Bersama Angin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Bersama Angin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Bersama Angin

MAYA tertawa, bergurau melawan duka. Bukan! Bukan duka yang dilawan. Maya hanya sekadar membahasakan perasaan yang sedang gelora seperti burung-burung di angkasa. Andai saja makhluk penjuru itu mau meminjamkan sayapnya, tentu ia sudah mengangkasa, bersemuka dengan penghuni langit kedua. Menginterupsi seputar kondisi arwah suami. 

“Hello Pak Malik, apa Anda baik-baik saja? Sudah bertemu suamiku lom?” 

“Hello juga. Alhamdulillah aku baik dan sehat. Tapi aku belum ketemu dia.” 

“Ah masa? Bukankah dia sudah sampai situ?” 

“Belum. Baru di barzakh. Coba kau tanya kabarnya pada pak Munkar atau pak Nakir.” 

Maya pun terbang nuju barzakh. Alam sahara riuh menyemesta. Jalanan berlapis, bermilyar shaf. Wajah-wajah berbeda rupa, sesuai nama yang tertera di jidatnya. Terpampang juga nama jalan dan gang. Dari ketinggian, berpasang-pasang mata mendelik, menghitam, memerah, menjuling, mengapi, mengobar, mematahari. 

Maya terbang rendah di atas sebuah jalan yang dipenuhi mata juling. Secepat kilat geleng-geleng kepala. Terlihat olehnya sepasang mata, seperti mata kuda sedang membara. Nyaris pingsan. 

Dalam titik hampir kolaps, sekelebat sosok terbang rendah menghampirinya. Putih menyeluruh di tiap helai bulunya. Ada yang tembus dari balik peputihan. Seberkas cahaya menyala, menyilaukan. Memberi senyuman seperti larik rubaiyyat Khayam. Hingga dari senyumnya, berpuluh kendi anggur meluap lautan, melepas semesta dahaga para pejalan. Maya pun siuman, dan bertanya pada Cahaya. 

“Wahai Cahaya (Maya tak tahu jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan), bolehkah aku bertanya sesuatu?” 

“Diriku adalah kumpulan jawab. Silakan diajukan.” 

“To the point aja ya. Aku penasaran dengan shaf suamiku. Di mana ia berada?” 

“Sebutkan nama dan tanggal kepergiannya.” 

“Namanya Bara bin Kliman. Pergi di Sabtu pagi, tanggal pertama bulan pertama tahun ini.” 

“Berarti di shaf mata juling, paling belakang.” 

Namun Maya keburu penasaran dengan kilauannya. Dari mana tahu hanya dengan nama dan tanggal kepergian? Namun Cahaya hanyalah kelebatan. Tak mempan diraba dijamah. Menghilang secepat kedatangannya. Maya tak ambil peduli segera terbang lagi mencari shaf mata juling paling belakang. Ternyata, beshaf-shaf pula. Maya bimbang dan bingung mencari bagian shaf Adam dan Hawa. Tentulah suamiku ada di shaf para Adam, yang jutaan jua adanya. Lamat-lamat Maya mendengar suara yang begitu akrab di telinga. 

“Baiklah aku setuju, Nek. Berapa harganya?” Mirip sekali dengan suara Bara. 

“Ini jampi-jampi mahal, sihir mahabbah pake 2 jin 500 tahun usia. Jadi tahu sendirilah kau hargai berapa”, jawab Nenek diplomatis. 

“Satu juta? Dua juta?”, Bara menerka tak sabar. 

“Goblok! Lima juta sudah murah, Thole? Atau aku tarik lagi biar kebencian pengantinmu kian menjadi jadi?” 

“Eh iprit eh jangan eh maksudku...jangan ditarik lagi, Nek. Baiklah aku setuju segitu, asal istriku jadi keblinger denganku.” 

Tak salah. Jelas itu suara Bara, suara suaminya yang seminggu lalu pergi meninggalkan dunia. Pemutaran film yang sempurna. Persis, klop dengan kehidupan nyata. Tak ada sekuen yang terpotong. Sekuen demi sekuen melaju, berputar ke masa lalu. Bara tampak membisu seribu bahasa. Kian juling matanya seakan menatap kehidupan sejatinya. Api berkobar menjilati raga. 

