Kelopak di Tangan Rancunit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Kelopak di Tangan Rancunit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:01 Rating: 4,5

Kelopak di Tangan Rancunit

SETIAP pagi, Rancunit selalu bangun tepat ketika ayah dan ibunya sudah siap berangkat bekerja. Suara mesin mobil gemuruh di garasi yang terletak di samping kamarnya. Dari jendela ia masih sempat melihat ayah dan ibunya melangkah bergegas. Lantas hilang ditelan pintu mobil. Rancunit segera akan berlari dengan baju tidur dan rambut yang kusut. Terburu-buru membuka pintu rumah dan berdiri menatap mobil yang pergi lenyap. Mereka akan lenyap sampai malam. Malam sekali. Pulang dan tidur. Bangun dan pergi.

Setiap pagi. Seperti pagi ini. Rancunit melambaikan tangan ke arah pintu pagar yang terbuka. Terus melambai sampai sepasang tangan menariknya masuk rumah. Tangan yang kemudian membilas tubuhnya dengan sabun. Tangan yang menyisir rambutnya. Tangan yang menyuapinya. Tangan yang mengelusnya. Tangan yang menyalakan televisi. Tangan yang telunjuknya sering teracung kaku dan runcing ke arahnya. Tangan yang sesekali menamparnya.

Jika tangan itu sudah terlihat asyik menari di layar gawai dan tangan yang lain memainkan remote televisi, diam-diam Rancunit akan pergi ke dalam kamar. Seperti pagi ini, ia mengendap dari dapur, kali ini dengan tangan tersembunyi ke belakang punggung, pelan memasuki kamar dan hati-hati mengunci pintu. Duduk gemetar di sudut kamar. Menunduk menatap telapak tangannya sendiri. Menatap kelopak-kelopak menggeliat. Kelopak yang bangkit dari garis-garis tangan mungilnya. Kelopak yang terbuka. Mekar. Seperti pintu. Pintu bagi mereka yang tersembunyi dalam dirinya. Mereka adalah teman-teman Rancunit. Teman setia 24 jam. Para penculik yang dinantinya.

Mula-mula mereka kecil sekali. Sebagian merayap, sebagian terbang. Rancunit kemudian meniup mereka pelahan. Setiap tiupan membuat mereka semakin besar. Menjelma tangan-tangan yang berjalan di atas jari. Lucu dan unik. Tangan-tangan itu mempunyai mata, hidung, bibir, telinga, tangan, dan kaki. Sayap. Rancunit terus meniup mereka sambil menari. Makin besar. Berlompatan. Hap. Sebentar saja kamar menjadi ramai.

Rancunit bernyanyi. Tangan-tangan bernyanyi dan menari.

“Uniiit! Jangan berisik!” Pintu digedor dari luar.

Rancunit melempar bantal ke pintu.

“Sssst!” jari Rancunit menempel rapat di bibirnya.

Tangan-tangan yang sedang menari dan bernyanyi langsung diam. Serentak jari-jarinya menutup seperti kuncup kembang. Segera mereka menjelma kepal. Bulat. Menggelinding di atas kasur. Saling bertubrukan.

Pecah tawa Rancunit. Tergelak-gelak. Menjatuhkan diri dan ikut bergulingan.

Bulatan kepal seperti bola yang lincah. Lebih lincah dari bola bekel. Menggelinding jatuh. Memantul tinggi. Terus memantul. Ke lantai, ke dinding.

Rancunit bersorak sambil melompat-lompat riang di atas kasur. Menubruk ke sana kemari, berusaha menangkap dan memeluk bulat kepal tangan yang menggoda dengan membuka kepal setiap kali melayang di udara. Dari kepal yang terbuka itu muncul gelembung-gelembung udara warna-warni. Muncul pelangi. Lengkung pelangi di mana-mana. Memenuhi udara kamar Rancunit.

“Uniiiiiit!” gedoran semakin keras seperti ancaman.

