Ayah Ditelan Lautan, Ibu Menelan Rembulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ayah Ditelan Lautan, Ibu Menelan Rembulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Ayah Ditelan Lautan, Ibu Menelan Rembulan

SEJAK ayah hilang di tengah lautan, ibu kerap menyalahkan rembulan. Katanya, di malam kematian ayah, rembulan sempat pecah. Pecahannya berserakan ke mana-mana. Beberapa keping pecahan rembulan menghajar perahu ayah. Kepingan lainnya jatuh ke permukaan laut. Lautannya yang awalnya tenang menjadi beringas. Binal dan nakal, melahirkan gelombang air pasang. Perahu ayah karam. Ayah tak pernah muncul di permukaan. Dia menghilang. Lesap ditelan lautan yang sedang dilamun gelombang.

"Rembulan itu pendurhaka. Perampas Ayahmu. Membuatku menjadi seorang janda. Aku akan memakannya," gumam ibu di satu malam, selepas 40 hari kematian ayah.

"Rembulan tetap utuh, Bu. Dia tak pernah pecah." Aku berbisik perlahan.

Di langit, rembulan masih utuh menggantung.

"Kau tak akan bisa melihat rembulan pecah itu. Kau masih muda. Aku akan membalas dendam. Setiap hari, aku akan memakannya. Sampai dia habis. Sampai dia tak bisa berleha-leha lagi di atas sana."

Aku tak lagi berbicara. Hanya menatap ibu dengan hampa. Ibu beranggapan bahwa rembulan yang bersalah atas kematian ayah. Namun di sisi lain, ia beranggapan bahwa rembulan tak lebih dari makhluk imortal. Pecah, lalu utuh lagi. Selepas ayah menghilang di tengah lautan, ibu tak ubahnya menjadi seorang pendongeng. Mendongeng dengan caranya sendiri.

***
TANGAN ibu bergerak perlahan. Telunjuknya mengarah ke rembulan yang sedang bersinar terang. Lewat telunjuk tangan kanannya, ibu mengerat rembulan. Lewat jarinya, ibu memotong-motong rembulan menjadi beberapa bagian. Lalu dengan cekatan, dia mengambil sepotong. Potongan rembulan itu dia masukkan ke dalam mulut. Lalu bibir ibu bergerak-gerak. Mengunyah potongan rembulan dengan nikmat.

"Rasa rembulan malam ini, agak berbeda dengan rembulan kemarin. Kemarin lebih manis, sekarang terasa lebih kecut seperti belimbing wuluh." Mata ibu mengejap-ejap.

"Oh, mungkin rembulan malam ini enak jika dimasak bersama bandeng."

Aku masih terdiam. Ibu perlahan beringsut bangun, dan berlalu ke dalam. Tak lama dia kembali dengan sebuah rantang dan tutupnya. Tanpa berkata-kata, ibu memetik sisa rembulan yang dia makan. Setelah dirasa cukup, dia menutup rantang lalu menyimpannya baik-baik di lemari dapur.

Aku masih termangu-mangu. Di kejauhan lautan terlihat begitu hitam. Kelam. Dan menakutkan. Seolah-olah lauh tak ubahnya penyihir hitam yang mengerikan. Orang-orang yang berada di atasnya, bisa kapan saja ditelannya. Lalu tak dikembalikan. Seperti ayah.

Esoknya, ibu memasak sayur bandeng asam. Di sebuah panci ukuran sedang, potongan-potongan ikan bandeng terlihat menggiurkan. Nmun tak seperti biasanya, bandeng asam masakan ibu tak terasa asam sedikit pun. Hanya gurih, dan sedikit terlampau asin.

"Ibu tidak menambahkan belimbing wuluh?" Aku bertanya dengan hati-hati. Akhir-akhir ini emosi ibu kurang stabil.

"Tidak perlu belimbing wuluh. Rembulan yang semalam Ibu petik sudah sangat asam. Lihat, potongan-potongan rembulan sudah begitu banyaknya." Ibu menunjuk panci wadah sayurnya.

