Lubuk-Lubuk Itu, di Lubuklinggau, Tuan Raudal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Lubuk-Lubuk Itu, di Lubuklinggau, Tuan Raudal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:52 Rating: 4,5

Lubuk-Lubuk Itu, di Lubuklinggau, Tuan Raudal

BANYAK sekali aliran sungai yang membelah kotaku ini, Raudal.

Memang, cerita-cerita yang kau tulis --tentang kota, kota di dalam kota, dan nama-nama kota, atau juga kenangankenangan yang rimbun di kota-kota yang kau singgahi-atau sekadar lintasi atau kau tinggali beberapa waktu-- telah membakarku untuk membalasnya, walaupun tentu saja aku sebenar sadar kalau cerita-ceritamu itu tak kau persembahkan kepadaku.

Namun, dalam beberapa ceritamu, ada sekali-dua atau bahkan tiga atau empat kau sebut nama kotaku. Bahkan dalam sebuah ceritamu yang kubaca beberapa tahun yang lalu, kau menceritakan kotaku dalam ruang khusus kenanganmu meski hanya dalam beberapa paragraf.

Tapi Raudal, Lubuklinggau bukan sekadar jalan lurus yang bisa membawamu ke dalam mimpi tanpa kelambu. Ia juga tentang lubuk-lubuk yang dimulai dari permukaan sungai dan tembus ke ulu hikayat-hikayat lama yang melingkupinya. Baiklah, Raudal, relakanlah dirimu diisap lubuk-lubuk itu...

Lubuk Kasie

Embun Semibar dan Dayang Torek adalah dua lakon cerita rakyat yang sangat terkenal di kampung kami. Meskipun begitu, aku yakin, kau tak tahu, kalau sekitar 200 meter di seberang Sungai Kasie, aliran air di sebelah utara Bukit Sulap, makam Embun Semibar ditandai dengan beberapa menhir. Pun tak banyak yang kau tahu, kalau dulunya, saban fajar dan senja, Dayang Torek kerap membersihkan diri di dekat lubuk yang terletak tak jauh dari batu raksasa di tengah-tengah Sungai Kasie.

Daerah sekitar pusaran air itu tak terlalu gelap seperti lubuk kebanyakan karena tak ada pohon besar yang tumbuh di daratan tempat lubuk itu bersandar. Hanya ada semak buah pena, sipokak, pakis haji, dan anggrek hutan yang menumpang hidup di tunggul pohon melinjo, satu-satunya pohon besar yang pernah tumbuh di sana. Namun begitu, lubuk itu menyimpan daya tarik yang luar biasa bagi para pendatang (biasanya peneliti dari kampus di Palembang atau Jambi) yang penasaran dengan kesahihan cerita Embun Semibar dan Dayang Torek.

Sekitar 500 meter ke hulu lubuk, terdapat benteng-benteng yang tak lagi berbentuk. Di sekitar reruntuhan tembok pertahanan itu, pecahan keramik Tiongkok berserakan, seolah tak ada yang tertarik untuk memuseumkannya, seolah keberadaannya tak ubahnya sampah-sampah yang terlalu merepotkan untuk dibereskan.

Benteng itu dibangun sebagai pertahanan terakhir Rio Cinde dan Rio Cili, dua raja yang pernah berkuasa di karasidenan, dari gempuran senapan dan meriam Belanda ketika Perang Pagarbesi pecah di Musi Rawas. Syahdan, kedua Rio itu pun sempat beradu kesaktian dengan Embun Semibar dan terlibat pertarungan hebat satu sama lain demi memperebutkan Dayang Torek (kata orang-orang tua dulu, kecantikan Dayang Torek menyerupai bidadari dari Mesir).

Penduduk setempat abai pada ceritacerita yang penuh tantangan untuk terus digali itu. Yang mereka tahu, Sungai Kasie adalah sungai dangkal dengan batu-batu besar yang menyerakinya. Sungai yang masih memanjakan mata dengan pemandangan para perempuan yang mandi dan mencuci saban pagi dan petang hari. Sungai dengan jembatan gantung yang sangat panjang, hampir 100 meter, di atasnya.

Bukan sungai yang menyimpan kepingan sejarah.

Bukan sungai yang mengandung lubuk, Raudal!

Lubuk Nio

Dalam bahasa Lubuklinggau, Nio berarti kelapa. Lubuk Nio adalah lubuk yang terdapat di salah satu sungai yang mengalir di sebelah selatan lereng Bukit Sulap. Di sepanjang tepi sungai itu, pohon-pohon kelapa berpelepah panjang dengan daun-daun lurus dan rimbun di kirikanannya tumbuh menjulang. Bila angin sedang ribut, bukan daunnya saja yang melambai, pohonnya pun limbung, seperti para raksasa mabuk yang berusaha menegapkan diri.

