Laki-laki yang Menjual Kelaminnya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Laki-laki yang Menjual Kelaminnya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Laki-laki yang Menjual Kelaminnya

MAKSAN terpaksa mengalah. Ia menuruti perkataan Tini, sang istri. Semula Maksan bersikukuh tinggal berdua di sebuah kontrakan sempit. Namun, apalah daya, laki-laki itu tidak dapat menolak ajakan istrinya untuk tinggal satu atap dengan ibu mertua. Sebab, sudah tiga bulan Maksan tak sanggup membayar kontrakan, gara-gara dipecat, menganggur berbulan- bulan, sampai makan pun cukup sekali sehari.

“Apa salahnya sementara kita tinggal di rumah Ibu? Daripada setiap pagi mendengar omelan pemilik kontrakan. Kalau Abang tak mau tinggal di rumah Ibu, biar saya pindah ke sana.” 

Perkataan Tini membuat Maksan berpikir ulang. Tidak ada pilihan lain. Dalam dada, Maksan menegaskan tak akan lama-lama tinggal di rumah mertua. Berlama-lama dapat membuat dia yang sudah lama sembuh dari penyakit jantung kumat lagi. Ia pernah dengar cerita seorang menantu mati mendadak setelah diomeli mertua sepanjang hari. Ngeri merayapi tengkuk Maksan mengingat kejadian itu. Apalagi ibu mertua Maksan memang gemar berkata lantang, mengomel untuk hal-hal sepele. 

Duduk di ruang tamu, berhadap-hadapan dengan mertua, membuat degup jantung Maksan terasa tak normal. Pandangan perempuan tua itu seperti ingin menelanjangi kondisi Maksan.

Maksan dapat merasakan cibiran melalui senyum yang mengembang di bibir mertuanya. Seakan ia berkata, “Makan tuh cinta!” 

Maksan menyalakan sebatang rokok, berusaha mengurai ketegangan. Namun belum sampai Maksan mengisap rokok, si ibu mertua berkata, “Jangan terlalu sering merokok jika keuangan rumah tanggamu sedang terpuruk.”

Tak ingin mengimbangi ocehan mertuanya dengan rupa emosi, Maksan mematikan rokok, membenamkan dalam asbak dengan debar rasa kesal menyelimuti jiwa. Wajah Maksan berubah seperti selembar kain kafan. Ia beranjak, tergesa berjalan ke dapur. Dia melihat istrinya sibuk memasukkan bahan masakan ke dalam panci. Gemerutuk gigi Maksan terdengar oleh sang istri. 

Maksan terlampau kesal sekaligus sakit hati dipermalukan ibu mertua. Untung, ibu mertuanya tidak bicara di depan orang banyak, sehingga Maksan masih sanggup meredam emosi. 

Berkali-kali Maksan berusaha menulikan telinga. Ia harus bertahan di rumah itu demi istrinya yang kini hamil lima bulan. Namun mertuanya selalu memancing emosi, berujar yang bukanbukan. Misalnya, bilang Maksan laki-laki tak bertanggung jawab dan segala macam perkataan yang kerap merobek dadanya. 

Seminggu tinggal di rumah mertua, Maksan makin kurus. Pikirannya bercabang-cabang. Satu cabang memikirkan apa dan bagaimana bila istrinya melahirkan. Satu cabang lagi dirumitkan oleh ucapan mertua, ucapan yang selalu menyindir perihal dia yang cuma numpang. 

“Tak usah masukkan hati semua omongan Ibu. Maklum, ia sudah tua,” kata istrinya, menenangkan dada Maksan yang gejolak. 

Jika bukan karena istrinya, Maksan sudah balas berteriak setiap kali mertuanya mengomel, menyindir, bahkan mengatai dia lelaki tak tahu diuntung. Ia tidak terima saat mertuanya bilang, dia berlindung di ketiak istri, hidup dari hasil keringat istri yang bekerja sebagai pustakawati di perpustakaan daerah. Hampir saja Maksan balas memaki, tapi buru-buru istighfar dan melintas ucapan istrinya, “Bagiamanapun kita harus menghormati Ibu.” 

Salah satu cara supaya tak mendengar omelan mertua sepanjang hari ketika Tini berada di perpustakaan, Maksan bekerja sejak matahari terbit hingga hampir tenggelam di ujung barat. Lakilaki paruh baya itu singgah di warung kopi, sekitar lima ratus meter dari rumah. Ia baru pulang setelah memperkirakan Tini tiba lebih dulu di rumah.

Maksan pun waswas melihat perut istrinya membesar, bertambah bulan. Bila Tini melahirkan saat Maksan tidak punya tabungan sepeser pun, jelas mertuanya akan mengomel dan bisa jadi mengutuk Maksan sebagai menantu tak tahu diri. Lintasan pikiran itu terus beranak-pinak dalam benaknya yang sempit. Hatinya dibalur cemas.

