2030 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

2030 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:24 Rating: 4,5

2030

PRAM sedang membaca koran dengan headline ‘Negara Bubar 2030’. Ia membaca berita yang membosankan itu sampai ketiduran. Begitu bangun, Pram terhenyak, ia tiba-tiba telah berada di tahun 2030! 

Pram mencuci muka lalu membuat kopi, mengambil dua lembar roti tawar, mengoleskan selai kacang dan menyantapnya. Pram menyalakan televisi. Sebuah stasiun televisi menayangkan siaran langsung pidato presiden. Pidato berisi keputusan resmi presiden untuk menjadikan agama A sebagai satu-satunya agama yang diakui negara. Mata Pram melotot hampir copot. 

Pram membuka jendela. Ia melihat kota berwarna kelabu. Kapsul terbang hilir mudik. Alat transportasi itu tampaknya telah menggantikan motor, mobil dan kendaraan lain. Pram ternganga. Di sekeliling apartemennya kini hanya ada gedung dan gedung. 

Tak tahu harus berbuat apa, Pram kembali menonton televisi. Ia terkaget-kaget saat televisi menayangkan siaran berita tentang seorang ilmuwan yang menemukan mesin detektor keimanan. Mesin itu tak hanya bisa memindai iman apa yang kita yakini, tapi juga mampu mengukur kadar keimanan. 

Mesin detektor keimanan itu telah diproduksi massal untuk sukseskan program pemerintah menjadikan negara ini sebagai negara dengan agama tunggal. Mesin itu nantinya akan dipasang di sudut-sudut kota. Jika terdeteksi seseorang dengan keimanan selain kepada agama A maka ia akan segera ditangkap Pasukan Penegak Keimanan. 

Pram berpikir keras. Ia tak bisa bayangkan jika mesin itu juga akan digunakan untuk seleksi penerimaan pegawai negeri. Hanya pegawai negeri dengan kadar keimanan tinggi yang akan diterima bekerja. Lebih jauh, Pram membayangkan mesin itu akan digunakan oleh para orangtua sebelum menikahkan anaknya. Hanya yang memiliki iman memadai yang akan diambil mantu. Sableng! 

Di luar kamar tiba-tiba terdengar suara berisik. Pram memberanikan diri keluar kamar untuk melihat. Beberapa orang berkumpul depan lift. 

”Robot-robot sedang memasang mesin detektor keimanan di tiap lantai. Berhati-hatilah jika kau tidak memeluk agama A, kau akan ditangkap Pasukan Penegak Keimanan.” kata seorang tetangga Pram. Bulu kuduk Pram meremang. 

Pram lekas-lekas kembali ke kamar. Ia nyalakan televisi, mengusir gelisah. Televisi tayangkan iklan mesin pembuat puisi. Mesin itu tawarkan jasa membuat puisi. Siapapun bisa menumpahkan isi hatinya lewat mikrofon kecil di mesin itu. Lalu dalam beberapa menit mesin itu akan mengeluarkan kertas berisi puisi yang telah disesuaikan dengan isi hati penggunanya. 

Pram tertawa keras-keras. Pram ingat, di ”kehidupannya dulu” ia pernah menjadi redaktur puisi di sebuah koran. Setiap minggu Pram harus memilih satu penyair untuk dimuat puisinya di rubrik yang ia asuh. Pram tak menyangka di tahun 2030 ia akan menonton iklan mesin pembuat puisi di televisi. Ia menduga saat ini sudah tak ada lagi orang yang berprofesi sebagai penyair. 

Pagi datang. Pram mendengar teriakan memilukan di kejauhan. Ia bangun dan membuka jendela, memeriksa apa yang terjadi. Tampak olehnya orang-orang dipaksa naik ke atas kapsul terbang ukuran jumbo. Di badan kapsul terbang terbaca tulisan Pasukan Penegak Keimanan. Pram bergidik ngeri. Ia membayangkan suatu saat ia akan diciduk oleh Pasukan Penegak Keimanan dan digelandang naik ke atas kapsul terbang. 

Pram menyalakan televisi dan menemukan tayangan berita tentang bekerjanya mesin detektor keimanan dan pergerakan Pasukan Penegak Keimanan. Ternyata di mana-mana ada penangkapan. Beberapa orang dengan terang-terangan melawan pemerintah dengan membentuk Gerakan Keragaman. 

Tiba-tiba terdengar pintu kamar Pram diketuk. Ketukan kasar. Pram berdebar. Siapa itu? Apakah Pasukan Penegak Keimanan mendatanginya? Apakah ini saatnya? Lutut Pram lemas. 

*) A Zakky Zulhazmi, lahir di Ponorogo, 20 Maret 1990. Cerpen karyanya dimuat di beberapa media. Kumpulan cerpen Gula Kawung , Pohon Avokad dan cerpen lain (Surah, 2015). Mengajar di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Surakarta. Tinggal di Pucangan, Kartasura-Sukoharjo

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Zakky Zulhazmi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 1 April 2018 

0 Response to "2030"