Orang-orang yang Terpaksa Pergi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Orang-orang yang Terpaksa Pergi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:25 Rating: 4,5

Orang-orang yang Terpaksa Pergi

SEJAK dulu, orang-orang sudah terbiasa pergi. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada pula yang mengatakan, aku atau kami sedang hijrah. Sebenarnya kata itu juga menunjukkan sebuah kepergian atau kepindahan. Entahlah, aku tak mau menyebut apa-apa dalam hal ini. Memang aku pergi, tetapi tidak merasa meninggalkan apa pun selain diriku yang kerap ditinggalkan.

Di kota ini, betapa sejak kecil aku sudaah dikenalkan huru-hara. Di sini aku sudah tidak mengenal permainan. Jika anak lain di kota yang bukan di sini sesuka hati bermain perang-perangan sambil tertawa ngakak begitu, justru di sini sudah terbiasa dilatih berperang sejak sekuncup daun usiaku. 

Perang bukan hal baru lagi bagi kami di sini. Kami, di dalamnya juga berarti aku, biasa berperang dari hari-ke hari, bahkan tahun ke tahun. Sebetulnya aku sendiri jengah terus bergerak dalam hiruk pikuk. Tetapi ketika segan mengangkat senjata, tentulah nasib buruk segera menimpa. Terkadang, meski sudah siap mengangkat senjata begitu, musuh-musuh lebih dulu memuntahkan peluru juga mesiu tanpa kami sadari. Jadilah kehancuran, reruntuhan gedung dan rumah-rumah yang kalah. Jalan-jalan menjadi padat dengan orang-orang yang lari dari kobar api, kejaran-kejaran sengit dengan kebengisan tak tertandingi.

Seorang kawan menanyaiku perihal apakah aku pernah mencintai seseorang? Jika iya, sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari kota kacau ini. Aku tahu kenapa ia bisa bicara begitu. Kekasihnya tak bisa ia selamatkan. Suatu pagi yang beku rumah perempuan itu lebur bersama isinya. Tepatnya kami terlambat, mendapati tumpukan mayat di mana-mana, termasuk perempuannya sesudah ditelanjangi dan digantung dahan begitu saja.

"Jahanam. Terkutuk." Terisak-isak ia teriak. Memaki sejadi-jadinya.

Setelah itu kami mencoba tak lengah. Tetapi apa boleh, melihat jumlah kami tak sebanding dengan musuh. Relawan kecil seperti kami, hanya segelintir debu bagi mereka. Kami juga tidak mendapat dukungan, pemerintahan yang otoriter memihak musuh. Entah apa mereka sendiri takut atau memang sengaja memodali perusuh itu mengoyak halaman rumah kami. Sejauh ini perlawanan kami terhadap mereka, disebut sebuah pembangkangan. Kami adalah orang-orang pembangkang di hadapan mereka. Sementara otoritas kejam itu, adalah kebenaran yang sengaja dibuat dan terus diagungkan untuk dipatuhi.

Seperti sebuah percobaan, kami diuji terus menerus. Sampai hari ini, detik ini. Pemerintah mengumumkan petisi, imbalannya ialah kota dan perempuan-perempuan kami. Mereka datang dari segala penjuru juga mesiu. Seketika huru-hara, pekik sakit, lolong sekarat, memenuhi udara. Gedung-gedung runtuh, ya, kemudian aku bersimpuh di sela itu. Air mataku menderas, bukan karena sakit betis koyak. Tapi melihat rumahku jadi puing dan tubuh ibu bersimbah darang ditinggal ruh.

"Sudahlah, relakan ia yang terbang ke surga." Duduk seorang teeman di sela serangan mulai surut dan tentu pasang lagi.

Aku kian terisak, melihat sisa senyum di bibir ibu yang matanya pejam seperti putri tidur dalam dongeng.

***
DARI sini, aku melihat orang-orang terpaksa pergi; kematian yang tentu tidak diinginkannya. Bagi yang hidup terpaksa pergi untuk meneruskan sisa usia. Tapi aku mau menemani ibu di sini.


Keraton Sumekar, 2018

 * D Inu Rahman Abadi: kelahiran Sumenep 17 April 1995. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Alquran Nurul. Islam.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya D Inu Rahman Abadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 29 April 2018 

0 Response to "Orang-orang yang Terpaksa Pergi"