Setan Kober dan Sapardan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Setan Kober dan Sapardan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:30 Rating: 4,5

Setan Kober dan Sapardan

Sejak Penangsang mati teriris bilahku, aku tak lagi meminum darah. Tak pernah lagi aku memamah nyawa. Pertempuran di Bengawan Sore itu adalah palagan terakhirku. Itulah perang yang menempatkan aku sebagai pembunuh tuanku sendiri. Perang memburu mahkota itu bukan arena terakhirku menjadi saksi pemilikku kehilangan daya. Lebih dari 100 tahun kemudian, aku masih menyaksikan pemilikku kehilangan kebesarannya, lalu mati tertimbun nasib.

TUMENGGUNG Kartanagara masih bingung dengan kedatangan tak biasa junjungannya di pagi itu. Tak ada baju kebesaran, kereta kencana, juga kawalan prajurit layaknya kunjungan seorang raja. Bupati Klaten itu semakin bingung saat mengetahui perjumpaan tersebut harus dirahasiakan dari telinga kompeni. Ia paham benar tabiat para kulit putih. Geger Diponegaran membuat mereka makin tak pernah segan menghukum siapa pun yang dianggap mencurigakan. Kecurigaan itu berlaku bagi siapa saja. Bahkan sang raja ikut jadi korbannya dengan tak boleh meninggalkan istana tanpa sepengetahuan mereka.

Kartanagara yakin bahwa kepergian junjungannya ke Imogiri bukan sekadar ziarah. Ia tahu sang raja hendak mengikuti jejak Karebet usai diusir dari Demak. Menepi dari tengah, menyepi dari keramaian, bermunajat di makam leluhur, menunggu petunjuk Ilahi. Kartanagara sudah bisa menebak kepergian junjungannya berjuluk Bangun Tapa itu pasti dalam rangka mencari petunjuk jalan keluar untuk negara yang makin terbelit kompeni setelah Diponegoro kalah.

“Paduka, izinkan hamba ikut ke Imogiri,” kata Kartanagara.

“Tidak perlu. Berjanjilah untuk merahasiakan kedatanganku di sini dan ke mana pergiku.”

Kartanagara hanya menunduk, lalu menarik napasnya.

“Ampun, Paduka. Hamba mengikuti titah,” ujar Kartanagara.

Sang raja kemudian bergegas meninggalkan rumah Kartanagara. Bersama Atmasupana dan Atmawiraga yang mengiringnya sejak dari keraton, ia berkuda ke selatan menuju Imogiri.

Pertemuan yang mestinya menjadi rahasia itu tak urung terdengar kompeni oleh sebab mulut panjang Kartapiyoga, anak Kartanagara. Bangsawan muda yang dipecat raja dari jabatannya itu melaporkan kepergian diam-diam sang raja ke Imogiri kepada Komandan Loji di Klaten. Sudah tentu komandan itu cekatan mengirim warta kepada Residen Surakarta Macgillavrij.

***
SAPARDAN adalah nama raja muda itu. Ia raja yang kesekian menjadi tuanku setelah Aryo Penangsang tumbang oleh Sutawijaya. Sejak peristiwa Bengawan Sore dan Sutawijaya menjadi penguasa Mentaok, aku adalah pusaka Mataram. Semua keturunan Sutawijaya yang mejadi raja Mataram menjadi tuanku.

Aku menyaksikan bagaimana Mentaok tumbuh menjadi Mataram, pindah ke Karta, Plered, lalu Kartasura yang hancur oleh terjangan Pasukan Kuning dan Cakraningrat. Setelah Mataram pecah dua, aku menjadi pusaka yang berdiam di Kasunanan Surakarta.

Aku menyaksikan bagaimana anak turun Sutawijaya saling tengkar, berebut kuasa. Kusaksikan juga bagaimana mereka kemudian terjerat siasat busuk para pedagang negeri seberang bernama kompeni. Sedikit demi sedikit mereka makin lemah, berkuasa dengan kekuasaan terbatas, dan kemudian sadar telah masuk perangkap para pendatang. Rasanya sangat gatal untuk segera keluar dari warangka dan mereguk darah kaum seberang itu demi menuntaskan kegelisahan pemilikku. Namun, sampai hari ini aku masih pulas di gedung pusaka.

***
“APA kau yakin raja pergi ke Imogiri hanya untuk ziarah?” tanya Macgillavrij kepada Letnan Winer, prajurit andalannya di Benteng Surakarta, Vastenburg. Di Solo, benteng itu adalah pertahanan utama para kompeni dalam melindungi kepentingannya di wilayah negara Surakarta.

“Saya tidak yakin. Bukan tidak mungkin ia berusaha bertemu dengan sisa-sisa pengikut Diponegoro yang kita tahu banyak ia beri dukungan saat perang dulu,” kata Winer.

