebat, Pak Raka! Selamat! Saya bangga!” 

“Tapi itu kan berat! Pasti makan bertahun-tahun. Banyak intrik, friksi, kontradiksi, gosip, sikut-sikutan, iri hati. Salah sedikit, saya bisa digantung KPK!” 

“Itu risiko! Tapi proyeknya kan gede, Pak. Untungnya pasti juga gede banget! Ya nggak?” 

“Memang.” 

“Bapak yang terpilih dari 250 juta rakyat Indonesia. Itu kan tandanya Bapak hebat! Masa sih, bapak-bapak di atas akan memilih saya. Pasti mereka pilih Bapak yang hebat?! Selamat!” 

Amin menyambar tangan Raka. Mengguncangnya berapi-api. Tapi muka Raka kelihatan loyo.

“Tapi rumah tangga saya lagi galau, Pak Amin. Tahu kan, istri saya belakangan ini stres, lalu suka berhalusinasi. Dia sudah tahu dari berita koran, TV, ekonomi kita lagi merosot, rupiah terpuruk, semua menjerit. Saya banyak tugas, saya perlu konsentrasi, kok saya dituduh punya simpanan bini muda? Bini muda tahi kucing! Bini muda saya tugas negara! Memang saya jarang di rumah, tapi itu kan karena saya sibuk membantu menteri mau buat Menara Jakarta sebagai ikon Indonesia, proyek mercu suar bersama dengan Republik Rakyat Tiongkok. Uang belanja sudah saya dongkrak, tapi dia terus saja ngaku ke tetangga saya potong sampai tidak bisa makan. Itu bullshit. Bawaannya tegang, curiga, marah terus. Akibatnya, jangankan anak saya, anaknya juga tidak dia urus. Masa si Risky pernah memukul saya! Lo jelek-jelek begini saya kan papanya! Risky sudah jadi liar dan narkobais sekarang! Masa Riene, anak saya, adiknya, mau dia perkosa? Saya laporkan saja dia ke polisi! Eh, dia malah mengadu ke LBH supaya status saya diajukan ke pengadilan berada di bawah pengampuan! Supaya saya tidak berhak melakukan tindakan hukum sendiri! Itu kan sama dengan pembunuhan! Itu otak sesoprenia ibunya! Ternyata dia paranoid, berkepribadian ganda! Bekas Ratu Kebaya kok begitu! Tadinya waktu kami menikah, dia santun, intelek, berkarakter! Sekarang kok tahi kucing, jadi iblis begitu! Kepala saya hampir pecah mikirin kelakuannya. Shit! Shit! Akhirnya, akhirnya....”

 Putus. Bu Amin muncul. 

“Tumben, Pak Raka pulang sore!” 

Raka kaget. Gugup menyapa, “O, Bu RT. Selamat sore. Dari mana? Apa kabar? Apa itu?” 

Bu RT mengangkat kurungan kucing yang dia tenteng dari rumah keponakan. 

“Ini Zera. Anak kucing persia, punya ponakan. Istrinya mengandung, dokter nyuruh kucing diungsikan dulu, bulunya bisa menyebabkan tokso plasma yang mengganggu janin. Jadi Zera dibuang, cuma sayang harganya mahal. Jadi mending saya tampung.” 

Amin terkejut. 

“Tapi kalau kita pelihara, aku kan bisa asma?” Bu RT kaget.

“Astaga, kok saya bisa lupa Bapak alergi bulu kucing?” 

“Lagian itu kan kucing ras! Makanannya, dokternya, akan morotin kita. Itu kucing orang kaya. Bukan untuk kita. Itu mainan untuk bos-bos seperti Pak Raka yang mau jadi kepala proyek Menara Jakarta ini.” 

Raka ketawa. 

“Mau mengadopsi Zera, Pak Raka?” 

“Adopsi?” “Ya!” 

“Adopsi kucing?” 

“Ya!"

Raka ketawa. Bu RT mengangkat tentengan plastik berisi dokumen Zera. 

