Perjamuan Lintah Darat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Perjamuan Lintah Darat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:33 Rating: 4,5

Perjamuan Lintah Darat

DIA bilang kulitnya tidak bisa lepas kalau sudah menempel kulit yang lain. Dia bilang dia keturunan lintah. Atau di masa lalu, dia sekor lintah, evolusi lintah semacam itulah.

Aku, kali ini, tidak percaya pada ocehannya.

Sekalipun dia bilang, pada mulanya semua adalah lintah. Embrio manusia mirip dengan lintah. Mulai dari bentuk, sampai mangap-mangap-nya kepala. Kamu manusia, kan? Pada dasarnya, kamu lintah, katanya. Hanya saja, lintah yang telah diberi pengelihatan, pendengaran, dan hati, tentu saja disusul plasenta, susu ibu, popok, pipis, imunisasi, dan sebagainya dan sebagainya.

Aku, tetap saja, tidak percaya sama ocehan tololnya. Mungkin dia belum tidur selama dua hari ini.

Sampai kemudian hari Selasa kami bersenggolan di pintu masuk kelas kuliah antropologi. Lenganku nempel tangannya.

Kami sama-sama pakai kaos lengan pendek. Cuaca memang gerah. Untungnya, dosen antropologi kami tidak sekaku pas foto ijazah. Dia ngerti kalau kecerdasan itu hubungannya sama otak, bukan sama baju, sepatu, celana panjang, atau celana dalam apa yang kiat pakai. Buktinya banyak orang goblok yang bajunya rapi-rapi. Bahkan manekin di mal pakai jas berdasi, tapi otaknya bolong. Ini, terus terang, aku setuju. 

Dan sejak senggolan itu, aku dan dia nempel terus seperti mainan plastik yang belum dilepas satu sama lain dari cetakannya.

Tidak punya banyak pilihan, kami pun duduk sebelahan.

"Hei, untungnya kita tidak seperti dalam drama murahan, bahwa kita adalah dua orang yang saling membenci."

Aku masih menduga-duga, penyakit apa yang sebenarnya menimpa kulitnya hingga mudah lengket begini.

"Pada mulanya aku membencimu, tahu! Sudah kubilang aku ini keturunan lintah, hingga mudah lengket pada kulit, kamunya nggak percaya."

"Apa kamu juga mengisap darah?"

Aku bertanya sambil cekikikan.

Pada detik itu, aku masih mengira dia cuma sedang bercanda. Mungkin dia sedang memasang kamera tersembunyi di kelas. 

Dia bisa saja meluluri tubuhnya dengan lem. Kemudian tingkah absurdnya ini bakal diunggah di akunnya, menuai banyak suka dan komentar, banyak yang buka, banyak duit, dan seterusnya aku bakalan ikut terkenal.

"Menghisap darah? Seharusnya, sih, iya. Tapi belum. Yang jelas, aku mulai menstruasi," katanya datar.

"Berarti kekurangan darah?"

"Kekurangan."

Sesi kuliah cukup mudah diatasi. Dosen kami yang santai membicarakan candi-candi tua, dan kisah-kisah raja-raja yang memerlukan gundik-gundik, serta artefak-artefak yang berhasil ditemukan atas semua itu. Dan hal semacam ini, katanya, akan terus berulang dalam lingkaran kekuasaan. Pantatku gatel, rasanya pengen garuk pakai tangan kanan. Tapi lengan tangan kananku nempel ke tangan kirinya.

Dia juga bilang pengen ganti pembalut, wah, sialan atau apa namanya kalau yang satu ini. Kubilang, nantilah habis kuliah.

Habis kuliah kami jalan akting gandengan seolah baru mengenal pacaran di semester sembilan dengan gaya alay menyedihkan.

Dan aku sudah merasakan sakit waktu gerakannya tidak teratur. Kulit tangan yang nempel jadi ketarik-tarik. Aku mengajaknya ke klinik buat nyanyat ini kulit yang nempel, tapi dia tidak setuju. Katanya, bahaya kalau dunia medis tahu bahwa ada manusia keturunan lintah seperti dirinya. Darahnya, mahal.

