Jakun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Jakun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:02 Rating: 4,5

Jakun

LELAKI itu menampar pipi Malina setelah memperhatikan benjolan kecil yang menonjol di leher Malina. Padahal, sebelum- nya lelaki itu begitu berhasrat pada Malina, seperti anjing beringas yang mendapatkan jatah santapannya. Setelah menampar pipi Malina, lelaki itu pergi begitu saja tanpa meninggalkan uang sepeser pun, bahkan ia masih sempat mengumpat dan meludahi Malina. 

Malina membalas umpatan itu setelah lelaki itu berjalan cukup jauh untuk mendengar umpatan- nya, “Lelaki tolol, kalau mau mencari wanita tulen seharusnya kau tak datang ke tempat ini. Lagi pula apa matamu jereng, tak bisa melihat jakun menonjol sebesar ini.” 

Malina mengusap pipinya yang masih panas oleh tamparan lelaki itu. Ia menarik napas dalam-dalam sambil meresapi nyeri di pipinya. Tiba-tiba Malina menghitung, sembilan dari sepuluh lelaki yang membayarnya memang cenderung bersikap beringas dan kasar, seperti anjing hutan. Benar-benar anjing hutan. Jenis yang suka memakan bangkai. Begitulah, Malina mem- bayangkan dirinya bagai segumpal bangkai yang tak pernah habis dicabik-cabik. 

“Ada tragedi salah paham lagi rupanya,” kata beberapa teman Malina sambil cekikikan. Malina tak mau menghiraukan mereka. Sudah terlampau malam. Malina memilih melangkah pulang. Dalam hati, Malina tak puas-puas mengumpat lelaki barusan, bagaimana ada lelaki setolol itu, seharusnya ia tahu makhluk seperti apa yang mungkin bisa ia temui di tempat seperti ini. Barangkali ia hanya lelaki naif yang ingin mencoba hal-hal baru.Benar-benar payah. 

Rasa nyeri di pipi Malina membuatnya memikirkan sesuatu yang telah jauh. Sesuatu di masa lampau yang membawanya ke dunia sialan ini. Malina cukup menyesalkan dirinya yang tiba-tiba men- jadi gila setiap kali melihat lelaki tampan melintas di hadapannya. Seperti ada seekor ular yang tiba-tiba mendesis di balik celananya. Seolah-olah dirinya menjadi seseorang yang bukan dirinya. Atau malah, seseorang yang bukan dirinya menjelma menjadi dirinya.

Malina sadar betul, bahwa ia terlahir dengan nama Malin—dan bukan Malina, ia memiliki buah zakar dan memiliki jakun, lengannya pun berurat dan dadanya membidang—bukan membukit. Namun yang tak bisa Malina pahami adalah setelah ia remaja, mengapa tiba-tiba suaranya menciut dan sengau serupa bunyian perawan, gerakkan tangan- nya pun sangat gemulai layaknya peragawati. Dan itu semua tidak dibuat-buat. Alami dan muncul begitu saja. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menggerakkannya. Sesuatu yang bukan dari diri Malina. 

Mungkin itu bermula ketika Malina masih kecil, ketika namanya masih Malin. Ia ingat betul, hampir semua kawan lelakinya tak mau bermain dengan- nya, karena ia tak pernah bisa menerbangkan layang-layang dengan benar, ia juga tidak mahir membidik kelereng seperti anak-anak lelaki lainnya. Ia malah lebih nyaman bermain dengan perempuan, bermain bola bekel, pasar-pasaran, atau rumah- rumahan. Menurutnya, anak perempuan memang jauh lebih bisa menghargainya ketimbang anak laki-laki—yang begitu kasar dan suka memanggilnya Malin si bencong. Hati Malina sakit sekali, meski apa yang diolok-olokkan temannya itu benar adanya. 

Dalam perjalanan menuju rumah kontrakannya, Malina tak henti-henti melamunkan masa lalunya yang hampir basi itu. 

Malina membuka pintu rumah kontrakannya dengan hati-hati, supaya tidak berderit. Ia tak ingin kedatangannya membangunkan Apip—bocah yang ia temukan lima tahun silam di dekat jembatan tempat ia menunggu pelanggan. Malina sangat menyayangi bocah itu. Kehadirannya bagai lentera bagi kehidupan malina yang melulu suram. Malina menghela napas lega melihat Apip masih tertidur pulas di ranjangnya. Malina ingin mendekatinya dan mencium keningnya, tapi urung, ia tak ingin membangunkan bocah itu. 

Malina kembali ke ruang depan, ia mengempaskan punggungnya ke sofa setelah meneguk air dari teko plastik di atas meja. Ia melepaskan sepatu hak tingginya, ia meringis, mengeluhkan kakinya yang lecet gara-gara sepatu kekecilan itu. Ia juga mulai melepaskan wig-nya, ia mencium wig itu sekilas, baunya seperti bulu ayam yang habis disembelih dan diguyur air panas. Malina heran, padahal sebelum berangkat ia sudah menyemprot wig itu dengan hairspray. Malina mengurai rambut tipisnya yang dijepit sebelum kembali mengempaskan tubuhnya ke sofa, matanya menerawang langit-langit dengan penerangan yang redup. 