Ketika kecil, aku dan kawan-kawan sepermainan kerap nyebur dan memasang tajur di aliran sungai di sekitar lubuk. Ya, kami tak pernah khawatir terseret oleh pusaran air yang berada tak jauh dari daerah pemandian kami. Pengalaman memberi tahu kami bahwa lubuk bukan sekadar pusaran air yang mengisap benda apa pun yang berada di sekitarnya, melainkan tempat terselubung yang memiliki semacam perasaan dan indera penciuman yang tak terjelaskan bagi calon mangsanya.

Hingga kelas dua SMP --yang merupakan waktu terakhir aku mandi di sungai--, aku dan kawan-kawan tak pernah diseret arus lubuk, sebagaimana ditakutkan oleh sebagian besar penduduk (apalagi orang-orang kota yang hanya tahu ’’pusaran adalah lubang kematian di bawah sungai”) itu.

Namun, dua kawan kami, Mursal dan Badri (putranya Wak Samin dan Bi Juhai), mati dipintal arus lubuk. Mereka memang terkenal sebagai anak bengal. Mursal yang satu kelas denganku hingga kelas 5 SD, gemar sekali bertaruh uang ketika main karombol, bor, lari cengkot, atau pantak lele. Bila tidak ada yang menyambut taruhannya, dia akan berang. Perangainya yang kasar, membuat banyak kawan sebayanya tak berkutik bila berhadapan dengannya, termasuk aku.

Sementara Badri adalah anak yang tak bisa mendengarkan larangan atau nasihat dari siapa pun, termasuk orang tua. Ia kerap nonton video film dewasa yang diputar di salah satu rumah keluarga China Bangka yang tinggal di Kampung Kandis.

Hingga… hujan yang turun di siang September yang terik tahun 1996, menjadi waktu yang mustajab bagi Mursal dan Badri untuk bertemu. Mursal mengajak Badri taruhan: siapa yang menyelam ke sungai paling lama, maka dialah yang menang. Kami pikir, mereka sangat nekat. Mandi di dekat lubuk ketika hujan panas. Aku sampai-sampai melaporkan hal itu kepada Wak Samin dan Bi Juhai yang sedang mengangkat jemuran di pekarangan.

Tapi ternyata kami telat. Sesampai di sana, mereka sudah nyebur.

Bi Juhai tak henti meneriaki Badri yang menahan napas di dalam sungai untuk segera ke daratan. Sementara Wak Samin merampas uang taruhan yang dipegang Tanjung, kawan kami yang paling sering dipalak Mursal. Tak lama kemudian, kawan-kawan berteriak. Bukan karena kepala Mursal dan Badri sudah tampak di permukaan air, melainkan karena mereka berdua terseret hingga ke Lubuk Nio. 

Sejak itu, aku tak berani lagi mandi di dekat Lubuk Nio. Sedangkan beberapa kawan yang lain hanya sempat mencobanya beberapa kali sebelum beralih tempat mandi ke utara sungai, yang lebih deras, berbatu, dan asyik untuk beranyotan dengan menunggangi batang pisang. 

Kejadian itu bukan saja membuat kami tak ingin menjadi anak yang nakal dan melawan orang tua, tapi juga membuat kami tahu kalau lubuk dapat menjadi sebegitu mematikannya, sebagaimana mereka mempermainkan tubuh kedua kawan kami.

Ya, tubuh Mursal dan Badri yang sudah kembung dan biru, baru ditemukan keesokan harinya di Sungai Kelingi. Dan cerita kematian Mursal dan Badri ini masyhur hingga kini. Cerita yang memerudukkan sekaligus memopulerkan Lubuk Nio. 

Ah, mengapa kematian kedua kawan kami itu harus menjadi hulu kemasyhuran lubuk yang sebenar indah, sejuk, dan menenangkan itu?

Lubuk Naga

Sekitar 10 kilometer ke selatan dari Lubuk Nio, jembatan kayu yang berukuran 60 x 7 meter membelah Sungai Kelingi. Jembatan yang berada di antara perbatasan Dusun Linggau dan Kampung Kandis ini merupakan jembatan tua yang dibangun 2 tahun setelah kemerdekaan republik ini diproklamasikan.

Di samping jembatan ini terdapat jembatan papan gantung yang lebarnya hanya satu meter dan bolong di sana-sini. Kami tak pernah melintasi jembatan itu karena kondisinya yang mengenaskan itu. Sampai sebuah peristiwa mengenaskan, membangkitkan cerita mistik yang lama tersimpan itu hingga… kami pun terpaksa melewati titian penuh bahaya itu!

Pagi April yang sejuk, tahun 1994. Sekitar pukul 7 pagi ketika aku baru tiba di SD untuk melaksanakan ujian kenaikan kelas tiga hari kedua, kabar itu menggemparkan seisi sekolah. Aku yakin, kegemparan juga terjadi di tempat lain.

Jembatan Sungai Kelingi ambruk!

