Perihal Cinta - Doa bagi Mundar - Sentimental Buah Kawista - Riwayat Jeruk Purut - Menyunting Jambu Mawar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perihal Cinta - Doa bagi Mundar - Sentimental Buah Kawista - Riwayat Jeruk Purut - Menyunting Jambu Mawar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Perihal Cinta - Doa bagi Mundar - Sentimental Buah Kawista - Riwayat Jeruk Purut - Menyunting Jambu Mawar

Perihal Cinta

Cinta selalu kemungkinan kecil
jadi pohon rindang
dengan akar mendalam
buat sandar punggung
bagi sejenak jalan jauh usia.

Tapi masih juga kau
ingin lebih dari realitas
dan masa lalu, saat dengar
sejoli kicau kutilang
di rentang kabel telepon
pas jam terik siang.

Rindu mudah kirim dering,
tahan keluh sekian detik
kau menatap bunga halaman
penuh semak bawah sadar
membuat kau lekas tunda
titik temu ramalan
berita hujan dengan
gugusan perasaanmu.

Pindah jaringan suasana lain,
barangkali akan sedikit redam
ambil sikap renung seekor laba-laba
di sela resonansi lalat atau angin.

Telah banyak kenangan ditabung
untuk tata cahaya masa tua atau
mendekor nostalgia yang absen
tapi perihal romantik begini
cuma khayal-bulus.

Cinta terkadang sebuah bola
juga kadang luas tanah lapang,
kau merasa sungguh percuma
jerih payah dan kisah asmara
hanya tinggalkan piala usang
di relung rak kosong untuk
selamanya mengisi hatimu.

2018

Doa bagi Mundar

Kau tak akan punah
mungkin hanya sebentar
menjauh dari pikiran mereka
saat cinta melahirkan
nasib yang lain atau rumah
bagi silsilah dan mimpi.

Masih ada bayang
sececap dalam ingatan
lidah pelacakku atau sejenak
kicau herbivor itu
sebelum kau rebah
digoyahkan bibir kapak.

Kau akan kembali
menghirup cahaya
menyentuh suara muasal dunia
ketika matahari pagi dan gema
setetes embun dari tepi
jendela fotosintesismu.

Mungkin masa lalu
tengah terbangun dan perlahan
mengingat aksen manis
dalam lengkung palatum
yang dibasuh gejolak
aroma manggismu.

Kau tak akan punah
sebab rindu telah bersalin
menjadi sealun musim
hingga hujan putik-putikmu
seumpama meteor
bagi segugus buah doa.

2018

Sentimental Buah Kawista

Bersama jati
serta kapal dagang
kau menempuh jalur laut
meninggalkan akar dialekmu
di pesisir-lidah Urdu.

Kau bagai dikaruniai kenduri
jadi suku buah pribumi
di pekarangan rantau ini.

Satu milenium luput
jejak benihmu
turun-temurun tumbuh
mengucilkan muasalmu.

Dalam rentang windu
kau berpegang darma
napas kemarau tiba
melampiri purnama terbit
tatkala ranum kulitmu
kau lepas tambatan tangkai
sepintas terpetik haru
seakan sedu burung hantu.

Di sini, kau cuma sebutir ironi
disibak cara paling temperamen
kendati cuma disanjung hidung
dan aksen manis semata.

Namun lidah dangkal ini
tiada pernah mencerna
hakikat buah rantaumu.

2017

Riwayat Jeruk Purut

Dari lisan yang lampau
tampuk ajal dan cinta yang sial
dilekatkan padamu.

Tapi kau masih menghikmati
pekarangan dan keranjangkeranjang
niaga pasar,
meski kabar burung itu
bersarang dalam pikiran mereka;
tentang gejala gagak yang gaduh
dan semacam roman ganjil
dari tekukur dan merpati.

Kau sungguh nahas,
baru timbul penuh kerut muka,
belum jelang ranum dipetik
serta-merta. Mungkin adalah
tulah yang menebarmu,
jauh dari silsilah citrus.

Lalu bayang-bayang dendam
dan kasmaran mengebat kau
dengan benang tujuh warna
serta dibaluri api.

Masih tercium sedih
oleh jarum denyut luka lama
dan mantra yang mencemarkan
kematian di sumur itu.

Dan hingga kini mereka
tiada pernah mengakui kau
sebagai penawar ruh dan
badan yang meracau,
sebab kau bukanlah
bukit-bukit hijau teduh
atau semacam kubah suci
untuk arah hidup yang letih.

2018

Menyunting Jambu Mawar

Tahu muasalmu berakar dari hikayat
karena terpesona mata Raja Jawa
atau lidah kasmaran para ningrat.

Telah lama kau mencuat di halaman
menumpuk bayang dan gugur daun
dalam terang matahari dan musim.

Terlalu gairah menaklukkan delima
kaulambai kerucik dengan tangkai sari
sampai histeris mencumbu nektarmu.

Begitu berbuah sudah megalomania
kelewat pamer tebar wangi ego mawar
lupa diri setengah manis setengah sepat.

Bagiku kau tak lain jambu tembam
berpigmen lemon yang berlinang
namun bernasib selalu menggerutu.

2018





Nermi Silaban, lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 17 Juli 1987. Menulis cerpen dan puisi. Buku puisinya bertajuk Bekal Kunjungan (2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nermi Silaban
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 11 Maret 2018

0 Response to "Perihal Cinta - Doa bagi Mundar - Sentimental Buah Kawista - Riwayat Jeruk Purut - Menyunting Jambu Mawar"