Senja yang Berguguran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Senja yang Berguguran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:52 Rating: 4,5

Senja yang Berguguran

“SORE ini, akan ada senja berguguran di Gunung Angin. Seperti tahun lalu, pasti akan ada banyak pasangan kekasih yang berdatangan.” Begitu kata beberapa warga yang tinggal di kaki gunung itu. 

Royhan sebenarnya tidak ingin percaya dengan perkataan warga yang tidak masuk akal itu. Tapi, mengingat gunung itu bisa menyajikan senja dengan begitu dekat dan jelas, serta angin yang berkekuatan kencang, bukan mustahil hal yang terdengar ganjil itu bisa terjadi. Apalagi momen ini jatuh di penghujung Desember, kekuatan angin bisa berlipat-lipat dari biasanya. 

Namun, Royhan masih belum bisa berpikir, serupa apakah senja yang berguguran itu? Apakah serupa salju yang mampu menutupi permukaan kota? Atau serupa daun-daun menguning, yang jatuh perlahan, lalu hilang entah ke mana? Atau bahkan serupa bulirbulir cahaya yang bisa dipungut dan dibawa pulang? Ah, ia tak mau berpikir lebih jauh, juga tak mau bertanya pada siapa pun, bukankah lebih meyakinkan jika bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri? 

“Bersiaplah Izara, sebentar lagi kita akan berangkat!” 

Royhan dan Izara tinggal di desa Pakandangan Barat, desa yang terletak tepat di kaki Gunung Angin. Entahlah, kenapa warga bisa menyebut gundukan tanah raksasa itu sebagai gunung. Padahal, sebenarnya ia lebih pantas disebut bukit, mengingat ketinggiannya hanya mencapai 1500 meter dari permukaan laut. Tapi, Royhan tak mau mempermasalahkan status gunung itu. Sebab, yang terpenting baginya, gunung itu bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan selama ini: senja yang selalu menyala setiap sore hari. 

Semula, Royhan dan Izara hanyalah sepasang pengembara, yang berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain hanya untuk menemukan senja yang bisa bertahan lebih lama. Hingga pada beberapa waktu, di musim hujan, mereka benar-benar mengalami krisis senja. Setiap sore hari, selalu saja ada mendung tebal yang menyelubungi langit barat hingga senja tak terlihat mata. Sementara itu, ia mendapati tubuh Izara semakin lemah, tak berdaya. Tapi ia terus membopong tubuhnya hingga bertemu sepasang kekasih yang sepertinya juga menggemari senja. 

“Pergilah ke Gunung Angin! Di sana kalian akan selalu menemukan senja meski langit sedang mendung.” Begitu kata sepasang kekasih itu. 

Maka, tanpa membuang-buang waktu, Royhan beserta Izara yang semakin lemah itu pun pergi. Menyusuri jalan setapak, lembah, sungai, sampai hutan tak bernama. Melewati pasar demi pasar, dusun demi dusun, hingga mereka sampai di desa yang dimaksud setelah bertanya pada setiap orang yang ditemui di jalan. 

“Akhirnya, aku bisa menyelamatkanmu, Izara. Di sini, kita akan mampu merawat kehidupan,” kata Royhan dengan mata berbinar-binar, meski nafasnya masih tersengal-sengal, merasakan capek yang tak tertahankan. 

Royhan dan Izara kemudian membuat tempat tinggal di antara rumah-rumah warga. Hidup berbaur bersama mereka. Pergi ke pasar untuk berbelanja sembako, berkunjung ke tetangga untuk meminjam perabot dapur. Mereka pun bekerja serabutan untuk mendapatkan penghasilan. Menjadi buruh tani yang menggarap ladang-ladang warga, menjadi buruh bangunan saat kebetulan diajak tukang, atau menjadi nelayan saat musim ikan. 

Oleh para warga, mereka pun dikenal sebagai orang baik dan ringan tangan. Jika ada para tetangga yang menggelar kenduri, hajatan, atau selamatan, mereka selalu datang membantu. Menegakkan terop, mengangkut sound sistem, menggelar tikar untuk para undangan, dan menyiapkan hidangan ketika ucara hampir usai. Mereka selalu membantu sahibul hajat cumacuma, tidak mengambil upah dari pekerjaan mereka. 

Namun, ada keanehan pada salah seorang dari mereka berdua. Setiap kali mereka dihidangkan makanan di akhir acara, hanya Royhan yang berkenan menyantapnya, sementara Izara memilih langsung pulang, tanpa sedikit pun mencicipinya. Dan itu selalu mengundang tanda tanya di benak para warga. 

“Nak Royhan, kenapa kekasihmu selalu tidak pernah makan saat dihidangkan makanan? Apakah masakan kami tidak pernah enak?” Begitu tanya salah satu warga. 

“ Maaf, bukan menolak, Bibi, hanya mungkin Izara masih kenyang. Ia memang terbiasa makan di rumah sebelum bekerja di rumah orang.” 

Royhan mencoba menutup-nutupi keganjilan Izara, meski ia juga bertanya-tanya heran, perempuan macam apakah kekasihnya sebenarnya: tidak makan, tidak minum, dan hanya mencukupkan diri dengan melumuri tubuhnya dengan berkas-berkas senja? 

Mungkin, tidak pernah ada orang yang tahu bahwa Royhan menemukan Izara di tepian Sungai Mingsoy saat menjelang magrib, setahun yang lalu. Saat itu, ia hendak mandi di sana setelah pulang dari bekerja. Sungai dalam keadaan sepi. Orang-orang sudah berada di rumah masing-masing. Tapi tiba-tiba ia melihat seorang gadis duduk sendirian di atas hamparan batu. Gadis itu terlihat menangis. Tapi Royhan tak berani mendekat. 

