Seekor Ikan Mencintai Kucing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Seekor Ikan Mencintai Kucing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:06 Rating: 4,5

Seekor Ikan Mencintai Kucing

IA menjilat kaki depannya seusai menyantap ikan pemberian majikan. Lalu, melangkah menuju halaman sambil berbaring ke arah cahaya matahari. Matanya mengerjap. Silau. Makhluk manja itu mengeong sepanjang hari. Penghuni rumah terlampau sibuk hingga tak sempat menggubris dua penghuni tambahan. Sasa bermain dengan boneka juga rumah-rumahan, Nyonya Elma sedang bergosip dengan teman arisan di ruang tamu, sementara Tuan Hitler menerima telepon dari seseorang. Ia mojok sambil berbisik dengan lawan bicaranya. ”Nanti aku telepon lagi,” ucapnya buru-buru. 

Aku melihat pemandangan itu sambil terkenang masa lalu. Saat kali pertama mereka menyelamatkanku dari kesepian.

***
KAMI berenang riang, memonyongkan bibir layaknya sepasang kekasih berciuman. Hidup sudah menggariskan nasib kami sejak dalam perut Ibu, keluar dan menempel di rumput dasar kolam. Dari ribuan, tak semua tumbuh sampai dewasa. Sebagian disantap ikan lain atau mengunjungi perut ular sawah. 

Di mana Ibu? Mungkin peternak menempatkannya di wadah terpisah. Menunggu pejantan lain mengeroyok, lantas mengandung adik-adik kami. Pola yang sama senantiasa berulang.

Musim panen kian dekat. Air kolam perlahan menyusut dan tubuh kami lebih berat dari biasanya. Sisik mengilat ditempa cahaya. Para lelaki menebar jala, sementara semua ikan mencari celah. Namun takdir berkata lain. Plastik-plastik bening berisi oksigen buatan dengan air juga ruang gerak minim jadi penjara — aku bisa gila bila terus begini. Hanya tersisa dua pilihan: berakhir di toko hewan atau piring restoran. 

Mobil sampai tujuan, peti sterofoam diangkat dari truk. Tampak jelas kotakkotak kaca berisi saudara dari jenis lain. Ikan badut, anakanak kecil memanggilnya Nemo — kupikir kartun telah mencuci otak mereka. Ia sama sekali tak punya rasa humor, wajahnya merengut, badut tak pernah seperti itu. Kalaupun ada, penyelenggara pesta takkan memakai dua kali. 

Di tangki lain, piranha, pemilik gigi layaknya silet dan segenap riwayat menggerikan. Mata itu mirip iblis dengan warna merah di badannya.

”Kami tak sejahat itu, Bung,” bantah salah satu dari kawanan. ”Itu hanya tipuan film buatan manusia. Tak ada ikan makan ikan lain. Saudara tidak akan saling bunuh. Percayalah!” 

Aku sebetulnya ingin percaya, namun salah seorang karyawan salah menaruh kawanku dan seketika air berubah merah darah. 

Sasa gendut, rambut dikepang dua dan gigi berbehel. Namanya mirip merk mecin, mungkin kesukaan orang tuanya. 

Si ayah bertampang culun, potongan rambut belah pinggir dan kumis mirip Jojon. Kemejanya tampak kusut, meski ditutupi jas necis berwarna kelabu. Istrinya lumayan cantik, berambut bob warna pirang persis kucing anggora. Dandanan menor, bibir dipulas gincu, dadanya membusung mirip melon matang. Ia melihat aquarium dengan tampang konyol, senyumnya terbit layaknya psikopat menemukan mangsa. 

Sasa merengek, wajahnya memelas. Si ibu asyik bermain gawai. Mereka menuju aquarium, lelaki itu memanggil pemilik toko. Terdengar tawar-menawar. Sementara Sasa kelihatan senang menatapku dan mengetuk kaca. Aku jadi ketakutan, bersembunyi di balik batu. 

Rumah keluarga itu kecil saja, bentuknya mirip satu sama lain. Baru aku tahu tempat itu disebut perumahan. Perumahan sangatlah panas hingga perlu alat bernama pendingin udara. Terutama belakangan ini Nyonya Elma kerap bersitegang dengan Tuan Hitler — aku memanggilnya begitu karena kumisnya. Rumah jadi kacau, perkakas rumah tangga pecah, terbang ke segala arah. Perang dunia pecah. 

“Kucing itu pemberian selingkuhanmu!?” 

“Enak saja, itu permintaan Sasa anak kita. Jangan-jangan kau yang punya kadi dari simpanan,” bentak Nyonya Elma tak mau kalah. “Ikan mas itu bisa jadi.” 

“Itu juga keinginan Sasa. Sudah, aku tak mau bertengkar denganmu. Aku muak, capek dengan semua hal di rumah ini.” 

“Sama, aku juga!” 

Pertengkaran itu berakhir. Keadaan tak lagi sama. Tuan Hitler datang sesekali, suatu hari dengan membawa beberapa dokumen. Bertuliskan pengadilan agama dengan huruf tebal. Sementara istrinya mampir bersama pria yang kelak dikenal sebagai ayah baru Sasa. Dari sana kusadari, manusia gampang bosan.

