Sakralitas Langkah - Gerimis di Ujung Jalan - Hakikat Satrone - Matahari Pagi Hari - Dialog Lilin dan Api | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Sakralitas Langkah - Gerimis di Ujung Jalan - Hakikat Satrone - Matahari Pagi Hari - Dialog Lilin dan Api Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Sakralitas Langkah - Gerimis di Ujung Jalan - Hakikat Satrone - Matahari Pagi Hari - Dialog Lilin dan Api

Sakralitas Langkah

Ingin kami arungi sungai bebatuan tanpa kesunyian
Merangkum deras riak air serta arusnya yang kami
sebut perjalanan
Menuju harap pada testimoni muara kedalaman
Mencari batu mulia pada setiap hati batu-batu
Mengharap sejuta impian serta tak pernah terbayang
Ingin menjadi lembah atau danau
Yang selalu keruh membiru karena diam dalam genangan
Dari hilir sampai ke hulu tersembul buih bening lokanlokan
mencipta
Keriangan tersendiri bagai cita-cita yang telah lama
Kami susun di atas bangku sekolah
Menjelma ikan; berenang pada setiap hati dalam
bingkisan mimpi menyempurna di ujung fajar
;menyimpan kesejukan pada setiap
bulir embun yang mengeram di atas rerumputan.

5-9-2015

Gerimis di Ujung Jalan

Entah puisi apa yang harus aku tulis
Tentang janji Tuhan pada wajahnya
Terbelenggu karena perpisahan Hawa
Dengan Adam tanpa adanya kejelasan
;hanya sesosok foto membingkai
Di atas keindahan pelangi tanpa tahu
Di balik mega ada kejujuran yang mesti dikabutkan
Karena catatan sejarahmu sementara ini
Mencipta hujan dalam penantian

Sementara hiruk pikuk pejalan kaki
Sempat menanarkan mata pada setiap warna
Serupa kerudung dan bajumu
Tanpa ada kemiripan yang kukenal dan kuingat
“Sebuah mata mampu melunturkan iman.’’
Ke sinilah datanglah kepadaku
Aku masih menunggu sebagaimana engkau datang
Ketika kuingin menyepi dari mahligai cinta
Yang begitu bising dengan langkah tak kukenali

5-9-2015

Hakikat Satrone

Sebagaimana biasa engkau ajak aku menyelami ilusi
Menelan segala dari manisnya madu dan pahitnya empedu
Walau kemungkinan akan segera menyatu bila mana rindu
; Qais dan Laila telah terkubur dari liang tanah yang satu
Tumbuh bunga mekar dalam sari senyuman tuhan padanya,
Padahal garis-garis yang kubuat untuk persiapan warna zaman
Tak hentinya mengejar
Meski akhirnya tak ada daya dari linggisan
Kisah anak perawan dan perjaka
Memutih belingkan yang hitam
Antara kesakralan cinta atau birahi kepuasan

5-9-2015

Matahari Pagi Hari

Entah, sudah kesekian kali mentari
Terkubur di atas tanahmu
Sebab tak ada lagi yang mampu mengantar
Mendung atau warna tertentu yang selalu setia pada umurmu
Ketika zaman seharusnya mengantarku pada keabadian
Walau terkadamg mendung datang
Menghitung gerimis dalam penyesalan
Sekalipun bayang-bayang tak berebut
Tentang siapa harus di depan
Hanya waktu mengalir di setiap irisan sejarah
Memelihara takdir dalam iman di dada
Sekalipun kami tahu bahwa embun tidak sesiap
kemarin untuk berkemas, Sebab nyanyian burung tak
seharusnya saling bertaut
; Hanya matahari yang tahu
Kapan ia akan terbenam meski senja belum saatnya bertandang
Hanya usaha dan doa mampu memetik jannah di tangkai

7-9-2015

Dialog Lilin dan Api

Seperti biasa lilin telah kunyalakan
Menghangatkan suasana dari sepi sakau
Dalam sunyi bayangnya
Menari bagai api di ujung sumbu
Memandang sejauh apa
Mata bisa menangkap pada sendu nanar matamu
Mematahkan puing-puing tubuh nan beku laksana
lelehannya
Menjelma bisu
tanpa kata memukim sabda
Ngilu pada lidah yang kelu
Hanya diam dan tatapan sanggup
Merangkai bahasa dalam sukmayang memadu

24-8-2015



*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa



Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Imam Ar-Ruqi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Radar Surabaya" edisi Minggu 29 April 2018

0 Response to "Sakralitas Langkah - Gerimis di Ujung Jalan - Hakikat Satrone - Matahari Pagi Hari - Dialog Lilin dan Api"