Riwayat Cincin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Riwayat Cincin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Riwayat Cincin

HIDUP ini memang sudah semakin keparat. Hidup yang membuat aku harus empat kali mengalami pindah tempat. Lebih jelasnya, simaklah riwayatku ini. 

Pertama kali aku ada di sebuah etalase toko perhiasan. Bersebelahan dengan sebuah cincin bermata berlian, dan juga beberapa cincin lain yang harganya tak kalah mahal. Suatu hari, tatkala toko perhiasan itu ramai pembeli, aku dan cincin bermata berlian iseng berdebat soal siapa yang pertama kali akan keluar dari etalase dan pindah ke jari manis wanita. 

“Bentukmu lebih menarik dan elegan ketimbang kau. Jadi, pasti akulah yang lebih dulu keluar dari tempat ini,” kata cincin bermata berlian. 

“Iya. Aku tahu bentukmu memang indah. Ada berliannya pula. Tapi, hargamu mahal,” bantahku. 

“Jika ingin yang terbaik, memang harus berkorban lebih besar lagi,” ia membela diri. 

“Zaman sekarang, uang sulit didapat. Jadi wanita-wanita yang suka perhiasan banyak memilih yang terjangkau.” 

“Baik. Kita lihat saja nanti.” 

Perdebatan kami berakhir. Lalu terdengar suara wanita yang meminta si penjual untuk mengambil tubuhku untuknya. Wanita itu cantik sekali. Tapi sayang, laki-laki yang mendampinginya sudah beruban. Dari pembicaraan mereka, aku yakin kalau mereka itu adalah pasangan suami istri. 

Aku pun dikeluarkan dari etalase. Lalu perlahan-lahan wanita itu memasukkan aku ke jari manisnya. Dipandanginya aku agak lama sekali. 

“Cincin ini sangat sederhana sekali bentuknya. Pasti harganya tidak terlalu mahal. Aku pilih ini saja,” ucapnya meyakinkan laki-laki yang berdiri di sampingnya. Tanpa bicara panjang lebar, laki-laki itu lantas mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. Aku pun dibeli. Dan selanjutnya aku resmi menjadi bagian dari jari manis wanita itu. 

Beberapa hari kemudian, wanita yang telah memilikiku itu kedatangan tamu wanita berwajah tua di rumahnya. Entah apa sebab, tamu itu langsung marah-marah pada wanita itu. Di akhir kemarahannya, tamu itu bilang kepada si wanita: 

“Jangan ganggu suamiku lagi.” 

Dia tahu kalau aku ini dibeli dari uang suaminya. Maka, dengan kekuatan yang dia miliki, direbut-paksa aku ini dari jari manis wanita itu. Wanita itu meringis kesakitan, tapi tidak memberi perlawanan. Akhirnya, aku pun pindah ke jari manis wanita berwajah tua itu. 

Sehari setelah peristiwa itu, wanita berwajah tua yang merampasku dari jari manis wanita itu bertengkar hebat dengan suaminya. Dia mengumpat dan memaki suaminya habis-habisan. Si suami juga tak mau kalah. Bahkan mengambil ancang-ancang untuk memberi pukulan kepada istrinya. 

Ketika pertengkaran memuncak, si suami, dengan kekuatan kelaki-lakiannya, mendorong istrinya dengan keras. Si wanita yang tidak memiliki kekuatan sekuat laki-laki, bergerak mundur tubuhnya. Terus bergerak tanpa bisa dikendalikan, dan kehilangan keseimbangan. Akhirnya, karena sudah tak bisa mengendalikan pergerakan tubuhnya sendiri, dia roboh. Kepalanya menghantam meja. Keras sekali. Darah meleleh setelah itu. Dan, wanita berwajah tua itu mati seketika. 

Tahu istrinya sudah tak bernyawa, laki-laki itu tidak bersedih. Malah bergegas masuk ke dalam kamar. Dia masukkan beberapa baju dan celana ke dalam travel bag. Lalu bergegas lari tanpa mau melihat kepada tubuh istrinya yang sudah mati. Dia, melarikan diri. 

Setelah malam tiba, rumah wanita berwajah tua menjadi ramai. Mungkin karena wanita yang tadi datang bertamu itu yang telah melaporkan kepada polisi. Akhirnya aku dilepaskan dari jari manis wanita berwajah tua itu, dan dipindahkan ke dalam plastik kecil. Kata seorang petugas, aku ini adalah barang bukti. 

Ya, begitulah riwayatku. Dan aku tidak tahu kapan bisa keluar dari dalam plastik kecil ini. Semoga nanti masih ada wanita cantik yang mau memakaiku di jari manisnya. ❑ - e 

Asoka, M. 2018 

*) Agus Salim. Lahir di Sumenep, 18 Juli 1980. Tinggal di Jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Cerpen saya pernah dimuat di media lokal dan nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 25 Maret 2018 

0 Response to "Riwayat Cincin"