Macgillavrij menaikkan napas dalam-dalam. Matanya tajam di antara dahi yang mengernyit. Jawaban Winer sangat masuk akal. Perang Diponegoro memang baru selesai setelah pangeran pengobar jihad itu masuk perangkap di Magelang tiga bulan yang lalu. Pengikutnya masih banyak, tersebar, dan mereka marah oleh siasat Markus de Kock saat menangkap Diponegoro. Sewaktu-waktu, hanya butuh sulutan kecil untuk membangkitkan kembali gelora perang mereka. Apalagi bila penyulutnya adalah Pakubuwono VI, raja yang banyak membantu Diponegoro. Kompeni pasti kerepotan.

“Di keraton tadi Patih Sasradiningrat menyebut raja tak perlu kembali ke Surakarta. Katanya, bila raja kembali, negara bisa rusak oleh perang. Tampaknya ini sesuai dengan perkiraanmu, Winer,” ujar Macgillavrij.

“Saya kira tugas terpenting sekarang adalah menangkap raja. Apakah ia sedang bertemu untuk menghimpun sisa pendukung Diponegoro atau tidak, nyatanya ia pergi tanpa izin. Itu sudah cukup untuk menghukumnya,” sahut Winer yang mulai tak sabar.

Macgillavrij memaklumi jalan pikiran Winer yang serdadu, segera bergerak lalu selesaikan. Namun, bagi seorang residen seperti dirinya, asal memberi hukuman bisa menjadi masalah. Apalagi yang mendapat hukuman adalah raja. Hukuman apa pun, bila itu dikenakan kepada raja dan ia masih berada di kerajaannya, sudah pasti mengundang risiko buruk.

Bukan tidak mungkin hukuman itu menimbulkan simpati. Selama raja masih dekat dengan para kawulanya, simpati itu bisa menjadi bara penyulut perang. Macgillavrij tak mau mengambil risiko itu, sementara di saat yang sama peristiwa ini adalah kesempatannya menunjukkan taji kekuasaan kepada para pribumi agar bara sisa Perang Diponegoro benar-benar padam.

Ia berpikir keras untuk bisa segera mengambil keputusan. Hingga kemudian ia mulai mendapat siasat. Ikuti pikiran Winer untuk segera menangkap raja, lalu membawanya ke Semarang, menyerahkannya kepada gubernur. Dengan begitu, gubernur di Semarang yang akan mendapat tanggung jawab atas hukuman kepada raja. Kalaupun orang-orang raja menyerbu, prajurit di Semarang jauh lebih kuat dibandingkan pasukan di Solo.

“Biar orang-orang di Semarang yang memutuskan. Mereka pasti akan meminta pertimbangan Batavia. Apa pun hukumannya, aku cukup menyebut bukan aku yang mengambil keputusan,” batin Macgillavrij.

“Baiklah. Cari dan bawa dia ke Klaten. Dari Klaten, biarkan ia istirahat di sana sementara, kau harus segera mengabariku. Aku akan memberi kabar kepada gubernur di Semarang,” perintah Macgillavrij kepada Winer.

***
SUARA jerit para wanita di dalam keraton mengusik tenangku di gedung pusaka. Aku mencium ketakutan yang datang bersama embusan cemas. Tangisan Ratu Anom setelah pembesar kompeni memaksa masuk ke kamar Sunan dan mendapati tempat tidur kosong masih belum kering saat gaduh makin menjadi. Para pangeran dan pembesar kerajaan yang panik mengingatkanku pada Kadipaten Jipang sesaat sebelum Penangsang berangkat menuju Bengawan Sore.

Mungkinkah aku kembali turun ke palagan? Keluar dari warangka dan menyatu dengan kehendak menang pemilikku? Menebas ketakutan lalu menusuk nasib lawan? Seperti apa rasa darah manusia kini? Apakah masih sama dengan darah yang dulu pernah melumuri tubuhku? Ah, kerinduan ini membuatku makin gelisah di tengah dingin gedung pusaka.

Hingga kemudian aku melihat perempuan tua anak turun Juru Martani membuka pintu gedung pusaka. Sangat aneh. Bukankah cuma raja sendiri atau abdi peletak sesajen saja yang boleh masuk ke ruangan ini? Untuk apa ibu dari raja yang memilikiku itu kini berada di depanku? Aku mencium aroma kemarahan dan ketakutan yang terbungkus putus asa bersama kenekatan di wajahnya.

***
“PAKUBUWONO VI sudah kami tangkap di Mancingan, tak jauh dari gua Langse. Bersama dua abdinya, ia berada di gigir laut selatan itu setelah singgah di Imogiri. Ia tidak melawan saat kami bawa,” lapor Winer kepada Macgillavrij.

“Seperti perintah Tuan, raja tidak kami bawa ke Surakarta. Kini ia berada di Klaten. Ia sudah kami beri tahu bahwa tidak akan kembali ke keratonnya dan memilih pasrah. Ajakan perlawanan dari dua abdinya tak ia gubris. Kami menunggu perintah,” lanjutnya dengan tetap berdiri dalam sikap sempurna.

Macgillavrij berdiri dari kursinya. Wajahnya secerah pagi yang baru datang menyapa Solo hari itu. Kabar yang datang bersama Winer membuat harinya makin terang dan hangat.

“Nah, bagus. Utusan gubernur dari Semarang baru saja pergi sebelum kau tiba. Duduklah,” sahut Macgillavrij sembari menunjuk kursi di depan mejanya.