Rancunit berdiri mematung. Kepal-kepal menjatuhkan diri rapat di lantai. Pelan terbuka dan menjelma perahu yang bergoyang lambat layaknya di atas gelombang laut. Laut. Perahu-perahu yang beriringan kemudian bersatu menjadi perahu besar.

“Ayo, kita berlayar!” seru seseorang dari dalam perahu.

Perahu yang merapat ke arah ranjang. Rancunit tersenyum lagi. Hati-hati duduk di atas perahu. Perahu yang berayun dan melayang.

“Bawa aku ke Sorenza!” Rancunit berlagak seperti seorang kapten kapal. Satu tangan menjelma teropong, tangan lainnya seperti sedang mengangkat pedang.

“Sorenza, Sorenza, Putri di Itali yang jauh!” teriak seseorang dari dalam perahu yang berlayar keliling kamar dan berlabuh di sudut kamar. Perahu yang kemudian pecah berhamburan menjadi telapak tangan yang beterbangan, dan bersatu kembali membentuk sebuah puri.

Sebuah puri dengan lubang besar di salah satu dindingnya. Rancunit mendekatkan wajah ke arah lubang itu, seperti mengintip seseorang yang berada di dalam puri.

“Sorenza, Putri Sorenza! Bangunlah. Seseorang mencuri sebelah sepatumu. Seseorang yang telah melubangi dinding purimu, seseorang yang akan melubangi juga dinding hatimu. Bangunlah, Sorenza! Ayo, berlayarlah, bertualanglah ke desa-desa, carilah pencuri itu. Jangan lupa kenakan topeng, sebab orang-orang akan tersihir kecantikanmu.” Rancunit terus berbisik melalui lubang-lubang puri di sudut kamarnya.

Tiba-tiba puri itu hancur berkeping-keping menjadi telapak-telapak tangan yang beterbangan dan bersatu kembali menjadi sebuah permadani yang melayang-layang nakal dan menggoda.

Rancunit bersorak. Melompat ke atas ranjang, lantas meraih tepi permadani, menaikinya sambil bernyanyi-nyanyi.

“Bawa aku ke padang pasir, bawa aku ke Syahrazad!” Rancunit duduk bersila seperti seseorang yang sedang bertapa. Kedua tangannya di dada, matanya terpejam.

“Syahrazad, Syahrazad, Putri cantik pemilik istana cerita!” teriak permadani sambil meliuk-liuk membawa Rancunit ke hadapan cermin. Permadani yang tiba-tiba berlepasan kembali menjadi telapak-telapak tangan yang beterbangan riang ke mana-mana, lantas bersatu kembali menjelma sebuah jendela dengan bulan dan bintang.

“Syahrazad, Putri Syahrazad! Teruslah bercerita. Teruslah bercerita…!”

Gedoran keras di pintu menghancurkan segalanya yang sedang bergerak di dalam kamar. Gedoran yang terus-menerus makin cepat dan makin keras. Makian memberondong seperti salak anjing.

Rancunit menunduk sambil memeluk lutut di sudut kamar. Tubuhnya gemetar. Tangan kirinya diangkat dan ditatapnya telapak tangan dengan mata sembap. Seperti becermin. Telapak tangannya bergetar. Garis-garis di telapak tangannya bangkit. Membentuk beragam gambar. Kemudian mekar kembali menjelma kelopak-kelopak bunga. Kelopak yang terbuka seperti pintu.

Tangan-tangan yang terkapar di lantai kamar pelan bergerak. Melayang dan berhinggapan, seperti burung, di tubuh Rancunit.

Ada banyak tangan lainnya beterbangan dari kelopak yang terbuka itu. Tangan-tangan bersayap. Terbang. Bergantian mengelus halus wajah Rancunit. Rancunit tersenyum. Tangan-tangan terus berhamburan. Mengelus tubuhnya. Bernyanyi-nyanyi dan menari. Rancunit terus tersenyum dan menunduk. Kelopak itu merekah mekar semakin besar. Pintu itu juga semakin luas.

