Aku Sekarang Masih Berjalan - Gemuruh Rindu Mengalir - Jika Musim Hujan Ini Berakhir - Kau Lihat Lidah Ombak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Aku Sekarang Masih Berjalan - Gemuruh Rindu Mengalir - Jika Musim Hujan Ini Berakhir - Kau Lihat Lidah Ombak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Aku Sekarang Masih Berjalan - Gemuruh Rindu Mengalir - Jika Musim Hujan Ini Berakhir - Kau Lihat Lidah Ombak

Aku Sekarang Masih Berjalan 

Menuju Taman Bungamu
Jalan yang membentang di hadapanku
menuju taman bungamu, terlalu banyak jurang
curam
engkau apakah masih menungguku
yang entah kapan sampai?

Kesetiaan bukit pada laut, kecintaan angin pada
lembah; kuharap engkau pahami
Sehingga bagaimana pun engkau berdiri di
atas bukit
dengan tatapan jauh ke laut; sikap suka mengalahmu
dan rasa cintamu senantiasa terjaga, bersandar
di lengan
Allah. Aku sekarang masih berjalan
menuju taman bungamu, tentu, dengan perlahan
dan sangat hati-hati. Ou, Weisku!

Cirebah, 16 Februari 2017

Gemuruh Rindu Mengalir

di Sela-sela Sunyi Bebatuan
Melihat gunung yang tinggi dan jauh
hal apa yang sesungguhnya engkau lihat?
Adakah engkau bayangkan seseorang
tengah berada di pundak gunung itu
tengah memetik edelweis untukmu
dan ia bermandi kabut dalam langkahnya
yang lelah
Atau engkau membayangkan, air terjun
yang turun dari ketinggian terjalnya
bebatuan cadas, dengan suara gemuruh
serupa gemuruh rindumu
mengalir di sela-sela sunyi bebatuan

Pejamkanlah matamu, ada pelangi
yang turun dari pundak gunung itu
membelah lembah, dan turun di halaman
rumahmu yang sangat sederhana

Dari pelangi yang jatuh itu
muncul seseorang yang di tangannya
menggenggam edelweis, dan -
o, mengulurkannya kepadamu!

Jaspinka, 03 Maret 2017


Jika Musim Hujan Ini Berakhir

Jika musim hujan ini berakhir, apakah kabut
masih turun dari bukit dan lembah
tempat kita dulu memetik edelweis?
Mudah-mudahan kabut sudah menipis
dan jalan setapak ke lembah dan bukit itu
bisa dengan mudah kita susuri

Tetapi aku harap-- engkau tidak terlalu
mendambakan; sepasang kupu-kupu
bersayap pelangi
menziarahi kubur kenangan
yang bertabur serbuk edelweis!

Jaspinka, 07 Maret 2017

Kau Lihat Lidah Ombak

Memecah Tebing Karang
Kalau kemudian kaulihat lidah-lidah ombak
memecah di tebing-tebing karang
Ketika kakimu gemetar di bibir pantai--
keriduan
serupa apa yang hendak kaularungkan
ke laut jauh yang dalam?

Masa lalu kelam dan dendammu
yang mengendap dalam dadamu,
muntahkan
muntahkan, muntahkan ke laut lepas hingga
tandas
hingga tak ada lagi sembilu dan sebutir pasir
yang panas dalam dada

Berenang engkau sambil berteriak-teriak
sekuat tenaga
sekeras-kerasnya. Lalu kautuliskan citacintamu
di pelangi yang jatuh ketika senja merah
kekuningan
Apakah engkau masih ingin berumah
di tepi laut hatiku?
Ah, terlalu pahit untuk dilupakan!

Cirebah, 14 Februari 2017

*)Eddy Pranata PNP, sejak Agustus 2004 mengelola Jaspinka (Jaringan Satra Pinggir Kali) Cirebah, Indonesia. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Menulis antologi tunggal maupun bersama. Tinggal di Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 25 Maret 2018

0 Response to "Aku Sekarang Masih Berjalan - Gemuruh Rindu Mengalir - Jika Musim Hujan Ini Berakhir - Kau Lihat Lidah Ombak"