Reuni, Puisi, dan Pulung Gantung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Reuni, Puisi, dan Pulung Gantung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Reuni, Puisi, dan Pulung Gantung

1
Ia melihat istrinya menangis sembari megeluselus wajah sesosok tubuh entah siapa yang terbujur di hadapannya. Ia juga mendengar lamat-lamat istrinya beberapa kali menyebut namanya. Ingin ia mendekat dan membelai rambut istrinya seraya membisikkan kata-kata penghiburan. Akan tetapi, entah kenapa, kakinya tidak mau ia ajak berjalan. Telapak kakinya seperti terpaku di tanah. Alhasil, ia hanya bisa memandang istrinya dari jauh. Tanpa mampu berbuat suatu apa. 

Ia tahu, saat itu istrinya sangat bersedih. Apa yang disedihkan, ia tidak paham. Apakah soal belanja bulanan yang kurang? Rasanya bukan. Sudah biasa istrinya menerima belanja bulanan darinya amat jauh dari cukup. Orang tahu bagaimana penghasilan dia sebagai penulis lepas medioker. Tidak pernah menggembirakan. Kadang lumayan, kadang sedikit, kadang amat sedikit, bahkan kadang tak ada sama sekali. Untung, istrinya bekerja sebagai ASN yang punya kursi, sehingga apa pun kondisinya asap dapur tetap mengepul. 

“Maafkan aku, Mas. Akulah penyebab semua ini.” 

Di antara isak tertahan, sayup ia mendengar istrinya meratap. Ia bingung. Istrinya minta maaf untuk kesalahan apa? Istrinya penyebab semua, apa yang telah terjadi? Berkali-kali ia mencoba berteriak, memanggil istrinya. Gagal. Tidak ada sebentuk suara pun keluar dari mulutnya.

2
“Hancur sudah kepercayaan yang kuberikan penuh kepadamu, Mas.” 

Aryo tertunduk dalam-dalam, tidak sanggup menerima tatapan mata istrinya yang mengandung nyala api. 

“Maafkan, aku sudah khilaf langkah.” Aryo berkata atau tepatnya bergumam. Suaranya bergetar. 

“Percuma semua pengorbananku selama ini! Percuma!” Istri Aryo meraung. Nyala api di mata perempuan yang sudah puluhan tahun mendampingi hidupnya itu makin berkobar. 

“Aku ngaku salah. Maafkan.” 

“Selama ini aku merasa tidak punya siapasiapa, selain dirimu, Mas. Seluruh hidupku bulat-bulat kuabdikan hanya kepada keluarga. Namun engkau ternyata tegaÖ.” 

“Aku hanya iseng. Tak lebih.” 

“Iseng? Iseng yang membuat hati perempuan lain berbunga-bunga dan hati istrimu hancur berkeping?” 

“Aku tidak bermaksud begitu.” 

“Lalu apa maksudmu, Mas?” 

“Sekadar iseng.” 

“Engkau telah selingkuh, Mas.” 

“Selingkuh?” 

“Iya. Selingkuh tidak harus berhubungan fisik bukan? Selingkuh bisa dengan bercinta secara imajiner bukan?” 

“TetapiÖ.” 

“Tidak ada tapi-tapian, Mas. Apa pun engkau sudah mengkhianatiku. Rasanya aku sudah tak bisa lagi melanjutkan hidup bersamamu.” 

“Hanya untuk kesalahan kecil begitu kau mau mengorbankan rumah tangga yang sudah kita bina puluhan tahun?” 

“Kesalahan kecil?” 

“Ya. Ibarat orang berjalan, kakiku sedang terantuk batu.” 

“Itu bukan terantuk, melainkan memperantukkan diri.” Suara istri Aryo meninggi. “Pokoknya, aku atau Mas yang pergi dari rumah ini!” Istri Aryo masuk kamar dan membanting pintu keras-keras. 