Maya terperangah. Berarti benar dugaanku. Bara telah menyihir sampai aku keblinger sudi menjadi istri ke empatnya. Jadi, wedhang jahe yang kuminum di malam itu, mengandung 2 jin tua bangka yang bakal menguasai dua syaraf otakku? Mengapa pula aku mau menikah kalau bukan karena sihir? 

Maya tersungkur bersimbah tanya yang nyata. 

“Semua sudah berjalan sesuai rencana, Nek. Terima kasih telah membantu kepalsuanku...!” 

“Apa sekarang masih diperlukan keberadaan 2 jinku itu? Kau harus membayar lagi dua kali lipat kalau ingin memilikinya.” 

“Gile lu, Lampir! Tua bangka suka morotin orang!”, Bara mulai meradang. 

“Hey kamu beruk hitam! Mau bayar atau kubikin impoten barangmu, haram jadah!”, wajah Nenek kian mengerikan. 

“Eh iprit eh lampir iya nek aku bayar, tapi separo ya...lagi bokek nih...! Lagian aku tak butuh lagi sama itu 2 ipritmu. Kau ambil saja lagi pasukanmu. Aku tak butuh!” 

“Benar sudah tak butuh? Dasar bedhes kurap mimpi meluk mbulan!” 

Nenek sihir hilang dari layar. Maya pun siuman dan terpikir untuk meminta ganti rugi seluruh kesehatan hidupnya yang telah dirampok Bara selama ini. Wajahku cantik dan otakku bersinar. Bagaimana mungkin bisa masuk penjara laki-laki bermata juling dan aniaya. 

“Apa yang kuderita ini, dokter? Sakit apa aku ini? Mengapa begini rupa ow...! Tak tahan aku, dok! Tolong aku...!”, keluh Bara menderita. 

Dokter memeriksa pantatnya, ada buntut yang tumbuh mirip ekor monyet. Membuat pakaian jenis apapun hatta sarung, memperlihatkan tonjolan yang meresahkan sekaligus menyakitkan. 

Siang malam Bara kesakitan. Hari-hari menyiksa. Seakan tiba musim badai. Keempat istrinya mulai enggan dan tak peduli pada kelelakiannya. Kelojotan, sendirian meregang nyawa. 

Maya bergidik ngeri dan jijik. Menyaksikan mata juling si buruk rupa, megap-megap di layar dunia. Sekuen demi sekuen terus berjalan, makin pelan dan terseok pikun seperti kaki asam urat menahun. Lelaki macam itukah yang menggerogoti hidupku sampai tulang dan kulit tersisa di tubuhku. 

Kini, Maya digulung malu. Apalagi jika ada tetangga yang tahu, bahwa Bara memiliki ekor. Deraan bertubi menghantui para anak dan istri. Anak paling besar dari istri pertamanya tiba-tiba bergerak ringan, membuang Bara ke selokan di tengah malam dan hujan. Anggap saja ini duplikat dari kejahatannya, bisik anak paling besar. 

Malam itu, hujan deras mengguyur kampung, jalan-jalan dan gang. Air coklat muluber dari selokan. Dan Bara ditemukan dalam kisah sang ajal. Tubuhnya lebih legam dari arang. 

Dalam kisah orang-orang kampung itu, anjing-anjing mencakari jasadnya dan beritanya menyebar laiknya bau bangkai yang tercium hingga jauh. Terbawa angin koran, radio dan televisi. Bahkan juga media sosial. 

Maya pergi dan menghilang dari kampung itu bersama dua anaknya. Menjauh dari semua lalat dan belatung. Hingga suatu hari Maya ditemukan kembali dengan wajah cerah, tertawa-tawa tanpa rasa duka. Tawa itu kian hari kian merekah, seakan telah berhasil melakukan penerbangan ke alam barzakh. Alam sahara bercuaca ganas dan mengerikan. 

Walau kerak jahanam belum dinyalakan! Orang-orang bermata juling mengaduh dalam gulungan angin dan api. Serupa mimpi yang selalu berulang dalam tidur Maya. 

Bara di atas bara!! ❑ - g 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abidah El Halieqy
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 8 April 2018 

0 Response to "Bersama Angin"