Catatan Justus - Pacu Jalur Rantau Kuantan - Dalam Loods - Potret Malam di Kota Tua, Jakarta - Sipisang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Catatan Justus - Pacu Jalur Rantau Kuantan - Dalam Loods - Potret Malam di Kota Tua, Jakarta - Sipisang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Catatan Justus - Pacu Jalur Rantau Kuantan - Dalam Loods - Potret Malam di Kota Tua, Jakarta - Sipisang

Catatan Justus

Barangkali Justus akan mencatat
Menit awal dari eksekusi terakhir
Di Stadhuisplein itu begini,

”Apa yang tak terekam oleh mata, tapi
Tercatat oleh tinta adalah maut yang
Bertengger dua hasta dari batang leher.”

Justus kembali menarik pena, serupa busur,
Hingga dawat merebak di jantung kertasnya,

”Puluhan, bahkan, ratusan, tatapan
Milik para perempuan lintas ras yang
Belum sempat dikencani, tiba-tiba
Memberi makna bagi segunung sepi.”

Lantas, Justus menambahkan lagi begini,

”Mata yang sakit di kepala-kepala itu
Telah membunuhnya lebih dulu
Sebelum pisau melayari tubuh
Dan tali gantungan keparat itu
Menyeret jiwanya ke langit jauh.”

Namun, sembari ia selesaikan catatannya
Kita bayangkan Justus bergumam,

”Maafkan aku, Impeh, karena kadang
Asmara bikin kita punya lagak
Jadi sedikit aneh – dan nyeleneh.”

Meski begitu, Justus tentu tak mencatat itu
Semua, kecuali semata khayalannya sehingga
Kisah ini diterakannya buat kita semua,

”Seorang Totok mati-bonyok, sama
Itu mata perempuan habis dikeroyok.”

Mata pena Justus berkilat, seperti ujung bayonet
Dan sebuah sejarah menyembur begitu deras,

”Tjoe Boen Tjiang, 1896,
Kena pasal Bataviasche Ordonnanties
Lantaran tak ada aturan soal cinta dan asmara
Maka kita doa biar dia damai – damai di ’sana’.”

Hatta, agar kisah itu dikenang kembali, Justus
Menyisipkan alusi yang akrab di kuping kompeni,

”Yesus disalib karena dianggap membangkang
Tapi langit menerjemahkannya sebagai cinta
Yang tak lekang – aku tak tahu soal lelaki ini
Karena mungkin dia sedikit berbeda, barangkali.”

Di penghabisan dawat, Justus teringat
Di Holland, hukuman mati tak sebanyak di sini
Akan tetapi, apa yang bisa ia lakukan di negeri
Yang bahkan belum terhapus dari peta buta
Kerajaan-kejayaan negerinya, dari mabuk kuasa
Berkepanjangan keturunan Willem nun jauh di sana?

Kini, kita bayangkan Justus diam-diam menepikan
Catatan itu seraya bertanya sekaligus berdoa,

”Tuhan, apa kami tak seharusnya di sini?
Tuhan, apa kami juga akan diadili oleh
Puak tungau-pencuri ini, suatu hari?”

2017

Pacu Jalur Rantau Kuantan

Marie, saat bodial menjerit
Menjalarkan suara sampai
Ke urat air, kau akan lihat
Berpuluh jalur yang dikayuh

Waktu mengucur serupa peluh
Di antaranya: kita, terjebak teluh

Lantas, temukanlah di sana
Kipas nyonya yang terkembang,
Lebar, bagai layar kapal dagang
Milik maskapai leluhur yang hilang

Tapi tak lagi terpahat ukiran naga
Dan kepala ular atau roman harimau
Juga rupa-rupa buaya di mana-mana

Selain sebentuk gurat Wilhelmina
Turun manja, serupa langsai senja

Lantas, saat bodial menjerit kembali,
Juru mudi segera menyibak duka ini:

Di situ, datuk dulu memintas jalan
Mencari mentika para bangsawan
Cinta yang bukan lagi pampasan

Sedangkan di antara itu semua:
Jembatan patah, selebihnya arus
Berupaya membangkitkan ritus
Meninggikan kor ”Wilhelmus”

Tak akan ada hantu air dan romusha
Juga kereta terakhir bertapal duka
Kecuali masa lalu lepas dari junjung
Di punggung sungai terapung-apung

Tepat saat itu, kau tahu,
Tempik riang hilang sudah
Pada sunyi gulang-gulang
Di sungai yang piatu
Tanpa leluhurmu

2017

Dalam Loods

Ke pusat tubuhmu, Loih Galuang
Hantu Aru-aru mengembalikanku

Cekikik Sijundai sudah lama usai
Angin Sianok, lambung besar
Yang terluka, ke mari sampai

Di sini, nama Merkus
Lenyap dalam kobar api mendengus

Seakan-akan kompeni, si tuan gila,
Memantik lagi berahinya, seperih
Serdadu Jepang melecut romusha

”Di mana tanah rengkah
Yang mengubur jorong-jorong
Leluhurmu?” seseorang bertanya
Dalam Melayu

”Coba lihat siapa yang pulang, Wilhelmina –
Bujang galu-galu yang menampik cintamu!”

2017

Potret Malam di Kota Tua, Jakarta

Turis-turis lokal bicara
Dengan logat serupa
Dan sejumlah gepeng
Menyuntuki purnama

Tempat ini seolah tak memberi makna
Kecuali ingatan soal kota masa kecilmu

Museum berbaris bagai serdadu yang
Menggorok leher para moyangku

Seperti lapak-lapak aksesori, gadis Shisa
Seolah juga bagian dari sejarah Belanda
Periksa merah gincu mereka, seperti darah

Kebuasan tumbuh seiring usia penindasan
Lalu dikarang indah sebagai kemerdekaan

Terpal-terpal membentang sepanjang
Trotoar dan bahu jalan semuram mural
Perjuangan dan seragam jagal Banda

Tak ada lagi roman Gubernur Jenderal
Dia mangkat, tapi hidup dalam khayal

Demi turis-turis lokal berlogat
Serupa yang membuat Fatahillah
Tersedak dalam tidur panjangnya
Tempat ini memang tak memberi
Apa pun kecuali tembok hitam
Luas bergrafiti masa silam, dan

Jauh sebelum kamu tiba
Lukisan sejumlah gepeng
Menyuntuki purnama
Sudah ada di sana

2017

Sipisang

Mooi Indie biarlah Mooi Indie

Meski di Sipisang, pernah
Orang-orang merah membangun
Gorong-gorong ke Utara

Mengampang sungai sejarah
Berharap revolusi
Belum akan selesai

Mooi Indie biarlah Mooi Indie

60 tahun kemudian cicit tiba
Mencari batang perawas tua
Dengan makam di bawahnya

Menemu tulang campur debu
Sambil berharap revolusi
Memang sudah tak ada lagi

Mooi Indie biarlah Mooi Indie

2017

Boy Riza Utama lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 4 Mei 1993. Ia bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Boy Riza Utama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 3 Maret 2018

0 Response to "Catatan Justus - Pacu Jalur Rantau Kuantan - Dalam Loods - Potret Malam di Kota Tua, Jakarta - Sipisang"