Maha Kata - Amnesia - Pranala - Nusantara telah Mati - Yang Tersalah - Inikah Kebebasan - Jemari Tuhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Maha Kata - Amnesia - Pranala - Nusantara telah Mati - Yang Tersalah - Inikah Kebebasan - Jemari Tuhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Maha Kata - Amnesia - Pranala - Nusantara telah Mati - Yang Tersalah - Inikah Kebebasan - Jemari Tuhan

Maha Kata

Kepala adalah retak yang menunggu
habis dipukul oleh kepicikan dunia semu

Akan tiba satu masa kepala mengubah
dirinya menjadi gelas gelas kosong
yang siap dijatuhkan ke dalam palung

Kita tak lain hanyalah waktu
yang menunggu dijemput maut
menghabiskan sisa tawa dan air mata
pada bayangan diri sendiri yang menyiksa

Menunggu dan pasrah
hanyalah dua kata kerja
yang kelak dimintai tanya
oleh yang Maha Kata.

Gowa, 2017

Amnesia

Kau menyebut jendela sebagai pintu
bagi air mata yang terlelap ditelan hujan
dan bagimu kamar sebagai mimpi
sepasang kenangan yang
mengandung penyesalan.

Namun ingatanmu sedang kabur, pikirku.

Gowa, 2017


Pranala

Kita saling menjiplak satu sama lain
tak ada asli kecuali hanya imitasi.

Tidak satu pun di antara kita berani mengalah
kita lebih memilih saling kelahi dalam karya
daripada mencoba jalin hubungan tata krama.

Kita sepasang lengan yang gagal mencipta sunyi:
pada kata,
pada karya
pada pemilik pranala.

Gowa, 2017

Nusantara telah Mati

Kala negeri Nusantara dirundung sepi
tanah gersang air pun cemar menjadi jadi
ubahnya tak pelak berbuat arti sejati
nyeleneh pun terus menjadi api
pada lubang lubang arteri
tembus pada rongga jasmani diri.

Entah ada apa dengan negeri ini
orang salah disayangi
orang benar dijauhi.

Ke mana jiwa sejati sang negeri?
jangan jangan ia sudah mati
sejak merdeka di Hari Proklamasi.

Gowa, 2015


Yang Tersalah

Katamu, waktu terbaik melepas salah
adalah dalam renungan.
“Tapi, renungan hanya diperuntukkan kepada
sebagian orang saja,” kataku.

Di dunia ini banyak yang lalai banyak pula lupa
ia terus menikmati isi dunia, tanpa sadar jika
Tuhan pun dapat benci pada hamba-Nya.

Kau berkata lagi,
“Mungkin waktuku yang salah, bukan renungannya.”

Hingga benar benar jiwamu terketuk, sambil
kaurasakan jernihnya air mata mengalir deras
di bawah kelopak matamu
lalu kaupun tersadar
ternyata jadi penguasa
tak selamanya bisa berkuasa.

Gowa, 2015


Inikah Kebebasan

Inikah kebebasan
saat resah dan marah terkekang
dalam ruang ruang kehampaan
yang berselimutkan kedinginan.

Inikah kebebasan
saat mikropon tak lagi berkoar
menyanyikan alunan porak poranda
terbang bersama ban-ban yang terbakar.

Inikah kebebasan
saat batin terinjak kekuasaan
dirobeknya surat cinta sang demonstran
diubahnya jadi debu dan tangisan
dari atas gumpalan aspal panas berbalut
kemacetan!

Gowa, 2015

Jemari Tuhan

Kuukir cerita ini di dalam hidupku
pada lembaran kertas dari bambu
dengan pena bekas arang kayu
memuat kisah sejarah masa lalu

Beragam tingkah telah berlalu
meninggalkan jejak jejak pilu
yang terperangah dalam satu
wadah bertengger pada paku

Bolehkah aku bertanya padamu
wahai sang pencerah ceritaku,
mengapa ada kisah yang begitu
menyayat kalbuku seketika itu
telah pergi jauh ke alam batu
yang terjatuh dan telah lumpuh
pada satu pijak kaki yang ampuh
menerawang hukum dalam acuh

Pada masa ketika dahulu angkuh
mengubah diri menjadi penumbuh
semangat bagi kaum yang kambuh
dalam sakit moral dan krisis patuh

Inilah benar jalanmu yang sungguh
tak pantas dengan diriku
yang selalu mengeluh atas ujianMu
dan kurang bersyukur atas nikmatMu.

Gowa, 2015






M Galang Pratama, berdomisili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Mendirikan Rumah Baca yang dinamai Rumah Belajar Kita (RAKIT) Gowa. Buku solonya yang telah terbit berjudul The Poetic Critique (Kumpulan Puisi, 2015). Buku Antologi lain ialah Ketika Senja mulai Redup (2016), Kata-Kata yang tak Menua (2017), dan Berkaca pada Kata (2018).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya M Galang Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 18 Maret 2018

0 Response to "Maha Kata - Amnesia - Pranala - Nusantara telah Mati - Yang Tersalah - Inikah Kebebasan - Jemari Tuhan"