Kuiyakan saja, meski nampaknya makin kurang beres saja permepuan yang satu ini. 

Kami ke apartemannya dengan mobil.

Dia yang menyopir, sebab tangan kananku nempel di lengan kirinya. Aku duduk di sebelah kiri, dia di kanan. Ini ribet sekali. Ditambah, caranya mengendarai mobil mirip kura-kura. Tanganku gemas sebenarnya, namun keamanan di jalan perlu diutamakan sebagaimana pesan layanan masyarakat.

"Silet, kapas, es, hati-hati jangan nempel yang lain, itu ambilkan obat pembeku darah!"

"Kamu yakin?" Dia bertanya dan makin tolol.

"Sebenarnya menyenangkan nempel dekat kamu, cium aroma tubuhmu, rambutmu, dan melihat wajahmu dari dekat, tapi jujur, aku tidak ingin mati dihisap darahnya oleh lintah sekali pun lintah cantik, dan, satu lagi aku pengen buang air."

"Kuharap yang pertama jujur, dan yang kedua, aku bisa ikut masuk toilet dan memejamkan mata. Sedekat apapun kalau tidak melihat, kan sama saja jauh. Sejauh apapun, kalau saling melihat, jadi dekat, kan?"

Ya, jawabku, tapi sore nanti kita mesti presentasi program sosialisasi benda cagar budaya di rapat bersama presiden dan kementrian kebudayaan.

Apa jadinya kalau kita datangnya nempel begini, atau malahan kamu salaman sama presiden dan nempel terus lalu jadi kasus.

Aku mulai mengambil silet. Kutata tempat sebaik mungkin agar tidak terjadi hal buruk berikutnya. Bagian kulit tangan yang saling menempel kusiram air es. Sampai berasa dingin benar, dan aku mulai mengambil silet bertangkai, maksudku pisau cukur. Aku memintanya untuk menciptakan regangan antar kulit yang menempel dengan menariknya.

Ternyata ini tidak seperti kulit yang lengket karena lem untuk benda-benda tajam.

Aku mengurungkan niat.

Kulitnya seperti menghisap kulitku. Hisapan yang sangat kuat. Persis, lintah. Panjang hisapannya sekitar sepuluh centimeter. Itu sudah cukup untuk membuat lengan kananku mulai pucat. Mula-mula telapak tangan dingin.

Selanjutnya, aku merasa haus yang berlebihan. Dan jantungku berdetak lebih kencang. Kemudian, rasa mengantuk menyerang. Dan dia sebaliknya terlihat segar bugar, dan mulai ngoceh ini-itu, sementara aku mulai berpikir bagaimana caranya.

Aku harus mengulik dari akar penyebabnya.

"Sejak kapan kamu berpikir kamu adalah lintah?"

Dia menunduk, "Sebenarnya, aku bohong."

Dia akan berkata sejujurnya asalkan aku tidak menertawainya atau mencampakkannya kemudian.

Di antara banyak teman kampus fakultas ilmu budaya, akulah yang dianggap paling mengerti dirinya. Jujur, aku cukup tersanjung. Kudesak dan dia berkata bahwa penyakit ini, penyakit hisap lintah ini, muncul sebulan yang lalu. Lebih tepatnya, pada malam hari, malam Senin lebih tepatnya lagi. 

Dia baru pulang dari rumah bapak. Ketika mengucapkan bapak, dia memberi isyarat tanda petik.

"Astaga." Rasanya jiwaku disamber geledek maraton, "Kamu ke sana lagi? Katanya mau berhenti."

Dia mengucapkan maaf. Dia bilang bagaimana bisa berhenti sementara kebutuhan hidupnya banyak.

Tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya saudara kandung. Tinggal punya nenek dan kakek. Dia terpaksa menemui bapak, tanda petik, itu lagi. Kebetulan, waktu itu bapak sedang masa sidang yang berat. Pikirannya kusut, katanya. Lalu, bapak menghubungi. Bapak bilang butuh ditenangkan agar urusan rakyat bisa terselamatkan.