Sungai Mingsoy yang merupakan sungai terbesar di Madura memang kerap menyajikan hal-hal aneh. Beberapa kali Royhan mendengar permainan kecipak air, tangisan bayi, dan canda-tawa perempuan yang sedang mandi. Tapi begitu diintip dari balik rimbun semak-semak di tepian sungai, ternyata tidak ada siapa pun dan hanya air yang mengalir dengan tenang. Dan di sore yang segera tenggelam itu, apa yang ia lihat benarbenar kenyataan, benar-benar perempuan. Setelah mengintipnya cukup lama, barulah ia keluar dan mendekati gadis itu dengan perasaan yang dikuat-kuatkan. 

Royhan mencoba menegur gadis itu, tapi gadis itu tak pernah perduli dan malah terus menangis, hingga ia pun kebingungan. Ia lantas hanya mengamati sekujur tubuh gadis itu. Dari warna kulitnya yang tampak kuning keemasan, ia curiga gadis itu bukan macam gadis pada umumnya. Mungkinkah perempuan jadijadian yang hendak mengusik pemudapemuda desa? Atau mungkin seorang bidadari yang turun dari kahyangan, mandi di sungai ini, lalu ditinggalkan oleh yang lain? Namun, hingga cerita ini usai, gadis itu tak pernah sudi memberitahu asalusulnya. 

Royhan lantas membawa gadis itu ke gubuknya. Ia memang hanya tinggal sendirian. Istrinya meninggal bersama anaknya saat melahirkan. Sementara kedua orangtuanya juga meninggal karena kecelakaan. Gubuk reot itu terpencil dari rumah-rumah penduduk. Oleh karenanya, ia tidak khawatir ketahuan penduduk bahwa ia sedang tinggal berduaan dengan seorang gadis tanpa ikatan pernikahan. 

Selama beberapa hari, gadis itu tak pernah dikeluarkan dan dipamerkan pada tetangga. Di gubuk itu, telah Royhan sediakan makanan-makanan ala kadarnya. Tapi Royhan justru kebingungan saat tahu makanan-makanan itu tetap utuh, tak berkurang sedikit pun. Dan dari sanalah gadis itu mulai berbicara. 

“Aku tak butuh makanan, Mas. Aku hanya butuh senja.” 

Maka, untuk menghindari fitnah, Royhan lantas membawa gadis itu ke kediaman Pak RT, lalu meminta dinikahkan dengan saksi beberapa tetangga. Tetangga-tetangga yang hadir merasa takjub akan keberadaannya yang ganjil. 

“Seperti bukan gadis biasa.” 

“Betul, jangan-jangan jelmaan bidadari.” 

“Tapi, dari manakah dia berasal?” 

Ketika dihadapkan pada pertanyaan begitu, mereka mendadak bungkam. Sebab, Royhan sendiri tak mampu menjawab. Semenatara gadis itu lebih memilih diam atau menghindar. 

Sejak hari itu, Royhan melayani Izara dengan baik. Mengantarnya ke tempat senja, lalu ia melumuri tubuhnya dengan berkas-berkas senja hingga kembali segar. Tak lupa Royhan juga mengisi buntalan bawaannya untuk persediaan esok paginya, saat hendak pulang. 

*** 
SETELAH mendaki lereng dengan susah payah, akhirnya Royhan dan Izara sampai di puncak Gunung Angin. Di sana, senja masih belum menyala dengan sempurna. Tapi pasangan-pasangan kekasih sudah menjejali permukaan gunung yang penuh batu besar dan tajam. Pasangan-pasangan kekasih itu sudah mengambil tempat di mana senja bisa dilihat begitu dekat dan jelas. Maka, terpaksa Royhan dan Izara mengalah. Mereka berdua mendapat tempat paling jauh di belakang. 

Di sore-sore biasa, Gunung Angin memang sudah menjadi tempat favorit pasangan-pasangan kekasih menghabiskan kebersamaan. Mereka bercanda-tawa sepuasnya. Saling menggombal, saling mencubit, lalu saling menyandarkan tubuh saat bosan. Tapi, begitu senja menyala dengan sempurna, mereka mendadak terdiam, tenggelam dalam romantisme yang dalam. 

Senja yang menyala sudah mendekati sempurna. Royhan sepertinya sudah tidak sabar menunggu. Ia semakin beringsut, merapat ke sisi pasangan-pasangan yang berangkulan. Sementara Izara tetap diam terpaku dengan raut wajah yang sukar digambarkan. 

“Izara, kemarilah! Sebentar lagi senja sempurna. Dan kita akan saksikan, bagaimana indahnya senja yang berguguran itu,” teriak Royahan. 

Belum sempat Izara menjawab, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Di langit Gunung Angin yang tampak begitu dekat, senja bergelantungan dengan jelas, berayun-ayun, terpecah-pecah, lalu gugur perlahan seperti daun-daun yang kemilau. Setiap kali guguran senja itu menyentuh tanah, mendadak menjelma kunangkunang, lalu terbang menghiasi langit Gunung Angin yang mulai petang. Semua pasangan kekasih terbuai takjub, tak tekecuali Royhan. 

Namun, ketakjuban Royhan mendadak berhenti begitu ia menolah ke belakang. Di sana tubuh Izara juga berguguran. Dan ia hendak meraihnya, tapi terlambat, gugurannya keburu menjelma kunang-kunang. 

Karduluk, 2018 

Alim Musthafa tinggal di Sumenep. Alumnus PBA di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Gulukguluk. Sehari-hari ia menerjemah dan menulis puisi dan cerpen.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alim Musthafa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 11 Maret 2018 

0 Response to "Senja yang Berguguran"