Maksan makin risau atas masalah yang mencekik hidupnya. Tidak tahu kepada siapa mesti mengadu, kecuali kepada Tuhan. Tini pun selalu mendapati suaminya bangun tengah malam, berjalan ke kamar mandi, mengucurkan air, berwudu. Dalam remang lampu kamar, Tini melihat samar-samar suaminya shalat tahajud. Beberapa jenak kemudian, isak tangis pecah dalam doa Maksan. 

Rupa-rupanya kondisi terpuruk membuat Maksan berniat lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Dia menangis dalam doa, memohon kelahiran anak pertamanya dipermudah. Dia mengadu pada Tuhan, tak lagi punya uang untuk mengurus biaya rumah sakit bila istrinya melahirkan. Ia kini tak memiliki apa-apa, bahkan terpaksa hidup seatap dengan mertua. 

***
TINI membangunkan suaminya sebelum azan subuh, meminta segera dibawa ke rumah sakit. Tini merasakan tanda-tanda melahirkan makin dekat. Mertuanya terbangun setelah mendengar suara gaduh. Tanpa pikir panjang, Maksan membawa istrinya ke rumah sakit. Ibu mertua menemani. 

Tak lama setelah Tini melahirkan, wajah Maksan berbinar-binar menyambut anak pertama. Ia mengumandangkan azan dan iqamat di kedua telinga bayi laki-laki itu. Beberapa menit setelah keluar dari kamar, Maksan tercenung. Pikirannya kembali bercabang-cabang. Tidak tahu bagaimana cara membayar biaya persalinan. Sementara mertuanya diam, membiarkan Maksan menelan kerumitan seorang diri. 

Lagi-lagi Maksan merasa senyuman mertuanya itu seperti mencibir. Perempuan tua itu seperti melontarkan kata, “Kau mesti bertanggung jawab. Jangan cuma tahu bikin anak, tetapi tak tahu bayar rumah sakit.” Maksan menyembunyikan air mata dengan melempar senyum pada mertuanya. Hampir seminggu di rumah sakit, Tini mestinya sudah bisa pulang. Namun Maksan belum muncul juga sejak enam hari lalu. Dia pamit mencari uang untuk melunasi biaya persalinan. Sampai hari kesembilan, Maksan tak kunjung datang. Pikiran buruk beranak-pinak dalam tempurung kepala Tini. 

Lepas magrib Maksan datang. Pikiran buruk lenyap dari kepala Tini dalam sekejap. Ia menyambut suaminya dengan pelukan hangat. Maksan mengatakan, malam itu akan membawa istrinya pulang karena lunas membayar biaya persalinan dan menginap di rumah sakit. 

Senyum Tini serupa bunga, mekar di bibir. Namun Tini bertanyatanya dalam hati, dari mana Maksan mendapat uang sebanyak itu. Tini menyimpan pertanyaan itu dalam dada. Khawatir suaminya tersinggung bila bertanya langsung. Terlebih di ruangan itu ada ibunya. 

Maksan pun menyimpan jawaban dalam hati. Selama berada di luar, ketika tak mendampingi Tini di rumah sakit, diam-diam Maksan menjual kelaminnya pada seorang tante di Gang Anggrek. “Satu malam sepuluh juta,” kata Maksan. 

Tante itu mengangguk, mengingat tampilan fisik Maksan masih tampak muda, seperti lelaki 23 tahun. Tante berkulit putih itu membeli kelamin Maksan dengan harga berlipat-lipat dari bayaran tidur satu malam. Dengan catatan, kata tante itu sambil menggerayangi tubuh Maksan, tak boleh seorang pun menyentuh kelamin Maksan. Dia sudah membeli kelamin itu teramat tinggi. 

Laki-laki itu mengangguk, sekalipun bayangan sang istri mengantar dalam pejam mata di atas ranjang. Dia melakukan semua itu demi sang istri. 

Dua minggu setelah pulang dari rumah sakit, Maksan belum bisa memecah kebingungan bagaimana lepas dari jeratan tante itu. Di satu sisi ia merasa sempurna sebagai suami karena Tini memuji kerja kerasnya mencari uang. Di sisi lain dia kembali terperangkap dalam persoalan lebih rumit. 

Keinginan Tini hamil lagi membuat Maksan tak bisa menjawab apa-apa, selain tersenyum agak ragu. “Bagaimana mungkin kita punya anak lagi jika kelaminku sudah kujual?” desis Maksan pada diri sendiri. 

Dia mengusap dada dan menyalakan sebatang rokok. Dia merasa perlu menenangkan diri dari gemuruh di batin, memikirkan cara mengatakan pada tante itu bahwa dia tak lagi menjual kelamin karena sang istri lebih membutuhkan. (44)

Pulau Garam, 2018

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 18 Maret 2018

0 Response to "Laki-laki yang Menjual Kelaminnya"