Seumur-umur Malina tak ingat pernah mencintai perempuan, mencintai dalam artian hubungan asmara dan hasrat-hasrat yang liar. Tak sedikit pun ada celah dalam dirinya untuk menampung perasaan pada makhluk bernama perempuan. Malah Malina pernah jatuh cinta pada beberapa le- laki, namun begitulah, cintanya selalu— dan akan selalu—bertepuk sebelah tangan. Cintanya pada makhluk berjakun hanya sebuah cerita sedih yang bertumpuk-tumpuk dan membusuk di dada- nya, hanya di dadanya. Karena, bagaimana pun Malina adalah makhluk berjakun yang sama. Lelaki normal tentu akan jijik menyentuhnya. 

Namun di antara beberapa lelaki yang pernah ia cintai, ada seorang lelaki yang sampai detik ini masih ia kenang—sebenarnya masih ia cintai, bah- kan lelaki itu masih kerap datang ke dalam mimpi Malina. Barangkali, ia cinta terakhir Malina. Lelaki itu adalah Langit, namanya memang Langit. 

Mungkin salah satu hal yang membuat Malina tak bisa melupakan lelaki itu adalah karena namanya Langit. Jadi, setiap kali Malina menengadahkan wajah tanpa sengaja ke langit, yang muncul per- tama kali dalam benaknya adalah lelaki itu. Lelaki yang begitu teduh air wajahnya, begitu lembut perangainya, dan begitu halus tutur katanya. 

Dulu, Malina kerap memandangi Langit, ketika ia tertidur di sebelahnya. Bahkan Malina hampir tak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Dulu, lelaki itu sering mendekap Malina dan memberi pengertian ini-itu, ketika Malina tengah bersedih atau terpuruk. Langit memang lelaki yang baik. Ia sahabat yang baik. 

Malina tak bisa berkutik dari rasa sakit, karena sekali lagi ia telah berbuat salah: mencintai lelaki normal. Malina sudah sadar sejak pertama bahwa Langit masih sangat waras untuk tidak mencintai makhluk berjakun. Apa pun yang dilakukan Langit padanya, semata adalah kepedulian dalam batas pertemanan. Tak lebih. Tak mungkin lebih. 

Maka, Malina sudah bisa menebak, bahwa pada akhirnya, hatinya harus hancur. Begitulah, Langit pun menikah dengan seorang gadis yang di- cintainya. Malina datang dengan senyum ke pernikahan itu, meski hatinya sudah tak berbentuk. Semenjak Langit menikah— bahkan sekarang sudah punya dua anak, Malina tak pernah lagi men- ghubunginya. Malina sudah terlan- jur terjun ke dunia lain. Ia tak ingin Langit tahu, apalagi terlibat di dalamnya. 

Ketika Malina tengah larut meraba-raba seperti apa wajah Langit sekarang, tiba-tiba Apip sudah berada di hadapannya. Malina hampir saja menjerit karena kaget. 

“Kenapa kau bangun, Nak? Apa kedatangan ibu membangunkanmu?” 

Suara Malina sengau dan lelah. Ia meraih bocah itu ke pangkuannya. 

 Bocah itu mendongak ke wa- jah Malina, “Apa aku boleh melihat leher Ibu?” tanyanya dengan suara serak dan mengantuk. 

Malina merasa aneh dengan pertanyaan itu, ia jadi ingat, sebelum ia be- rangkat petang tadi, bocah itu sempat menanyakan hal yang sama. Dan karena terburu- buru, Malina tak menghiraukannya. 

Kini Malina yang jadi bertanya-tanya, apakah hal itu teramat penting baginya, sehingga ia terbangun malam- malam hanya untuk menanyakan itu. 

 “Memangnya kenapa dengan leher Ibu?” balas Malina ragu-ragu. 

“Temen-temanku bilang kalau Ibu laki-laki, dan kata mereka, laki-laki tak boleh dipanggil Ibu,” Malina terhenyak, tapi ia berusaha menguasai dirinya. 

“Lalu kau bilang apa pada mereka?” 

“Aku bilang mereka bohong. Tapi, kata mereka, kalau aku tidak percaya, aku disuruh melihat ke leher Ibu, kalau di leher Ibu ada benjolan berarti laki-laki, tapi kalau tidak ada berarti Ibu perempuan dan boleh kupanggil ibu.” 

Malina terdiam. 

“Apa aku boleh melihat leher Ibu?” 

Malina sedikit menunduk. Ia berterima kasih pada cahaya lampu yang redup. 

“Ibu, apa aku boleh melihat leher Ibu?” Bocah itu bertanya lagi. 

Malina tidak menjawab. Saat itu, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah mengambil pisau dan mencongkel benjolan itu dari lehernya.  ❑

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Sabtu, 21 April 2018 

0 Response to "Jakun"