Risalah Negeri Laut - Balada Nyi Sentring | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Risalah Negeri Laut - Balada Nyi Sentring Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:32 Rating: 4,5

Risalah Negeri Laut - Balada Nyi Sentring

Risalah Negeri Laut

1/ Di atas perahu-perahu yang karam, manusia
menuju ke langit hitam. Tubuhnya menjadi
pasang, dan gamang. Tampaknya mereka lupa
berpesta. Sebab rembulan masih dalam penant-
ian.

2/
Nyi Sentring menyulam senja di bawah
bayang-bayangnya, sembari dikitari bangkai
ikan dan makanan. Bocah-bocah bermain
layang-layang dengan ragu, saat sungai-sungai
menjadi pekat, dan sebuah riwayat yang menepi
ke arah gelap.

3/
Jika kau gelisah dari segala yang berlalu,
sebelum kau bermuara, lihatlah tubuh-tubuh
yang tersangkut kayu dari jauh itu. Barangkali
sosok bersayap pusara hadir memeluk wajah-
mu, dibalik tirai dedaunan yang terbentang
semu.

4/
Tak ada seorang perempuan yang mampu
mengenal diagram tulang. Sebab api membakar
seluruh kata-kata yang tertulis dari sebuah puisi.
Lantas apakah kau akan kembali dibenakku
dengan sebutan perempuan berambut senja?

5/
Ada yang tersembunyi di atas buih-buih yang
berdebar, di balik punggung Mahera burung
camar berlarian menghitung debur ombak. Dan
aku menghempaskan diri, setelah lama menanti.

6/
Seorang lelaki berpeci melati membawa
secangkir matahari sebelum pagi buta, ketika
kita terlelap di atas gelombang. Ia kenang masa
lampau sembari mengunyah cerita tentang
segala kerinduan yang terlarung di samudra
pada malam purnama Senin pahing, di dermaga
tua.

Semarang, 2018

Balada Nyi Sentring

Malam adalah penantian bagi keresahan. Di
keremangan, seorang perempuan melukis surga
tanpa warna. Tuhan selesai ia tawar. Kedua tan-
gannya menggenggam cahaya yang gemetar. Di
balik tubuhnya menjulang pusara dari waktu ke
waktu dan sosok berjubah kelam di sebuah
kolam.

Rembulan meredup, membekap sebuah
bambu yang pura-pura bisu. Menjadi pertanda:
malam menjalang di kening Nyi Sentring yang
tak pernah tengadah. Wajahnya musam.
Bintang-bintang meleleh di pelipisnya, menjadi
benih ketiadaan.
Nyi Sentring mungkin segumpal tanah.
Matanya menggaris kenyataan dengan selen-
dang berwarna keemasan, dan berbisik madu di
sepanjang air bergelimang.

Perempuan itu juga sebuah ruang. Tersusun
daging yang menetes-netes dengan bibir merah
membasahi kaki laki-laki. Pada napasnya hidup
sebuah kisah, dari nama-nama yang berebut
dengan kabut dan lesatan air hujan. Kemudian
menjelma takdir yang kehilangan misteri saat
tersibak dahi orang mati.

Sejak malam itu, di bulan ketujuh, kisah-kisah
ditumpuk di atas helai-helai rambut para
nelayan. Dan gulungan ombak mengabarkan:
Malam adalah penantian bagi keresahan. Di
keremangannya, Tuhan sudah terbeli.

Semarang, 2018

- Ahmad Dzikron Haikal, lahir di Demak, 7Mei 1987, dan tinggal di Banyumanik,Semarang. Guru SMP IT PAPB dan mahasiswaPascasarjana Progam Studi Pendidikan Bahasadan Sastra Indonesia Universitas PGRISemarang ini bergiat di Sastra Malam JumatKlinik Art. Puisinya terhimpun dalam antologiNegeri Awan(2017), Ketika Tubuhmu MenjadiMawar(2016), Menenggak Rindu(2016),Monolog Seekor Monyet(2016), MendengarAngin Berbisik(2016), Baper (2016), Arus PuisiSungai(2016). (44)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Dzikron Haikal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 11 Maret 2018

0 Response to "Risalah Negeri Laut - Balada Nyi Sentring"