Menghafal Jalan Pulang - Taaruf Hujan - Tadabur Hati - Terjemah Semesta - Hijaiah Rindu - Khaliwat Kasih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menghafal Jalan Pulang - Taaruf Hujan - Tadabur Hati - Terjemah Semesta - Hijaiah Rindu - Khaliwat Kasih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Menghafal Jalan Pulang - Taaruf Hujan - Tadabur Hati - Terjemah Semesta - Hijaiah Rindu - Khaliwat Kasih

Menghafal Jalan Pulang 

Pintu jeruji besi itu bercelah setelah lelaki itu
kenyang makan penyiksaan nan keji. di kejauhan
kamp bucca ditengoknya berkali-kali tiada
henti. kepala yang sempat gegar
dibentur gagang pistol itu lupa mengingat
“kemana jalan pulang?” ujarnya pada bebatuan
pada pasir-pasir yang berdesir disapu angin
mirip domba-domba yang tersesat di tengah gurun
pada musim panas. matahari yang tinggal sejumput
itu
membakar menyiri sela-sela rambutnya yang
menebal
peluh keringat darah dan bau penjara tentara
amerika menyisakan kepedihan yang tak terkira

Indramayu, 2018

Taaruf Hujan 

Langit bertebaran awan gumpal hitam
kabut menyelimut lembah dan puncaknya
ricik gerimis senandungkan bunyi alam
mengenalkan notasi rindu bersama rinainya

kubaca lagi mendung yang berukir
awan kaligrafi menghias angkasa
menggetar ujung bibir dalam zikir
takbir bertubi-tubi dibaca kata

di masjid cucuran air menetes dari kubah
seperti jawaban dari setiap rapalan doa
hujan bertaaruf dengan wangi tanah
membawa berkah bagi hidup manusia

Indramayu, 2018

Tadabur Hati 

Termaktub segala ingin mentadaburi hati
berteduh di bawah naungan kubah langit
memandangi angkasa berlapis tujuh titian
menaiki tangga-tangga seperti mikraj
menyaksikan banyak ilustrasi pembalasan
menapak jejak masa silam nan kelam
seonggok dosa-dosa yang tiada terlupa
tercium bau nanah bercampur berdarah
gemetar karena telah begitu lamanya
lisanku kelu menyebut asma-asma-Mu
kini tinggal rindu untuk kembali
memutihkan hati kepada jalan fitrah

Indramayu, 2018

Terjemah Semesta 

Melihat bentang alam semesta raya
bintang gemintang yang tergantung
matahari dan rembulan yang bersinar
gunung-gunung yang dipancangkan
langit tanpa tiang penyangga
dapatkah diterjemah?

sungai yang mengalir ke laut
menguap ke atas menjadi awan
mendung menebal menurunkan hujan
menumbuhkan pepohonan hijau
buah dan sayur lezat dirasa
dapatkah diterjemah?
lalu apa yang dapat kau terjemahkan
selain kekecilan manusia di bawah kebesaran-Nya

Indramayu, 2018

Hijaiah Rindu

Setiap kali kulafalkan huruf hijaiah
indah nian ukiran kaligrafi basmalah
menyebut nama pemilik cinta kasih
memadahkan ayat-ayat mahabah

kuhidu wangi gaharu mencipta rindu
pada pertemuanku denganmu dahulu
di musala balutan biru kerudungmu
bergetar dinding-dinding naluriku

kubacakan rinduku di waktu lima
rasa pedih perihnya tiada terkira
obatnya hanya diammu tak bicara
saat kukhitbah dengan segenap cinta

Indramayu, 2018


Khaliwat Kasih 

Doa-doa dipanjatkan pada kasih,
bermunajat sepi untuk sendiri,
sunyi.

mengosongkan perut dari selera napsu,
berlapar dahaga untuk melemahkan,
syahwat.

mengeja ayat-ayat suci,
mentadaburi hati,
diri.

Indramayu, 2018

*) Faris Al Faisal, pengajar di SekolahDasar. Blok Bloran I RT 01/RW 07 Parean Girang, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 11 Maret 2018

0 Response to "Menghafal Jalan Pulang - Taaruf Hujan - Tadabur Hati - Terjemah Semesta - Hijaiah Rindu - Khaliwat Kasih "