Aku mengerut. Tak ada potongan-potongan rembulan di sana. Perlahan aku menggeleng.

"Tidak ada potongan rembulan di sayur bandeng asam ini, Bu," ucapku pelan.

"Ah, lha ini apa yang mengapung di antara bandeng-bandeng ini? Yang kuning bersinar ini? Ini potongan rembulan!"

Aku mengalah. Tanpa berbicara sepatah kata lagi, aku memakan masakan ibu. Masakan yang agak lain rasanya. Bandeng asam tanpa rasa asam sedikit pun.

***
WAK Dalai menyambut kedatanganku dengan senyuman misteriusnya. Mata peraji tua itu memandangiku bagai seorang ahli. Bibir tuanya merah lantaran kinang. 

"Ah, kukira kau tak akan ke sini lagi setelah Ayahmu mati," ucap Wak Dalai ketika aku duduk di hadapannya.

"Aku ada perlu, Wak. Tentu uwak sudah tahu kan?"

"Ya, tentu saja. Bagaimana kabar Ibumu?" tanya Wak Dalai sembari meraih sebuah kaleng biskuit bekas. Untuk tempat ludahnya.

"Kabar Ibu buruk sekali," jawabku pendek.

Mendengar jawabanku, Wak Dalai terkekeh. Beberapa kali dia meludah. Ludah merah pekat bagai darah segar terlihat di dasar kaleng biskuit bekas.

"Buruk? Apa dia mencoba bunuh diri?"

"Tidak. Hal yang dialami Ibu lebih dari mengerikan dari sekadar bunuh diri."

"Apa itu?" Dahi Wak Dalai mengerut.

"Ibu sedang memiliki kegemaran baru. Memakan rembulan!"

Sesaat Wak Dalai tercenung.

"Kalau Ibumu doyan memakan rembulan, seharusnya kau bawa dia ke mantri jiwa"

Aku segera menggelang. Ibu selalu menolak tatkala aku akan mengantarnya ke dokter jiwa. Dia meyakini, bahwa dirinya sehat secara raga dan mental. Aku mematuhi semua ucapannya, meski aku sendiri tak percaya. Ibu tak sedang baik-baik saja. Dia terluka parah. Mentalnya. 

"Sudah beberapa kali aku hendak membawa Ibbu ke dokter. Tapi dia malah marah-marah. Katanya, aku hampir sampai ke titik durhaka!"

Wak Dalai terbahak. Kali ini benar-benar tertawa. Mungkin, kata durhaka yang tadi aku ucapkan bagaikan lelucon yang mengundang gelak tawa.

"Ya, ya. Tidak mudah merayu ibumu dalam hal tertentu. Sejak dulu dia memang keras kepala. Lalu, apa tujuanmu datang kemari?" Wak Dalai menjumput tembakau baru dari wadah kuningan di sampingnya.

"Aku ingin bertanya tentang Ayah, Wak. Benarkan Ayah sudah meninggal? Atau dia masih hidup namun terdampar di tempat asing?"

Wak Dalai terdiam. Dia menatap mataku lekat-lekat. Seakan kedua bola mataku sedang memperlihatkan sesuatu.

"Kau tahu? Ayahmu ditelan lautan seperti seseorang yang sedang mencret menelan obat diare. Ditelan bulat-bulat. Kau ingin melihatnya?" tanya Wak Dalai setelah menatap kedua mataku sekian menit.

Mendengar pertanyaannya, aku mengangguk.

"Tepat tanggal lima belas esok, datanglah ke laut. Hari itu adalah waktu perhitungan kelahiran Ayahmu. Kau akan melihat, apa saja kerja Ayahmu di dasar lautan."

"Jadi aku harus menyelam?"

"Tentu saja. Kau tidak akan mati. Ada pil yang harus kau telan sebelum pergi menyelam."

Rassa khawatirku segera muncul. Bukan hal baru kalau di laut itu bersemayam begitu banyak jin yang bisa menyaru menjadi apa saja. Tapi Wak Dalai meyakinkanku, bahwa waktu pengapesan milikku masih sangat lama.

