Laba-laba | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Laba-laba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:30 Rating: 4,5

Laba-laba

AKU membayangkan, dia pun pasti pernah jadi laba-laba kecil yang besarnya cuma seujung kuku. Itu ketika dia baru menetas dari salah satu telur-telur lembut berwarna putih yang ditinggalkan induknya di sela lipatan daun, berlindungkan selaput tipis namun kuat yang terbuat dari benang laba-laba. 

Setelah dia menetas dari telur itu, dengan tubuh kecilnya dia merangkak malu-malu keluar dari selaput pelindung itu. Itulah kali pertama dia menghirup udara bebas. 

Sebagai laba-laba bayi, saat itu warnanya masih putih pucat dan proporsi tubuhnya lebih lebar kepala dan badan daripada kaki-kakinya. Tentunya saat itu dia tak sendiri. Puluhan anak laba-laba terlahir bersamaan, setidaknya hampir bersamaan. 

Lalu mereka keluar satu per satu, berpencar, memulai hidup dengan garis nasibnya masing-masing sesuai dengan yang dititahkan Tuhan untuk mereka, tanpa tertukar. Begitu pun dia. Lalu, sang laba-laba itu—yang saat itu masih mungil—dengan kemampuan ajaibnya mulai merajut sarangnya yang pertama. Barangkali, mangsa pertamanya hanyalah seekor kutu yang kebetulan bernasib sial, yang dihinggapkan angin ke salah satu helai benang rajutannya. Atau mungkin justru dia menangkapnya dengan melompat lalu mengikat mangsanya dengan benang, seperti yang dilakukan Spiderman ketika menangkap perampok. 

 Mungkin, mangsa pertamanya itu hanya sebesar ujung jarum sehingga dia yang rapuh masih mampu menyergapnya. Atau bahkan lebih kecil dari itu. Atau, mungkin juga sebenarnya sedikit lebih besar. Entahlah! Pada akhirnya, betapa pun aku sungguh ingin merasa paling tahu tentang masa lalunya, harus kuakui sebetulnya aku tak tahu apa-apa. 

Tak tahu juga aku berapa bulan—atau bahkan tahun—yang dia butuhkan untuk tumbuh sedikit demi sedikit, dan seberapa banyak kesabaran yang sudah dia tebarkan hingga mampu mem- besarkan diri jadi seukuran itu. Ah, bukannya dia laba-laba raksasa seperti yang ada di film- film Amerika itu—judulnya Eight Legged Freaks kurasa. Bukan! Toh, yang seperti itu hanya ada di dalam khayalan bule-bule saja. 

Sang laba-laba yang sedang kuceritakan ini, lebar rentangan kedelapan kakinya paling-paling hanya sebesar jengkal tangan anak SD—sekitar lima belas sentian, lah. Tapi, asal tahu saja! Sepenemuanku, bayi laba-laba sejenis yang baru keluar dari telurnya paling-paling hanya seukur- an dua atau tiga milimeter—sudah kukatakan tadi laba-laba yang sedang kuceritakan ini pernah badannya hanya sebesar ujung kuku saja. 

Di tambah lagi, begitu laba-laba itu lahir, mereka sudah tidak dalam lindungan mamanya ka- rena telur-telur laba-laba itu hanya disembunyikan di balik lipatan daun, bukan dierami seperti telur ayam. Lalu begitu menetas, bayi-bayi laba-laba akan bertahan hidup, membesar, atau mati, adalah atas usaha mereka sendiri. 

Itulah mengapa tadi aku katakan entah seberapa banyak kesabaran yang dia tebarkan hingga bisa tumbuh sebesar itu. Mungkin, sekali waktu dia harus berpuasa juga karena seharian tidak dapat mangsa—dan tidak akan ada mama yang menyuapkan makanan ke mulutnya kalau dia sedang seperti itu. Tapi, ada kalanya pula, kurasa, dia berpesta setelah menangkap buruan yang lebih dari cukup untuk menjadi nutrisi hariannya—kalau tidak seperti itu bagaimana dia bisa bertumbuh besar? 

Sering kulihat laba-laba itu merajut ulang sarangnya—entah berapa ratus kali dia lakukan itu seumur hidupnya. Bukannya dia ingin membuat sarangnya lebih besar, atau lebih megah, atau lebih indah sehingga dia lagi, lagi, dan lagi merajut sarang. 

Jangan samakan laba-laba dengan manusia yang senang merenovasi ulang rumah, memperluas, mempercantik, atau sekadar memperbarui cat dinding. Seringnya dia membangun ulang sarang karena rusak, benang- nya putus, entah karena angin, kejatuhan biji atau ranting, atau bisa pula karena perkelahian yang s e n g i t d e n g a n calon mangsa. Meskipun, pada beberapa kesempatan di masa lalu pasti ada pula ke- jadian ketika dia memang terpaksa merajut sarangnya lebih besar karena ukuran badan- nya yang sudah membesar. 

Awalnya, sang laba-laba besar itu—sekali lagi aku katakan dia kusebut besar karena memang lebih daripada laba-laba lain, bukan berarti dia lebih besar dari manusia—dia membuat sarangnya di atas pohon besar buah mangga yang lebat daunnya. Pasti itu alasannya mengapa dia bisa tumbuh hingga sebesar itu. 

