Kau yang Menikah dengan Batu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Kau yang Menikah dengan Batu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:00 Rating: 4,5

Kau yang Menikah dengan Batu

KAU yakin semua wanita menginginkan sebuah pernikahan yang bahagia, jauh dari masalah, senantiasa dimanja suami, hidup damai dan bisa berdampingan sampai akhir hayat. Namun pernahkah berpikir kenapa bisa terjadi banyak sekali perpisahan pada dua orang yang dulu katanya saling mencintai, dan tak bisa hidup satu sama lain jika berjauhan? Orang yang telah berjanji di hadapan Tuhan untuk bergantian menjaga dan menyayangi tanpa batas waktu basi seperti makanan yang dijual di toko-toko. Lalu ke manakah semua itu? Apakah lenyap begitu saja seperti debu di atas batu yang tersapu air hujan? 

Usiamu belum seperempat abad tapi orang-orang di sekitar— terlebih ibumu—sudah ribut sekali mempersoalkan dirimu yang masih sendiri. Padahal mereka ngaji seminggu dua kali di sebuah pengajian rutin. Mestinya sudah hafal dan tahu kalau jodoh itu Tuhan yang menentukan, Tuhan yang mengatur dengan siapa dan kapan akan bertemu, juga di mana tempatnya. Sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Tapi mereka sedikit pun tak mau mendengar alibimu. Kaukata, “Santailah, toh masih dua puluh sekian. Nanti juga datang sendiri jodohnya.” 

Mereka sama sekali tak mau menerima itu. Katanya kau sudah terlalu tua karena para anak tetangga kebanyakan setelah lulus sekolah menengah atas langsung menggendong bayi. 

“Iya,” katamu “… mereka kan nyelengi dulu sewaktu masih pakai seragam putih abu-abu. Makanya lulus sekolah, nikah beberapa bulan langsung gendong anak.” 

“Ada duda dua kali. Anaknya satu sudah perawan. Kau menikah saja dengan dia.” “Kalian gila!” jawabmu. 

“Kalian kira aku sangat jelek dan tidak laku dengan perjaka.” 

Kau sangat tersinggung dengan ide mereka. Lagipula kau ini masih muda. Masih mungkin untuk mendapatkan lelaki seperti yang kauinginkan. Jadi tidak perlulah sampai segitunya

Suatu ketika di tengah kegelisahan akibat desakan ibumu yang meminta agar cepat menikah dengan alasan ubannya makin bertambah, kau pulang kerja berjalan kaki—karena memang tempat kerjamu tidak terlalu jauh dari rumah. Di sebuah konfeksi yang lumayan terkenal di kota ini. Di dekat tiang listrik, seorang batu, sebuah batu, seonggok batu atau apa pun itu harus kausebutnya, sedang memerhatikanmu. Kau tahu dia. Sudah kenal sejak lama malah. Dia kekasihmu di masa lalu. Kurang lebih sembilan tahun lalu. Yang sempat pergi datang, pergi datang, pergi datang dan entah pergi datang untuk ke berapa kali yang sekarang ini. Dulu kausebutnya jailangkung. Bagaimana tidak? Dia hobby sekali menghilang, tidak ada kabar dalam waktu lama—yang kaukira itu adalah akhir dari kisah cinta kalian yang masih kencur. namun di saat hatimu telah rela, telah melupakannya, dengan santai dia datang menebar senyum khas— senyum sebuah batu—menemuimu seperti seorang kekasih yang tengah rindu-rindunya karena lama tidak bertemu. Bodohnya, kau yang memang terbutakan oleh cinta, dengan senang hati menyambut kembali, membuatkannya kopi, mempersilakan duduk, lalu kalian mengobrol banyak hal seperti sepasang kekasih pada umumnya. Kemudian dia hilang (lagi) … dan begitu terus sampai entah kapan berakhirnya keadaan seperti itu. 

Kadang kau muak dan ingin lari ke lelaki lain. Tapi hatimu telah dibawanya di pertemuan terakhir kali itu, diikatnya erat, dimasukkan ke saku yang dalam, dikunci dengan mantra-mantra. Atau mungkin dipersatukan dengan hatinya di dada. Karena jika kau lihat di dadamu sekarang, yang ada hanya paru-paru dan jantung. Hati itu sudah lenyap sejak lama. Menyisakan tempat kosong yang diisi luka mengering. 

Kini lihatlah. Batu itu setiap hari menunggu di situ. Menawarkan sebuah senyum yang sebenarnya tidak pernah dapat kautolak— karena hatimu masih dibawanya, bertahun-tahun bahkan sampai lupa. Yang sebenarnya tidak lupa tapi kaupaksa untuk melupakan dan mengikhlaskan. Toh kaukira dengan pertemuan-pertemuan yang baru dengan sosok lainnya yang bukan batu, hati yang baru pun akan tumbuh. Lebih subur dan lebih indah dibanding hati aslimu yang entah bagaimana bentuknya sekarang. 

“Baru pulang kerja?” tanyanya. 

Kau mengangguk saja. Malas jika hatimu yang mulai tumbuh dan baru kecil itu kembali dicurinya, yang akhirnya akan membuatmu jadi gila lagi jika tiba-tiba dia pergi. Membawa hati yang baru itu, dan hanya meninggalkan air untuk menyiram luka lama yang sudah kering. Hingga akhirnya rimbunlah kembali segala sakit yang pernah ada. 

Begitu seterusnya. Hingga tahun pun beralalu. Dan batu yang katanya tak dapat melupakanmu itu hanya memandangimu dari jauh tanpa berani menyapa. 

Usiamu dua puluh sekian ketika ibu lagi-lagi memaksamu untuk segera menikah. 

