Pantai yang Memeluk Perahu - Pintu Belakang - Jejak Sepasang Kaki - Senja itu, Engkau Masih Duduk di Pinggir Kali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pantai yang Memeluk Perahu - Pintu Belakang - Jejak Sepasang Kaki - Senja itu, Engkau Masih Duduk di Pinggir Kali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:33 Rating: 4,5

Pantai yang Memeluk Perahu - Pintu Belakang - Jejak Sepasang Kaki - Senja itu, Engkau Masih Duduk di Pinggir Kali

Pantai yang Memeluk Perahu

I
di pantai yang tertidur ini
engkau berjalan
seorang diri
sambil melagukan lagu sunyi
dan waktu
mengubahmu menjadi batu karang
tempat menunggumu ketika langit kehilangan terang
sedang lelakimu belum juga datang

II
ombak menderu dari segala penjuru
seolah mengabarkan kegelisahan suamimu
di tengah lautan. mulutmu tak berhenti berucap
sebuah nama kau ucapkan lirih.
lirih sekali
“ suamiku, kapan kau pulang? “
tanyamu seperti pertanyaan batu karang pada ikan.

“ apa aku bilang, ombak itu pasti telah
mempersunting suamimu “
kata seorang lelaki yang tetiba muncul tapi hilang lagi.

kau terperangah
dan mencarinya di sela-sela ombak yang membelai
batu karang.
“ suamiku, itu kah dirimu, menari-nari bersama
ombak di belakang perahu? “

III
kau masih ada di sana
dan sudah tak ada yang datang
perahu-perahu berjejer rapi
serupa rindumu
yang berbaris di dalam hatimu. tetiba,
kau teringat pada perahu suamimu
yang sudah tak dipakai itu.
kau menuju ke sana
dengan iringan ombak di setiap kakimu.

“ bagaimana aku dapat melayarkan perahu ini,
suamiku,
sedang pantai ini telah memeluknya setiap waktu? “
tanyamu.

Rumah tanpa Kamar. Darusa Timur, Desember 2017

Pintu Belakang

inilah pintumu,
terbuat dari ketabahan kayu. meski ia sering lapuk
terkena hujan
dan panas matahari bergantian, tapi ia tetap pintumu
; yang menyimpan rapi jejak tanganmu
 saat membukanya di lain waktu.

inilah pintumu,
pintu belakang dari hatiku, berdaun pintu rindu. di
sana aku
melihat senyummu tertinggal dan hidungku
adalah satu-satunya hidung anjing gila_masih bersetia
pada bibir yang sama_bibir itu menjelma pantai
; tempat paling dirindukan
bagi nelayan dan ribuan kapal, setelah rumah
dan desahan malam.

inilah pintumu,
satu-satunya pintu dari semua pintu. engkau
masuk dan keluar dari situ
bila ingin bertemu
tanpa sepengetahuan ayah dan ibu.
tanganmu begitu tahu
bagaimana agar ia tak berderit juga tak cemburu
ketika diriku dan dirimu hendak bercumbu.

inilah pintumu,
janganlah kau masuk dan keluar
selain dari pintu itu.

Rumah Tanpa Kamar. Darusa Timur
25 Desember 2017

Jejak Sepasang Kaki

kaki manakah yang membawamu kemari
malam-malam begini kaki kanan atau kiri
tapi percuma walau tanah menanyakannya pada
bumi
sebab kakimu telah lama membawamu pergi

keinginan manapula yang menyertaimu
membawa sebungkus rindu yang sering kau
sembunyikan di balik bibirmu
sebuah kegelisahan kau menaruhnya juga disitu
apa kau juga menaruh aku dalam rindumu?

kau tahu rupanya ada yang diam-diam
menghitung bekas jejakan kakimu
tanah yang basah juga bebatuan-bebatuan nakal
yang mengabadikan jejakmu
ada juga kerikil-kerikil kecil yang menggambar
kakimu
lewat tubuhnya mereka beramai-ramai
meneriakkan:
rindu

Darusa Timur, 09 Mei 2017 23:39 PM

Senja itu, Engkau Masih Duduk di Pinggir Kali

senja itu, engkau
duduk di pinggir kali. melamuni nasibmu
yang tanpa suami. ikan-ikan berputar-putar
mengelilingi lingkaran keraguan
antara pergi ke muara atau ke hulu sungai;
asal segala macam rindu.
ikan itu masih berputar di sana, ketika engkau
duduk di kali pertama, sesekali ia memandang
segala yang datang dan pergi
lalu sunyi.

“ ambillah gambar tubuhku,
pada bagian mana pun kau mau ”
ucapmu,
pada air yang masih mengalir.
air tiba-tiba berhenti menjadi alir
lalu bersiap memotret dirimu yang sudah tanpa baju.

air itu mangambil gambar bagian-bagian kecil
dari tubuhmu; di wajahmu_dua mata, alis, juga
telinga_ia
mengambilnya beramai-ramai.

“ apa kau tak ingin mengambil gambar hidung
dan bibirku? ”
tanyamu,
sebelum kau bisu.
air dan ikan-ikan itu pun mulai berdatangan
mengerubungi tubuhmu.

Rumah Tanpa Kamar. Darusa Timur, Desember 2017

Imam Rosyadi, lahir di sebuah Rumah tanpa Kamar, 1 Desember 1995. Menulis puisi, sesekali cerpen. Kini ia aktif di Aksara, Kalenteng dan Ngopi Sastra. Beberapa karya puisinya pernah masuk 17 dan 20 besar yang diselenggarakan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Imam Rosyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 5 Maret 2018

0 Response to "Pantai yang Memeluk Perahu - Pintu Belakang - Jejak Sepasang Kaki - Senja itu, Engkau Masih Duduk di Pinggir Kali"