Dulu Aku Menangis - Mimpi Lebih Kurindu - Tersesat di Dalam Mesin - Tunjukkan Badik itu - Sebuah Perjalanan - Tentang Berita yang Datang - Tak Ada lagi Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dulu Aku Menangis - Mimpi Lebih Kurindu - Tersesat di Dalam Mesin - Tunjukkan Badik itu - Sebuah Perjalanan - Tentang Berita yang Datang - Tak Ada lagi Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Dulu Aku Menangis - Mimpi Lebih Kurindu - Tersesat di Dalam Mesin - Tunjukkan Badik itu - Sebuah Perjalanan - Tentang Berita yang Datang - Tak Ada lagi Puisi

Dulu Aku Menangis

apakah airmataku harus menetes
sebab memandangi segala menjulang?
seperti dulu aku bisa menangis amat
mudah
ketika kusaksikan tetanggaku menge-
luh
“apalagi yang bisa kami nikmati dari
kemerdekaan dan raja yang berkuasa
kini
kecuali kami menonton lalu merasakan
harga-harga terus melambung tinggi
seperti balon dimainkan anakanak
tanpa benang untuk kendali?”

dulu, aku memang menangis. begitu
mudah meneteskan airmata
setiap ada tetanggaku mengeluh:
“kami seperti hidup di negeri tak subur,
tambang minyak bukan lagi senandung
hutanhutan hilang rimbun. jalanjalan
baru dibangun dan menggundulkan
setiap yang menghadang: ladang
dan sawah -- dan cinta ayah ibu untuk
anakanak ke sekolah -- “aku tak punya
lagi airmata,” kata tetangga
dan, dulu aku mudah menangis
bersama para tetangga
tapi entah karena apa

2018

Mimpi Lebih Kurindu

baiklah, kusimpan saja namamu
selama kudiamkan malam
di bawah bantal kuletakkan
agar esok bisa kubaca lagi
sekiranya tak hilang dicuri mimpi
bagiku, mimpi lebih kurindu
daripada namamu karena
berdiam dalam batang
di tubuhku: serupa pohon
yang merambat itu...

2018

Tersesat di Dalam Mesin

sungguh, aku tak lagi bisa
menyusun katakata
untuk satu puisi malam ini
untuk awal tercekiknya
leher para tetanggaku
sebab melambainya
kenangan lima tahun silam
sebelum kau ada di kursi itu
ah, sungguh, aku tak bisa
meneruskan satu kata lagi
ketika orangorang teriak
setelah dikalahkan
dan lainnya tertawa
karena laba
dari peristiwa itu
ya, sungguh, aku kehilangan kata
setelah tersesat di dalam mesin
di sebuah stasiun...

26 Maret 2018

Tunjukkan Badik itu

katakan, alfa, agar kuterima
perih dari lukaku
dan tunjukkan badik itu
sebelum kausarungkan kembali
lalu malam akan membawaku
larung di sungai berbatu
“biar aku jadi batu; abadi, yang
kelak kau ziarahi atau lupakan,”
pesanku
simpan badik itu, alfa, kalau
ingin tahu aku tak akan mengucap
perih di depanmu. jalan sungai
yang berbatu akan menimbunku
sebagai persembahan lain
untuk semesta yang kutinggalkan
betapa kau...

28 Maret 2018


Sebuah Perjalanan

juga asap rokok, riuh orangorang
seperti berlomba di area perokok ini
bawah koridor, pepohonan yang sendu
“kita menunggu pesawat
yang akan membawa, ke entah...”
tak pernah bisa tahu pasti
apakah akan ketemu lagi
di bandara berikut
atau cukup di sini juga entah untuk
siapa
seperti sebuah perjalanan
kita meniti misteri

29032018

Tentang Berita yang Datang

kabarkan, tapi tak juga kau sampaikan
hingga kutahu bukan darimu
tentang burungburung yang pergi
lalu melupakan sarangnya
di mana dilahirkan. selain sisasisa
jerami dan daundaun kering
entah dari mana. kabar itu hilang
dan hanya kubaca dari bibirmu
yang menganga; aku pun mengeja
hurufhuruf tak rampung
berita yang kemudian kunanti
: kabarkan, sebelum aku
menerka setiap kata tak selesai
sebagai janji yang kemudian
akan kau lupakan juga
kelak

30032018, 708/arma

Tak Ada lagi Puisi

aku terbangun:
tak ada lagi puisi
di bantal yang telah
menemaniku semalam
“aku lelah karena kau
hilang selama aku
tidur: minggat?” gumamku
setelah melihatmu tiada
atau pergi ketika aku lelap

2017/2018

ISBEDY STIAWAN ZS, Menulis puisi, cerpen, dan esai yang dipublikasikan di berbagai media massa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Isbedy Stiawan ZS
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Sabtu, 21 April 2018

0 Response to "Dulu Aku Menangis - Mimpi Lebih Kurindu - Tersesat di Dalam Mesin - Tunjukkan Badik itu - Sebuah Perjalanan - Tentang Berita yang Datang - Tak Ada lagi Puisi"