Macgillavrij kembali duduk di kursi jabatannya lalu membeberkan warta dari Semarang yang baru didapatnya kepada Winer. Gubernur di Semarang setuju bahwa tindakan meninggalkan keraton tanpa izin adalah pelanggaran berat yang harus mendapat hukuman. Gubernur juga setuju untuk menjauhkan raja dari kawulanya sebagai bentuk hukuman berat. Ia harus diasingkan. Soal di mana lokasi pengasingan masih akan menunggu perintah Batavia. Selama perintah dari Batavia belum tiba, raja harus berada di Semarang agar tak bisa berhubungan dengan kawulanya di Solo.

“Dari Klaten, Pakubuwono kita bawa langsung ke Semarang. Ia harus diasingkan sejauh mungkin dari kawulanya. Sudah tentu bukan ke Ayah atau Onrust. Itu terlalu dekat,” kata Macgillavrij.

Ayah terletak di mancanegara kulon di antara Purworejo hingga Cilacap. Daerah ini adalah tempat pembuangan bagi para pejabat kerajaan yang dianggap melawan raja dan kompeni.

Patih Mangkupraja I dan Sasradiningrat I adalah dua nama yang pernah mengalami pengasingan di Ayah. Begitu pula dengan Onrust. Pulau penjara untuk para penderita lepra di utara Batavia itu adalah pengasingan bagi para ulama pemicu peristiwa Pakepung di masa Pakubuwono IV.

“Aku yakin raja akan berada di Semarang cukup lama. Batavia pasti akan menghitung biaya pengasingan. Rasanya sulit untuk mengasingkannya ke Ceylon di masa kas kosong akibat ulah Diponegoro seperti sekarang ini,” lanjut Macgillavrij kepada Winer yang duduk di depannya.

“Lalu ke mana ia akan diasingkan?” Winer penasaran.

“Celebes dan pulau-pulau sekitarnya mungkin akan jadi tempat pengasingannya. Seperti yang dialami Diponegoro dan Kyai Mojo. Kita lihat saja,” kata Macgillavrij.

“Tuan, raja sudah jelas tidak melakukan perlawanan. Ia begitu pasrah dengan hukuman. Namun, ia meminta sejumlah pengikut dan keris pusaka bernama Setan Kober untuk ikut meninggalkan Surakarta,” tutur Winer.

“Penuhi saja. Ia boleh mengajak dan membawa setan mana pun asal bukan meriam. Namun, batasilah jumlah dan saring siapa pengikut yang ia pilih untuk ikut meninggalkan keraton. Segera sampaikan permintaan itu kepada keraton dan mari kita atur perjalanannya ke Semarang,” sahut Macgillavrij.

***
AKU sangat kecewa dengan raja yang satu ini. Aku menyaksikannya kehilangan daya tanpa ada darah tertumpah. Ia bukan Penangsang yang beringas. Tuanku kini adalah raja yang tak suka dengan kekerasan. Di tangannya, aku abadi sebagai jimat belaka tanpa pernah memenuhi takdirku sebagai senjata! Aku menjadi serupa rajah yang memang tak pernah mampu menjadi senjata pembunuh mematikan.

Apa yang kurang dari nasib buruknya? Dilucuti mahkotanya, diusir dari istananya, lalu diasingkan ke seberang lautan. Sungguh celaka, nasib yang begitu buruk ternyata tak mampu menyulut keberaniannya mengeluarkan aku dari warangka. Setan macam apa aku ini hingga tak mampu membuatnya sempat menghunusku dalam situasi serunyam itu? Aku Setan Kober! Mengapa tak kau hunus bilahku?

Sejak ibunya mengambilku dari gedung pusaka dan aku berangkat menuju Semarang, aku sudah membayangkan kesegaran darah. Nyatanya? Aku sekarang terdampar di Batu Gajah tanpa pernah menyecap darah. Dan di bumi bernama Ambon ini, aku malah menjadi saksi raja tanpa mahkota itu jatuh cinta dengan perawan sipit anak Babah Ke Hing dari Pecinan. Ah, aku setan yang sial! Siaaal!

***
“DOR!” ***


Catatan: Sapardan atau Pakubuwono VI atau Sunan Bangun Tapa meninggal dalam pengasingannya di Ambon pada tahun 1849. Belanda melaporkan ia meninggal karena kecelakaan di laut. Pada 1957, pemindahan kerangka Pakubuwono VI ke Imogiri mendapati bekas lubang peluru di tengkoraknya. Letak lubang peluru itu menunjukkan ia bukan mati bunuh diri atau kecelakaan di laut. Diperkirakan, raja yang bertakhta pada 1823-1830 itu terbunuh oleh peluru senapan yang mengarah ke dahinya. Setelah muncul dalam Babad Nitik Sinuhun Bangun Tapa, keris pusaka Setan Kober hingga kini tak diketahui keberadaannya.



HENDROMASTO PRASETYO. 
Penulis budaya, tinggal di pinggiran Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hendromasto Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 18 Maret 2018

0 Response to "Setan Kober dan Sapardan"