Ada banyak ngengat, kupu-kupu, kumbang, atau belalang yang berseliweran di sekitar pohon itu. Lalu, beberapa di antaranya secara tidak beruntung salah membelokkan sayap hingga tersangkut di sarangnya. Kalau sudah begitu, dia akan menjadi mangsa sang laba-laba, menjadi nutrisi bagi pertumbuhannya sekaligus sumber energi untuk menangkap mangsa selanjutnya. 

Selain dapat mangsa banyak, di bawah naungan pohon mangga yang lebat daunnya itu dia mendapat perlindungan dari angin dan hujan. Tidak perlu sering-sering merajut ulang sarangnya, yang itu pasti membutuh- kan banyak energi pula. 

 Tapi setelah bapakku memutuskan pohon mang- ga itu harus ditebang—dan kemudian benar-benar ditebang—laba-laba itu terpaksa pindah. Sarangnya yang baru berada di antara pohon belimbing dan atap rumahku, melayang di tengah-tengahnya. Bukan ber- naung di bawah pohon seperti semula, karena pohon belimbing ini masih kecil sehingga ketiak rantingnya tak akan cukup untuk laba-laba itu membuat sarangnya yang besar dan gagah. 

Sejak saat itu kulihat dia jadi lebih sering merajut ulang sarangnya. Bahkan sehari-hari kutengok kerjaannya hanyalah merajut sarang. Yang rusak, lalu diperbaiki, lalu rusak lagi, dan diperbaiki lagi, namun masih tetap rusak lagi sehingga harus diperbaiki lagi. 

Memang sarangnya kini mengambang di tempat terbuka. Di atasnya hanya ada hamparan langit sebagai payung. Ketika hujan—apalagi saat ini sedang musimnya hujan lebat disertai angin besar—tak ada yang melindungi sarang rapuhnya dari serbuan air jatuh. 

Di tempat yang baru itu, mangsa untuknya pun tak banyak. Seandainya dia membuat sarang di bawah daun-daun pohon belimbing kecil itu, ada sedikit lebih banyak serangga yang sering ber- seliweran di sana, terutama ngengat-ngengat putih kecil yang sedang kawin atau bertelur di daun-daun belimbing. Tapi, sudah kukatakan dia tak mungkin membikin sarang di sana. Belum lagi, jika dia membuat sarang yang terlalu dekat dengan tanah, orang yang lewat akan dengan mudah merusak sarangnya, atau bahkan membunuhnya. 

Di tempat yang baru itu, jarang kulihat dia bisa menangkap buruan. 

Tapi akhirnya suatu pagi aku mendapati ada sisa sayap tawon yang menempel di sarangnya. Syukurlah, pikirku. Ternyata dia masih bisa mendapat mangsa juga, meski kutahu itu mangsa pertamanya setelah berhari-hari semenjak dia pin- dah sarang ke tempat baru. 

Namun, di pagi yang sama itu aku juga menemukan kakinya tinggal enam. Dua telah tanggal dan entah jatuh ke mana, dua-duanya yang sebelah kiri. Sehingga kini kakinya ada empat di sebelah kanan dan dua saja yang sebelah kiri. Tak simetris. 

Aku jadi berpikir, apakah itu adalah harga mahal dari usahanya memangsa tawon? Sebab tawon yang dia tang- kap itu bukan tawon biasa, melainkan tawon endhas yang berukuran besar dan terkenal punya sengatan l u a r b i a s a menyakitkan. 

Tapi, sekali lagi aku harus mengakui bah- wa aku tidak tahu. Seingatku tadi malam ada hujan deras disertai angin. Bisa juga dua kaki itu putus ketika dia berjuang melawan hantaman badai semalam. 

S e m p a t kupikir dia akan kesulitan merajut sarang dari benang- benangnya bila kakinya tinggal enam. Ternyata tidak juga. 

Esoknya, juga esoknya lagi, dan lagi, tiap hari dia tetap bisa merajut ulang sarangnya, yang lagi, lagi, dan lagi rusak tiap hari sehingga harus dirajut kembali. Tidak kulihat dia kesulitan melakukan itu meski kini kakinya hilang dua. Sarang barunya pun tetap indah dan gagah, tidak miring bentuk- nya ataupun kendor ikatannya hanya karena dia kehilangan dua kakinya. 

Dia bertahan beberapa lamanya dengan kepapaannya yang demikian. Sampai akhirnya, kutemukan dia menyerah juga. 

Mula-mula pagi itu kulihat dia diam mematung dengan tetap bertengger di tengah sarangnya, na- mun dengan keenam kaki yang tidak merentang selebar biasanya. Seperti kembang yang baru setengah mekar. Sang laba-laba berdiri tidak segagah biasanya. 

Dan benar saja. ketika agak siangan dan angin berhembus kencang, dia terhempas dari sarang- nya. Dan dia tetap hanya diam, ketika badannya menggantung-gantung karena ujung pantat yang masih terikat pada benang. Sampai kemudian terpaan angin yang lebih kencang membuatnya jatuh ke tanah. Tubuhnya sudah kaku ketika itu. Kering. Laba-laba itu sudah mati. ❑

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasan Id
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 29 April 2018 

0 Response to "Laba-laba"