Dia tahu basa-basi semacam itu. Dia mengenal dunia ini dari temannya yang praktek pengalaman lapangan di kantor dewan. Anggota dewan memintanya mencarikan apa yang disebutnya sebagai: ketenangan batin.

Kalau batin tidak tenang, banyak regulasi yang tidak selesai. Akibatnya tentu rakyat sendiri yang menderita, bukan? Lagi pula, caranya gampang kok, kata bapak, ruangan ini dingin, maka caringan penghangat yang berbisik di telinga.

"Masa depan rakyat ada di ujung burung mereka. Kalau burung mereka tenang, pikiran mereka juga tenang dan jernih memikirkan masa depan rakyat, masa depan kita juga." Dia mengatakan dengan pura-pura lugu.

"Aku tidak ambil pusing soal itu. Yang kukhawatirkan dirimu."

"Kamu mulai perhatian?"

"Bukan begitu, ini tanganku mau sampaikan kamu hisap darahnya.. Aku sudah mulai kunang-kunang."

"Yah, kukira."

Setelah menjadi langganan selama satu tahun, bapak mulai terlihat  bosan. Lagi pula, memang bukan dia seorang.

Pada obrol-obrol santai setelah lelah, bapak bilang, mungkin perlu jamu lintah agar kembali serasa perawan. Tanpa banyak bicara lagi, dia mengangguk. Sopir bapak langsung mengantar ke tempat jamu lintah. Di sana, antre. Tahu yang datang utusan bapak, dia dapat prioritas utama.

Dia kira lintah itu buat menghisap darah-darah yang kurang sehat seperti pada orang pesakitan. Atau, minimal buat menghilangkan kerut tubuh.

Ternyata tidak. Lintah mesti dimakan. Dijadikan semacam sayur kikil campur tempe dan cabai. Rasanya enak juga, kata dia. Ketika pulang, dia juga diberi oleh-oleh lintah. Itu, dalam botol itu lintah isinya. Buat camilan sehari tiga kali. Digoreng lebih renyah. Efeknya luar biasa, bapak jadi semakin gadrung, kesat-terhisap. Tadinya cuma seminggu sekali, itu pun di toilet atau mobil dewan, sekarang seminggu tiga kali ditambah kalau lagi masa lobi-lobi job makin lancar dari berbagai bapak, kecuali pas mereka dinas ke luar kota, atau pas istrinya lagi bawel-bawelnya. 

"Coba dikencengin jamunya lintah daratnya lagi," kata bapak.

Dia pun menambah porsi jamu makhluk penghisap darah itu. Bapak pergi dinas ke luar negeri, tentu membawa yang lain atau menyiapkan yang lain lagi di sana.

Sementara di apartemen ini, dia mulai mendapati keanehan-keanehan dalam tubuhnya. Tangannya ingin sekali meremas tangan orang lain. Mulutnya ingin mencium mulut orang lain. Awalnya dia alihkan ke ayam. Dia membeli ayam-ayam dan tangannya menghisap darahnya. Itu mampu menangkal emosinya. Tapi tadi pagi, dia lupa. Jadinya begini, mengisap darahku.

"O, begitu, bagaimana kalau begini?" Aku tahu caranya, dan kubuka rokok, kuoleskan tembakau pada tangan tempat dia mengisap darahku.

Dia mual-mula, terjadi tarik tegang; antara aku dan hisapan yang mulai mengendur. 

Hisapan lepas! Aku pusing, berkunang-kunang, dan mencoba lari. Tapi, kulihat di hadapan wajahku. Ada tepat wajahnya. Dan kurasakan, darah kini mengalir ke arah bibirku, yang sudah dipagut oleh bibirnya. Aku tidak tahu, ini kelembutan, atau kematian. Atau kematian yang lembut. ❑ - (e)


*Eko Triono: Jl Singoranu 84 Potronanggan Tamanan Banguntapan Bantul Yogyakarta 55191

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 22 April 2018 

0 Response to "Perjamuan Lintah Darat"