Tangan-tangan yang mengelus itu pelan menarik tubuh Rancunit memasuki kelopak yang terbuka di telapak tangannya. Mula-mula rambutnya. Lantas kepalanya. Menyusul tubuhnya. Terakhir sepasang kakinya. Tubuh Rancunit dibawa tangan-tangan terbang masuk ke kelopak. Kelopak bunga di telapak tangannya. Kelopak bunga itu kemudian jatuh di sudut kamar. Tetap terbuka.

“Ke sini, Unit!”

“Nyanyian ibu di sini, Unit!”

“Dongeng ayah di sini, Unit.”

Rancunit sudah berada di pinggir sungai. Sungai yang airnya berwarna merah muda. Mengalir tenang. Sebuah perahu berlayar. Perahu berwarna biru, layarnya kuning keemasan. Sebuah lagu mengalun lembut dari dalam perahu. Tangan-tangan beterbangan menuju perahu.

Sepanjang pinggir sungai berjajar pohon-pohon berwarna putih. Semuanya putih. Batang, dahan, ranting, dan daun-daunnya. Di setiap pohon juga banyak tangan-tangan hinggap dan beterbangan. Bernyanyi. Merdu.

Rancunit berlari riang. Rancunit berlari di atas air. Dari dalam air tangan-tangan melompat. Berenang. Rancunit melompat dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Tangan-tangan itu kemudian bersatu. Rancunit berdiri di atasnya. Meluncur menuju perahu.

Perahu yang terus melaju di sungai merah muda itu pelan-pelan terangkat.

“Wah, anak manis sudah besar! Ayo kita berlayar lagi!” sebuah suara merdu menyambut Rancunit yang baru saja menginjak perahu. Perempuan dengan gaun hijau yang cemerlang.

“Ibu!” teriak Rancunit sambil melompat ke dalam pelukan perempuan yang kemudian lenyap begitu saja. Rancunit hanya mendapat pelukan tangan-tangan.

“Wah, anak manis sudah besar! Ayo, bertualang!” suara lain memanggilnya dari arah kemudi. Lelaki dengan pakaian bajak laut.

“Ayah!” pekik riang Rancunit sambil berlari naik ke arah kemudi. Tapi lelaki itu kemudian pecah berhamburan menjadi tangan-tangan.

Tangan-tangan itu terus bergantian menjadi ibu dan ayahnya. Ibu dan ayah yang memanggil kemudian pecah. Rancunit tak bosan mengejar. Terus mengejar hingga ke puncak tiang layar. Terus mengejar hingga ke langit. Langit yang merah muda.

“Uniiiiit!” dari balik langit suara-suara memanggilnya. Suara ibu. Suara ayah. Merdu.

Rancunit terus menembus langit ditemani puluhan tangan. Ratusan tangan. Ribuan tangan. Mereka melayang. Jumpalitan. Lapis demi lapis langit. Langit yang makin merah. Semakin merah.

“Uniiiit! Buka pintu! Jangan main-main dengan pisau! Cepat, kembalikan!” bentakan dan gedoran semakin gemuruh. Sampai akhirnya pintu itu jebol.

Rancunit masih di sudut kamar. Duduk hampir memeluk lutut. Tubuhnya gemetar. Wajahnya masih menatap telapak tangan kirinya. Menatap garis-garis di telapak tangan kirinya. Garis-garis yang tersayat. Berdarah. Rancunit masih becermin pada garis-garis di telapak tangan kirinya. Garis-garis yang terlukis entah oleh siapa. Garis-garis yang kemudian ia iris untuk menggambar ibu, menggambar ayah. Mengupas kelopak yang terus mekar membuka gerbang.

“ Ayah. Ibu.” Begitu bisik Rancunit berulang-ulang.

Kedungpanjang 2018

Toni Lesmana, buku terakhirnya adalah kumpulan puisi Tamasya Cikaracak (2016) dan kumpulan cerpen Tamasya Kota Pernia (2018). Kini dia tinggal di Ciamis.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Toni Lesmana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 4-5 Maret 2018

0 Response to "Kelopak di Tangan Rancunit"