“Di sini ada akta kelahiran Zera. Buku harian Zera. Jadwal dokter, daftar makanan, kaset lagu kesayangan dan video yang suka dia tonton.” 

Raka tertawa geli. 

“Mau tidak?” 

“Oke, oke, saya adopsi. Tapi saya harus bayar berapa juta?” 

“Tidak usah bayar, asal dipelihara selayaknya sebagai anggota keluarga.” 

“Oke, oke, deal, akan saya pelihara sebagai keluarga!” 

Mereka bersalaman. 

“Terima kasih, Bu RT. Hanya satu permohonan kecil. Tanpa mengurangi rasa hormat saya atas kebaikan hati Bu RT, saya mohon, kalau istri saya datang kemari mau curhat, mohon tolak saja. Dia itu sesoprenia, depresi, paranoid, berkepribadian ganda, dan suka berhalusinasi. Kalau ditanggapi, dia akan merasa didukung dan dibenarkan. Dan, maaf, tolong jangan sekali-sekali memberi dia makanan kampung. Perutnya supersensitif. Kemarin sampai dilarikan berobat ke Sing. Oke, terima kasih. Selamat sore!” 

Raka cepat menenteng kurungan kucing ke mobil. Bu RT dan Amin ternganga. Tak percaya apa yang mereka alami. 

“Itu bukan Pak Raka yang kita kenal, Pak. Itu orang lain!” bisik Bu RT. 

“Ya! Kelihatan sekarang, jiwa dia yang terganggu!” 

Malam hari Bu RT tetap bengong. Ia menyesal telah menyerahkan Zera pada orang yang lagi sakit jiwa. Lalu ia memutuskan mengambil Zera kembali. 

Sembari ngumpat dalam hati, Amin terpaksa ikut. Ternyata rumah Raka gelap gulita. Bu RT berusaha ngintip. 

Kedengaran ada suara percakapan di dalam. Amin hampir saja mengetuk pintu. Tiba-tiba lampu teras menyala. Bu RT menyambar tangan suaminya untuk bersembunyi. 

Lalu kedengaran derai suara tertawa bersama. Pak Raka memegang sebatang lidi dengan robekan kertas bekas kresek di ujungnya. Ia memainkan kertas itu hingga Zera dengan serius penuh semangat menerkam, mengejar, melompat, jatuhbangun. Semua ketawa histeris. 

Kemudian sambil mengeluarkan bujukan dan kata-kata lembut, bergantian pegang lidi. Bu Raka menari-nari, Risky bergulung dan Riene menyanyi. 

Bu RT dan Amin ternganga melihat orang dewasa itu jadi lebih dari anak-anak. Ketawa mereka meledak-ledak, terpingkal-pingkal tak putus-putus. Kegelapan rumah itu berubah jadi cahaya kebahagiaan yang lembut dan begitu mengharukan. 

Ketika Raka terjatuh karena terlalu bersemangat mengelaki terkaman Zera, kucing itu terkejut, lalu ngibrit masuk rumah. Semua membantu Raka bangun, lalu bersorak tertawa melihat celana calon kepala proyek Menara Jakarta itu robek. Raka cekakakan. 

Zera mengeong seperti minta permainan diteruskan. Semua menyusul masuk sambil tertawa. Tapi Raka salah langkah, oleng. Bu Raka menggapai, tapi terlambat. Keduanya jatuh pelukan. Amin tertawa, hampir saja bertepuk tangan. Bu RT cepat menutup mulut suaminya dan segera membawanya pergi. (44)

Jakarta, 10 November 2015

- Putu Wijaya, yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya, adalah sastrawan serbabisa. Pria kelahiran Tabanan, Bali, 11 April 1944, ini menulis esai, cerpen, novel, naskah drama, serta skenario sinetron dan film. Dia juga melukis serta bermain dan menyutradari teater.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Wijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 25 Februari 2018

0 Response to "Zera"