“Maafkan aku. Beri kesempatan aku memperbaiki diri.” Sembari mengetuk-ngetuk pintu, berkali-kali Aryo memanggil istrinya. Namun istrinya sama sekali tak mau mendengar. 

Tinggallah Aryo sendiri, terkulai di atas kursi. Penyesalan mahadalam menyesaki dada. Beberapa kali ia mengusap mata. Tanpa sepenuhnya ia kehendaki, seperti adegan film slow motion, peristiwa-peristiwa sebulan terakhir melela di mata.

3
Gua Pindul hari Minggu dipenuhi pengunjung. Wisatawan dari berbagai daerah berjubel, antre untuk merasakan sensasi cave tubing, menyusuri sungai dalam gua sepanjang kurang-lebih 350 meter. Selain ingin melihat ornamen gua berupa batu kristal, moonmilk, stalagtit, dan stalagmit yang seksi itu, wisatawan juga ingin menyaksikan The Hidden Paradise of Jogja, Cahaya Surga Tersembunyi, yang saat langit cerah bisa ditemukan di gua itu pada tengah siang hari. 

Minggu itu, aku bersama puluhan orang teman semasa kuliah dulu mengadakan reuni tamasya di gua tersebut. Tersebab asalku dari Gunungkidul, akulah yang didaulat mengurusi segala tetekbengek yang berhubungan dengan agenda kegiatan. Cave tubing di Gua Pindul merupakan mata acara pemungkas, sesudah bakti sosial dan malam ramah tamah sehari sebelumnya. 

“Tidak ikut bermain air, Ar?” 

Aku kaget. Dini, teman semasa kuliah yang dulu punya hubungan istimewa denganku, sudah berada di sampingku. 

Enggak, sudah bosan. Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?” Ekor mataku kuarahkan ke bagian sungai, tempat teman-teman kami berada. 

“Malas. Lagipula aku sudah pernah kok.” 

“Pernah ke sini ta?” 

“Iya, sebulan lalu. Bersama suami dan anak-anak.” Dini tersenyum. 

“Kok tidak kabar-kabar?” 

“Aku tidak tahu engkau tinggal di daerah sini.” 

Lalu kami tenggelam dalam aneka topik obrolan ringan. Soal keluarga, pekerjaan, soal teman, dan soa-soal lain yang semacam. Seperti bersepakat, kami sama-sama menghindarkan diri dari percakapan yang berkemungkinan membangkitkan kenangan lama. 

“Aku masih suka membaca puisi-puisi karyamu di beberapa koran,” kata Dini sambil melambaikan tangan kepada beberapa teman yang memanggil-manggil kami. Beberapa orang terlihat melintas dengan ban di hadapan kami. 

“O ya? Terima kasih kau masih menyukai puisi-puisiku.” 

“Kapan kau buat sebuah puisi spesial untukku?” ucap Dini dengan suara rendah.

Aku tercekat dan terdiam. Sejenak sepi merambat di antara kami. Kulayangkan pandangan ke satu bagian gua, tempat teman-teman kami berada. Tinggal beberapa orang yang masih di sungai. 

“Tidak mau ya?” Kudengar Dini menghela napas panjang. 

“Bukan begitu.” 

“Lalu kenapa? Banyak teman bercerita engkau acap membuatkan puisi untuk mereka.” 

“Tidak banyak, hanya beberapa teman. Itu pun mereka minta.” 

“Apa beda permintaanku dari permintaan mereka?” 

Aku terpojok. Semua perbendaharaan kata yang kuketahui bertanggalan, bahkan seolah terhapus dari benakku. Akibatnya, aku hanya bisa membisu. Saat itu rasa tidak nyaman benar-benar menelingkungku. 

“Bilang saja tidak mau!” Suara Dini mengiris hatiku. 

