Bunga dari Sekar Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Bunga dari Sekar Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Bunga dari Sekar Langit

PERMAISURI selalu tampak duduk murung di istananya. Sudah lama ia dan sang raja, suaminya, mendambakan seorang putri. Namun mereka belum juga mendapat anak.

Pada suatu malam, Permaisuri bermimpi bertemu dengan orang tua berjenggot putih.

“Permaisuri, kalau kau ingin melahirkan seorang putri, pergilah menemui seorang pertapa di lereng gunung Sekar Langit,” kata orang tua itu, kemudian tertawa sambil mengelus jenggotnya. Orang tua itu lalu menghilang di antara kabut putih.

Permaisuri terbangun. Pada pagi harinya, ia menceritakan mimpi itu pada Raja.

“Dinda, mimpimu itu bisa saja menjadi kenyataan. Ayo kita temui pertapa itu. Besok pagi kita berangkat ke Gunung Sekar Langit. Kurasa ini satu-satunya cara untuk mendapatkan putri yang kita dambakan,” ungkap Raja dengan penuh keyakinan. Di matanya terbayang bayi mungil yang lucu. Permaisuri pun turut hanyut dalam bayangan itu.

Esok hari berikutnya, Raja, Permaisuri, dan beberapa pengawal berangkat menuju Gunung Sekar Langit. Raja menyerahkan urusan pemerintahan sementara ia pergi kepada sang Patih. Kereta dengan kuda-kuda penariknya beserta pengawal-pengawal berkuda pun melaju. Perjalanan dapat mereka tempuh selama dua hari dua malam.

Setelah bertemu, sang pertapa memberi sekuntum bunga kepada Permaisuri. Sang pertapa berpesan agar bunga itu dijaga supaya tidak layu sampai di istana. Namun selama perjalanan pulang ke istana, Raja dan Permaisuri lalai. Mereka menyuruh para pengawal untuk menjaga bunga itu. Padahal seharusnya Raja dan Permaisuri sendiri yang menjaga. Setibanya di istana, bunga itu sudah layu.

Dua bulan pun berlalu. Permaisuri benar-benar mengandung. Namun selama mengandung, terjadi keanehan. Permaisuri selalu ingin menyentuh bunga-bunga yang tumbuh di taman. Jika Permaisuri menyentuh bunga-bunga itu di pagi hari, maka sorenya bunga-bunga itu layu. Jika disentuh pada siang hari, maka pada malamnya bunga itu layu. Jika disentuh pada sore hari, maka esok harinya bunga itu layu,

Peristiwa itu membuat Raja sangat sedih. Sebab, jika sehari saja Permaisuri tidak menyentuh bunga segar, maka wajah Permaisuri akan menjadi pucat pasi, layu. Raja akhirnya memerintahkan seluruh rakyatnya untuk membuat taman-taman dan menanam aneka pohon bunga. Keadaan seperti itu berlangsung hingga Permaisuri melahirkan.

Bayi perempuan yang lahir ternyata juga berwajah pucat pasi, layu. Raja dan Permaisuri sangat sedih. Mereka mencoba menyentuhkan bayi itu ke bunga-bunga yang tumbuh segar di taman. Tetapi tidak ada hasil. Mereka meratapi nasib malang. Mereka sadar, semua itu akibat kelalaian mereka yang tidak menuruti pesan sang pertapa. Sayangnya, pertapa itu sudah meninggal.

Tujuh tahun pun berlalu. Raja dan Permaisuri menamai putri mereka, Putri Damba Seri. Walau telah tumbuh besar, namun wajah Putri Damba Seri masih tetap pucat. Karena keadaannya itu, ia dilarang ke luar istana.

Suatu hari Putri Damba Seri diam-diam ke luar istana. Namun sampai di luar, ia diejek oleh anak-anak sebayanya. Tak tahan menerima ejekan itu, ia berlari menuju taman yang sepi. Ia duduk di sebuah batu besar di tepi kolam taman sambil menangis. Ia tidak sadar kalau ada anak laki-laki berwajah buruk dan berpunggung bongkok pelan-pelan mendekatinya.

“Aku tahu kau adalah Putri Damba Seri,” katanya mengagetkan Putri Damba Seri.

“Kau siapa? Dari mana kau tahu namaku?”

“Namaku Bongkok Buruk Rupa. Kakekku yang memberitahuku tentang namamu. Kakekku pertapa di Gunung Sekar Langit. Tujuh tahun lalu sebelum meninggal, kakekku berpesan. Bila suatu saat aku bertemu dengan anak perempuan berwajah pucat di taman ini, aku harus menyerahkan bunga abadi ini kepadanya,” kata anak laki-laki yang berusia sekitar empat belas tahun itu. Ia lalu menyerahkan sekuntum bunga kepada Putri Damba Seri.

“Terimalah. Namun sebelum kaucium bunga abadi itu, jawablah dulu pertanyaan kakekku yang dipesankan kepadaku.”

“Pertanyaan apa?”

“Bagaimana caranya agar bunga itu tidak layu?”

“Dia harus dirawat dengan setia dan kasih sayang,” jawab Putri Damba Seri penuh keyakinan.

“Sekarang ciumlah bunga itu. Resaplah harumnya yang abadi. Akan kaurasakan kebahagiaan.”

Putri Damba Seri mencium bunga itu, menghirup harumnya yang meresap ke dalam hidungnya. Saat itulah wajah Putri Damba Seri berubah cantik dan berseri-seri. Wajahnya tak lagi pucat.

Sejak saat itu Bongkok Buruk Rupa mengubah nama Putri Damba Seri menjadi Putri Seri Sekar Langit. Dan mereka jadi sahabat akrab.***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eista Swaesti
[2] Pernah tersiar di "Majalah Bobo" No. 36 Tahun XXVIII 7 Desember 2000

0 Response to "Bunga dari Sekar Langit"