Kesunyian Panjang, 1 - Kesunyian Panjang, 2 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kesunyian Panjang, 1 - Kesunyian Panjang, 2 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Kesunyian Panjang, 1 - Kesunyian Panjang, 2

Kesunyian Panjang, 1 

 Kesunyian ini panjang.
 Hari-hari berjalan
 menjadikan batu berlumut,
 sungai-sungai penuh ikan,
 dan ladang-ladang mencipta warna kuning
 dari bilur-bilur padi.

 Kesunyian ini panjang.
 Seperti detak jam
 di dinding khayalmu,
 di tiupan angin,
 di serambi-serambi berdebu;
 seorang pergi dan menanam kenangan
 lebih panjang ketimbang malam berhujan,
 saat keletihan meletakkan
 wajah penat dan harapan-harapan
 dari kabut.

 Aku terasa berbisik
 pada diriku sendiri
 saat sayap berkelepak
 dari seekor kupu-kupu
 mengitari ruang hidupku,
 menjelma kemanjaan sepintas
 atas jam-jam yang melambat
 oleh penantian.

 Terkenanglah,
 ihwal-ihwal tentang burung,
 perbukitan dan dusun-dusunnya,
 hutan dan mitos tentang rimba.

 Orang-orang yang berlalu dari hulu
 dari tanah lempung mereka dilahirkan,
 dari batu-batu kata-kata mereka dikekalkan,
 dari eraman hujan tubuh mereka terbasuh,
 dalam pergantian matahari dan rembulan
 anak-anak mereka bermain.

 Inilah waktu yang pucat
 dan wajahku yang tertimpa sinar pagi,
 silau oleh maut,
 lentera malam meneduhkan
 kegelisahannya.

 2016 


 Kesunyian Panjang, 2 

 Sesuatu yang turun
 dari keremangan, hujan mendera
 dan aku mulai merabai
 keindahan saat itu:
 tahun berjalan sepenuhnya
 dan mereka yang kutinggalkan
 memberi kabar lewat cuaca,
 angin,
 dan gema bintang-bintang.

 Hari ini saja, kau tahu
 begitu banyak yang mesti kucatat
 endapan ingatan,
 patah dan meminta
 di hari-hari mereka menumpuk
 satu demi satu,
 perjalanan mulai panjang
 dan aku tinggal di rumah
 bagai bayang-bayang
 gemetar di dinding.

 Akan terus memanjang, kesunyian ini
 kutengok jalanan
 basah dan bersimbah pijakan.
 Mereka yang menemukan,
 mereka yang asyik bermain,
 atau mereka yang masih bepergian
 tampaknya mulai menyiratkan sesuatu.

 Dan terdengar
 saling menyahut
 adalah lenguh seekor sapi,
 kicauan burung di pohon,
 atau yang bergerak menggeliat
 di tumpukan sampah;
 dedaunan makin menghijau
 dan satu persatu benang kasat mata
          si labah-labah memenuhi sudut ruangan.

 Demikian panjang kesunyian ini.

 2016 

 - Rudiana Ade Ginanjar , lahir di Cilacap, 21 Maret 1985. Karyanya termuat dalam antologi, antara lain, Blues Mata Hati (Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas, 2008), Pendhapa 5 (Dewan Kesenian Jawa Tengah, 2008) dan Rumahlebah Ruang Puisi #4 (Komunitas Rumahlebah, 2017) serta Horison, Seputar Indonesia, Suara Merdeka, Suara NTB, dan Harian Rakyat Sumbar . Menetap di Cilacap, Jawa Tengah. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rudiana Ade Ginanjar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 29 April 2018

0 Response to "Kesunyian Panjang, 1 - Kesunyian Panjang, 2 "