Bermain dengan Bayang - Laut Tokondhang - Martajasah - Desember - Di Mlajah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Bermain dengan Bayang - Laut Tokondhang - Martajasah - Desember - Di Mlajah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Bermain dengan Bayang - Laut Tokondhang - Martajasah - Desember - Di Mlajah

Bermain dengan Bayang

Di sepanjang suramadu
wajahmu menggulung
murungku
jembatan yang kutapaki ini,
sepi
Sementara wajah-wajah
bergelantungan
dibasahi asin ombak laut
Ada yang menyelinap
membentangkan sayapnya pada
diriku yang lain
seperti senyum malaikat
yang berwarna
kupu-kupu itu
Dan engkau hilang
menimbang-nimbang
jalan pulang

Bangkalan, 2018

Laut Tokondhang

Panglong di pantai-pantai sunyi
taker-taker, jajan genna’
dan kembang merah di tocangga
ditabur bersama doa-doa nelayan
yang dihanyutkan menebar buih
paregi Ayah dan peluh kecut
merendam malam
di tengah tokondhang
ombak-ombak menghantam
sakal itu dalam pajang
agar kendhuy-kendhuy mengambang
Bila tubuhnya
berselimut angin
di pinggir laut, ibu berlari
menghalau dingin
menunggu panemor tiba
memanggul ikan-ikan
ke gemunung pasir yang asin

Sumenep, 2018

Martajasah

Ke pelataran syaikhona yang
temaran
aku datang membawa
salam pertemuan
Orang-orang mengaji
aku masuk ke dalam diri melalui puisi
Martajasah yang hangat
kamalja putih mewangi serupa mimpi
Jejak-jejak yang meninggi
meninggilah
menimbang sepi
Sebelum redup, kita bagai api

Bangkalan, 2018

Desember

Kembang luka juga cinta yang manja
hidup dan menyala
Hari-hari, rindu yang enggan mati
padamu, jarak yang pelit
menyusun kisahnya
sedang mataku, padang
memandang
Melangkahlah
pada desember yang sempurna
dan lekat pada tatapmu
Detik-detik yang usang
dari sisa hujan, kenangan
dan sebuah ketiadaan
Lalu jiwaku terjaga
mengecup luka
pada tubuh tabahmu
dengan puisi, wangi januari

Bangkalan, 2018

Di Mlajah

Di atasnya orang-orang bersimpuh
doa dan kesunyian digelar
seperti kicauan burung
di ranting-ranting langit syaikhona
Rautku yang biru, rindu
pijak kakiku yang nisbi, sunyi
tangisku yang liris,
gerimis
lalu dalam sujud engkau maujud
serupa perahu ayah,
kuhampar sajadah di mlajah
menadah segala yang terdedah.
sebab tubuhku hanyalah bentuk
yang kelak terpisah
dari jiwanya
remuk

Bangkalan, 2018


Ina Herdiyana, lahir di Sumenep, Madura. Puisinya terangkum dalam antologi Keluarga Besar Masyarakat Lumpur (KML, 2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ina Herdiyana

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 29 April 2018

0 Response to "Bermain dengan Bayang - Laut Tokondhang - Martajasah - Desember - Di Mlajah"