***
TANGGAL 15 tengah malam, sesuai perhitungan Wak Dalai, aku pergi ke laut. Aku meninggalkan ibu yang masih duduk menunggu rembulan muncul. Ibu berencana akan mengambil rembulan lebih banyak dari biasanya. Dia akan memasak tumis serta kudapan dari rembulan. Aku membiarkan ibu memotong-motong rembulan menggunakan telunjuknya seorang diri..

Aku menelan pil pemberian Wak Dalai. Tak lama aku segera menyelam. Seperti ikan julung-julung, aku melesat ke segala penjuru. Di tengah lautan, aku menemukan ayah. Dia tak seperti orang mati. Ayah duduk di sebuah karang, di dasar lautan. Beberapa wanita yang molek dan tak senonoh mengitarinya. Ayah tertawa-tawa. Aku bergidik ngeri. Satu perempuan itu membelai-belai ayah. Ayah belum mati. Dia masih seperti dulu. Meski tubuhnya pucat pasi, seolah tak ada darah lagi yang mengalir di tubuhnya.

Aku mencoba medekati ayah. Di dalam air, aku berusaha memanggil namanya. Ayah terpana, melihatku berenang menuju ke arahnya. Tapi tatapan matanya sedingin es batu. Hampa. Seolah ayah kehilangan ingatan.

Aku meraih ayah, tapi selalu gagal. Perempuan-permpuan yang berada di dekatnya seketika mencegahku. Ayah bergeming. Wajah yang caantik seketika berubah mengerikan. Tangan-tangan dengan kuku yang panjang seakan siap mencekik leherku. Aku sadar, mereka itulah jin laut yang mengerikan. Sebisa dapat aku mengelak, menghindari tangan-tangan mengerikan itu mencekik leherku. Ayah tetap bergeming. Dia duduk santai di karang.

Aku terpaksa meninggalkannya. Tak ada gunanya lagi aku mengajak ayah kembali. Ayah sudah berubah. Dengan kecewa, aku berenang ke bibir pantai.

Di tepi pantai, aku termangu-mangu. Ayah telah memenuhi keinginannya. Dia menjadi jin laut. Seperti ucapannya dulu ketika kesal dengan ibu. Ayah akan menenggelamkan diri di laut. Dan dia tak perlu kembali kepada ibu. Menjadi penunggu karang jauh lebih bagus baginya. Ayah berhasil meraih cita-citanya. Dia mungkin kini lebih bahagia menjadi penunggu karang di tengah lautan lepas. 

***
AKU pulang dengan hampa. Tubuhku basah kuyup. Dalam perjalanan menuju rumah, aku memikirkan ayah yang telah menjadi penunggu karang. Berkawan akrab dengan jin-jin laut yang menakutkan. Aku juga memikirkan ibu, yang kini memusuhi rembulan.

Ucapan Wak Dalai ternyata benar. Garis nasib membawaku ke dalam hal-hal yang akrab dengan celaka. Pundakku memanggul takdir yang kurang baik. Perlahan aku berusaha melupakan ramalan perajin tua yang sesungguhnya dukun itu. Di pikiranku, kini hanya ibu. Aku memikirkan, bagaimana caranya mengajak ibu ke dokter jiwa esok hari. Mentalnya yang terluka, harus segera diobati.

Sampai di halaman rumah, aku melihat ibu. Dia duduk di beranda. Tangannya sibuk mengerat rembulan. Lalu memakannya dengan nikmat. Tampaknya ibu tak juga kunjung kenyang, memakan rembulan setiap malam.

Salatiga, September 2017

*Artie Ahmad (Sunarti): lahir di Salatiga. 21 November 1994. Tinggal di Jalan Residen Indarjo 25 Gendongan Tingkir Kota Salatiga Salatiga.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Artie Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 1 April 2018

0 Response to "Ayah Ditelan Lautan, Ibu Menelan Rembulan"