“Jodohkan saja,” katamu. “Tapi jangan dengan bandot tua.” 

Kau sudah amat putus asa dengan desakan untuk segera menikah. Lagipula apa salahnya sih seorang wanita menikah di usia yang lebih matang? Takut diomong tetangga dan disebut perawan tua? Bagimu itu lebih baik daripada kehilangan keperawanan dengan orang yang hanya berstatus pacar. Atau takut tidak memungkinkan punya anak? Oh ayolah … masih ada beberapa tahun lagi untukmu tetap aman mengandung dan melahirkan mengingat usiamu yang baru dua puluh sekian. 

“Oh iya.” Kau baru ingat sesuatu. “Ada seorang batu yang sudah sejak lama mengajakku menikah.” 

Mata ibumu berbinar mendengar ucapanmu. Seperti anak kecil yang mendengar akan mendapatkan permen lollipop besar dan banyak. Sama sekali tak menghiraukan bahwa yang mengajakmu menikah itu sebuah batu. Oke, katakanlah ‘seorang’ batu. Ibu lupa bagaimana hakikat dan perilaku seorang batu pada umumnya. Keras, cuek, sama sekali tak ada lembut-lembutnya. Dan entah apalagi segala yang dimiliki seorang batu yang tidak mungkin dimiliki orang pada umumnya. 

“Tapi dia seorang batu, Bu.” 

“Seorang batu bisa saja berubah jadi seorang bubur, Nda.” 

Ya ampun … begitu inginnya ibumu agar kau segera menikah, sampai tidak memedulikan siapa yang mengajak menikah. Batu! Ini batu yang mengajak menikah! Ini ibumu yang selalu berhusnuzon, ingin keinginannya segera terpenuhi, apa kau yang sama sekali tak pernah bisa melihat kebaikan si batu yang sering abai itu? 

“Kau itu sudah tua di kampung ini, Nda. Sudahlah terima saja. Ibu sampai malu diomong tetangga karena punya anak gadis yang belum menikah sampai usia segini.” 

Itu lagi yang diucapkan. Karena sudah bosan mendengarkan, pada detik itu juga kaukirimkan sebuah pesan ke si batu yang berisi kau mau menikah degannya. Setelah itu, semalaman suntuk kau berpikir akan merelakan keperawananmu untuk seorang batu yang kau tak tahu sudah berapa kali bercinta dengan batu-batu lain atau apalah sejenisnya. Atau kau yang harus menghabiskan sisa umurmu yang semoga tidak akan lama lagi di dunia ini untuk bersama seorang batu yang kautahu semua keburukannya. 

‘Tapi kau mencintai batu itu sejak lama, Nda.’ 

Hati kecilmu yang baru tumbuh dan siap disekapnya lagi yang berkata. 

Ya. kau memang mencintai batu itu. Bahkan tidak bisa melupakannya untuk waktu yang lama. Jadi senormalnya kau harus bahagia karena pada akhirnya Tuhan berkehendak bahwa seorang batu yang kaucintai itulah yang akan menjadi suamimu. Yang sebenarnya kaudoakan agar dia bisa berubah jadi bubur. 

*** 
KAU sedang memandangi usuk atap kamar. Tidur telentang dengan keadaan perut membuncit. Tidak menghiraukan jika posisi itu dapat mengakibatkan pendarahan, sebab bayi yang ada di perutmu menimpahi organ dalam. 

“Gantung saja lehermu dengan selimut.” 

“Tapi anakku berhak lahir.” 

“Kau pergi saja ke dukun kalau begitu.” 

“Syirik!” 

“Ke kiai?” 

“Sejak kapan seorang Manda mau pakai perantara begitu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan? Dia lebih percaya mengemis sendiri pada Tuhan daripada harus menyekutukanNya.” 

“Kau ingat, si batu pernah bilang padamu jika ada satu bagian dari perempuan yang jika diminumkan pada seorang laki-laki. Maka laki-laki itu akan takhluk dan tidak bisa berpaling lagi. Bahkan untuk berpaling ke batu tercantik sekalipun.” 

“Aku sedang hamil, bodoh! Tidak bisa. Lagipula itu menjijikkan. Aku juga tidak mau Tuhanku murka.” 

“Nasihati saja dia!” 

“Apa kau pernah melihat seorang batu dinasihati dan bisa menerima nasihat?” 

“Apa dia tidak takut dosa?” 

“Kau pernah melihat seorang batu yang takut akan siksa neraka? Takut dengan azab-azab Tuhan? Takut dengan dosa yang menggunung?” 

“Abaikan saja kalau begitu.” 

“Tapi anakku juga butuh kasih sayangnya.” 

“Itulah nasibmu yang menikah dengan batu. Dan kau mau tidak mau harus menerima kenyataan ini.”

Suara-suara itu lenyap dari kepalamu ketika ibu membawakan makanan ke kamarmu yang sudah seperti kandang babi. Berminggu-minggu kautempati tanpa kau apa-apakan. Berminggu-minggu pula anak ibumu yang dulu senang menawari ingin baju warna apa, seperti mayat hidup yang hanya menatap ke langit-langit kamar sambil menangis. Sama sekali tidak memedulikan dampak psikis pada anaknya yang masih ada dalam kandungan. 

“Kau lihat sekarang, Bu. Batu itu lenyap lagi.” 


Elfi Ratna Sari ialah penulis asal Pati. Sejumlah bukunya telah terbit, di antaranya Debur Tasbih sang Jalang (kumpulan puisi) serta Seribu Kepak Sayap Patahmu (novel). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Elfi Ratna Sari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 22 April 2018

0 Response to "Kau yang Menikah dengan Batu"