Belum lagi aku berhasil menemukan dalih tepat untuk merespons pernyataan itu, beberapa orang teman mendekat. Terdengar mereka berceloteh ramai. Mengolok dan menggoda. Sungguh, dalam hati, aku bersyukur atas kedatangan mereka. Setidaknya itu sudah mengusir situasi tidak nyaman dalam diriku. 

“Hati-hati, jangan sampai CLBK lo,” goda Susan. 

Ingaak, ingaak, di rumah sedang menunggu anak dan istri.” Teguh melucu, menirukan sebuah iklan layanan masyarakat yang pernah tayang di televisi. Aku tersenyum kecut. 

Ternyata permintaan Dini soal puisi itu bukan basa-basi. Dia serius. Terbukti, tiga hari sesudah reuni, dia beberapa kali kirim SMS berisi ulangan permintaan. Kali ini, entah kenapa hatiku luluh. Kuambil bloknote, kubuat konsep puisi spesial untuknya. Sebuah puisi tentang kenangan biasa, lazim dimiliki banyak orang yang pernah bercinta. 

Dengan suntuk, beberapa waktu aku menggarap konsep puisi itu. Ketika tiba saat sentuhan terakhir, mendadak terbersit pikiran, apa yang kulakukan itu tidak benar, riskan sekali. Bagaimana kalau istriku tahu? Bagaimana jika suami Dini membacanya? 

Tanpa pikir panjang kurobek lembar kertas dari bloknot dan membuang ke keranjang sampah. Tetapi apes, entah bagaimana, istriku menemukan kertas itu. Maka yang terjadi terjadilah, istriku marah-marah, minta pisah, sebelum masuk kamar dan membanting pintu keras-keras.

4
Entah berapa kali Aryo berusaha membuka pintu kamar dan memanggil-manggil istrinya. Tidak ada respons. Tak terhitung sudah lelaki paruh baya itu berupaya melunakkan hati istrinya. Sia-sia. Aryo putus asa. Bayangan buruk bila berpisah dari istrinya sungguh meneror. Selama ini ia begitu bergantung kepada istrinya. Hampir semua kebutuhan hidup; papan, sandang, pangan, bersumber dari peluh istrinya. Apa yang bakal terjadi bila ia berpisah darinya? Kecemasan luar biasa menjalar dan mengalir bersama darah di sekujur tubuhnya. Aryo merasa hidupnya tak lagi bertujuan dan berpengharapan.

Mata Aryo terlihat basah. Antara sadar dan terlena, ia melihat sebuah benda, berupa bola api berpijar merah darah serta berekor, melayang dan berputar beberapa kali di langit-langit rumah. Bukan alang kepalang terkejut Aryo. Pulung gantung memasuki rumahnya; siapa mau meninggal dengan cara gantung diri? Dengan agak takut-takut dia pandang benda itu, sebelum melayang menuju dapur, lalu keluar, lenyap di sebuah pohon tua di kebun belakang. 

Masih dengan agak takut-takut Aryo menunju dapur. Di ambang pintu dapur, tepatnya, di palang kusen pintu, ia melihat seutas tambang menjulur. Ujung tambang itu membentuk lingkaran. Seperti dituntun sebuah kekuatan gaib, Aryo meraih tambang itu, lantas perlahan-lahan melingkarkan di leher.

5
Ia melihat istrinya menangis sembari mengelus- elus wajah sesosok tubuh yang terbujur di hadapannya. Ia mendengar, setengah meratap, istrinya berulang kali memanggil dia. Ingin ia mendekat dan membelai-belai rambut istrinya seraya membisikkan kata-kata penghiburan. Akan tetapi, entah kenapa, ia tak mampu melangkah. Kedua telapak kakinya seperti terpaku di tanah. Seperti terpaku di tanah.(44)

Mlati Lor 2018

- Mukti Sutarman Espe, menulis puisi, cerpen, esai, tinggal di Kudus

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mukti Sutarman Espe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 11 Maret 2018

0 Response to "Reuni, Puisi, dan Pulung Gantung"