Empat belas anak-anak dan lebih dari sebelas orang dewasa menjadi korban. Belakangan tersiar kabar kalau itu belum termasuk korban yang tewas karena hanyut atau tertimpa kayu jembatan dan korban-korban yang tak ditemukan alias hilang yang jumlahnya sebelas orang. Perkara yang terakhir inilah yang membangkitkan cerita mistik itu.

Malam sebelum peristiwa nahas itu, orang-orang Dusun Linggau dan Kampung Kandis yang tinggal berseberangan di bantaran sungai mengatakan ada suara riuh yang berasal dari lubuk. Kata mereka lagi, mereka memang biasa mendengarkan suara itu kalau ada orang yang mati hanyut di sungai sehari sebelumnya. Tapi hari itu memang tak ada kabar hanyutnya penduduk. Maka, keriuhan ’’penghuni’’ lubuk itu adalah pertanda bahwa mereka akan ’’panen’’ korban keesokan harinya.

Entah, benar-tidaknya cerita itu, namun bagian lain yang lebih seksi adalah: Lubuk Kelingi dihuni oleh naga yang meminta banyak korban setiap 35 tahun. Bila dirunut lagi, jembatan kayu itu memang pernah ambruk pada 1959 sejak dibangun 12 tahun sebelumnya. Namun, bisa saja angka 35 itu hanya cocok-cocokan penduduk yang gemar menyelimuti kampung dengan kabar burung yang penuh dengan bau alam lain.

O, Raudal, kau tentu penasaran perihal naga yang bersemayam di dalam lubuk itu, bukan?

Dua minggu setelah peristiwa nahas itu, para penyelam dari Palembang dan Jakarta akhirnya ’’terprovokasi’’ oleh cerita penduduk perihal korban-korban yang disedot ke dalam lubuk. Ya, tidak seperti aku yang sangat penasaran tentang cerita naga itu, mereka seperti mengabaikannya. Hal itu tampak dari keberanian para penyelam --yang jumlahnya 10 orang itu-menyusuri kedalaman lubuk.

Lima jam berselang, para penyelam itu muncul di permukaan. Tapi hanya 7 orang, 3 yang lain hilang di dalam lubuk. Dua bulan kemudian, ketiga penyelam yang hilang itu muncul di Sungai Musi, 2 kilometer dari Jembatan Ampera. Kabar yang berembus, ketiga mayat yang membusuk dalam balutan pakaian selam itu digiring naga penunggu Lubuk Kelingi hingga ke Sungai Musi.

Nah, Raudal, bila benar begitu, alangkah dalam, meliuk, dan panjangnya Lubuk Kelingi di bawah tanah tu? Bayangkan saja, jarak darat antara LubuklinggauPalembang adalah 314 km, yang biasa ditempuh 7 jam dengan mobil atau 9 jam dengan kereta api.

Sejak itu, Lubuk Kelingi berganti nama menjadi Lubuk Naga.

Sejak itu, orang-orang menyeberangi Sungai Kelingi dengan dua cara. Membayar jasa rakit atau berjalan di atas jembatan papan gantung. Aku dan kawan-kawan kerap memakai cara yang kedua. Kami tak ingin uang jajan diberikan kepada tukang rakit!

Dan… Lubuk Naga masih diam dan bisu di sana.

Kabar gembiranya, daerah sekitar Lubuk Naga masih sejuk dan rimbun oleh pohon-pohon sungkai, petai cina, dan semak karimunting. Tak ada sampahsampah yang menggenang di sana. Entah karena penduduk masih percaya pada cerita naga di dalam lubuk atau sadar akan kebersihan, kenyataan itu membuat aku selalu nyaman untuk memperkenalkan lubuk itu kepada kawan-kawan yang (kelak) datang.

***
BILA hingga hari ini kau masih belum pula menyambangi Lubuklinggau dalam hajat yang disengaja, maka lubuk-lubuk yang kuceritakan tadi rasanya bisa menyaru menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk menggiringmu bertandang ke tanah kelahiranku, Raudal.

Meskipun, ya, meskipun ada beberapa lubuk lain yang belum bisa kubentangkan di sini hikayatnya. Koran sudah tak sebebas dahulu. Cerita perihal lubuk tentu kalah bertuah dari gosip artis, video tak berisi yang viral di internet, atau manuver politik menjelang pilpres. 

Datanglah…

Lubuk-lubuk itu siap menyambutmu, membawamu bertualang, menyusuri pusaran yang panjang, paling tidak kuasa membuatmu melupai hiruk-pikuk akhir zaman, hingga kau tersesat, meskipun sesaat. ***


Lubuklinggau, Oktober 2013–Maret 2018 
buat Raudal Tanjung Banua 


BENNY ARNAS 
Pengarang, tinggal di Lubuklinggau. Dua bukunya yang siap terbit tahun ini, Cinta Menggerakkan Segala (novel, Republika) dan Hujan Turun dari Bawah (buku puisi, Grasindo)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Benny Arnas
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 8 April 2018

0 Response to "Lubuk-Lubuk Itu, di Lubuklinggau, Tuan Raudal"