Sasa mungkin sudah lupa dengan kami, sampai air tangki keruh dan dipenuhi lumut hijau. Akhirnya kusantap kotoran sendiri bila benarbenar tak dapat jatah makanan. 

Kucing itu terlihat lesu tak bersemangat, bulubulunya rontok, perutnya busung seperti sarung tergeletak. Jauh berbeda ketika kucing tetangga mengajaknya kawin dan membikin dia bunting. Bayi-bayi itu terlihat lucu, menyusu di puting sang ibu. Sementara ayahnya sudah minggat entah ke mana. 

Aku marah melihat peristiwa itu. Aku bisa apa? Aku hanya seekor ikan. Keluar dari kandang saja tak bisa, berlagak ingin menolong binatang lain. Namun aku tetap mengagumi makhluk kesayangan Nabi itu. Dengan segala kurang dan lebihnya. Ia tak mampu mengeong, hanya bisa menunggu belas kasihan. Aku tak tega melihatnya kelaparan atau menderita sebelum ajal menjemput. 

Sekuat tenaga kudorong wadah kaca sampai ke tepi. Pyarr. Serpihan kaca berceceran di lantai. Kucing pelan namun pasti mendekati asal suara. Langkahnya gontai, mata sayu, ekor bergerak ke sana-kemari. Semua masih terang, sebelum kegelapan abadi melahapku. Tubuh ini berpindah ke tempat lain.

***
“KAU percaya kehidupan setelah mati?” tanyaku pada gadis itu. 

Ia mengantuk setelah begadang kemarin malam. Insomnia. Aku sudah memberinya banyak saran, namun belum ada perubahan.

Kami sudah memutari alun-alun kota. Semua orang beranjak pergi, para PKL merapikan dagangan. Mae mengangguk. 

“Kenapa?” 

“Karena kehidupan adalah panggung sandiwara. Kebohongan belaka.” 

“Memang kau pernah mati sebelumnya?” 

“Hanya beberapa jam. Banyak hal mengerikan kutemui di alam sana.” 

“Mati suri,” ucapku gemetar, sedikit kaget. 

“Bisa dibilang begitu.” 

“Kamu percaya hantu? Orang-orang ketakutan pada hal itu.” 

“Bukankankah manusia juga hantu? Cuma kita memiliki jasad, sedangkan mereka tidak lagi.” 

Aku diam. Perhatianku teralih sejenak oleh sepasang kekasih yang bergandengan. Mereka berpelukan sebelum berciuman membabi-buta. Mirip salah satu adegan drama Negeri Gingseng yang kemarin kami — aku dan Mae —tonton.

Tak habis pikir, banyak wanita suka opera sabun bikinan mereka. Aktor dan aktrisnya hampir tak bisa dibedakan; samasama cantik. Pernah sekali tim nasional Indonesia mengadakan pertandingan persahabatan. Hari itu cuaca sedang tidak baik. Hujan mengguyur Senayan. Lapangan hijau pun becek. Namun yang mengejutkan, wajah pemain Korea Selatan mirip es krim mencair, bedak di wajah luntur terkena hujan. 

Meski begitu aku perlu menaruh rasa hormat atas wajib militer mereka saban tahun. Pasukan ganas secara kemampuan dan terlihat manis di luar. Kombinasi mematikan.

Belakangan aku membaca Vegetarian. Kukira penulisnya laki-laki, merunut dari namanya. Namun setelah kucari di internet, ternyata perempuan tulen. Han Kang masuk daftar hitam seniman penentang rezim Park Geun Hye. Dapat kusimpulkan, wanita pun bisa saling membenci. 

Malam kian dingin. Suara angin berembus sepoi membawa kantuk untuk dimanjakan. Burung hantu mengaok di pohon beringin, seolah makhluk dunia lain tengah berkeliaran keluar dari persembunyian. Kupu-kupu malam muncul, hinggap di trotoar mencegat mobil yang berseliweran. Ada yang terlihat berisi, butuh uang persalinan. 

“Kau percaya reinkarnasi? Aku pikir di kehidupan sebelumnya, aku ikan dan kau seekor kucing.”

Mae hanya tertawa kecil. Ia menganggap ucapanku hanya guyonan. 

“Sudahlah, aku masih ada tamu. Jika kangen, kau tahu harus mencariku di mana,” tukas dia sebelum pergi. 

Dari kejauhan Mae berjalan layaknya model di catwalk. Pinggulnya padat berisi bergerak ke kiri dan ke kanan, seolah ada ekor menjulur dari pantatnya. Bayinya mungkin akan jadi anak cerdas. Tak lama, sebuah mobil menepi. Sesosok pria dengan setelan jas hitam membukakan pintu, lalu menelan Mae. Membawanya pergi entah ke mana.(44)

Mojokerto, 4 Februari 2018

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mufa Rizal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 15 April 2018

0 Response to "Seekor Ikan Mencintai Kucing"