Semisal Riak Sungai - Semisal Bunga - Menyapa Air Bah - Sajak Cinta Sang Nabi Agung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Semisal Riak Sungai - Semisal Bunga - Menyapa Air Bah - Sajak Cinta Sang Nabi Agung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Semisal Riak Sungai - Semisal Bunga - Menyapa Air Bah - Sajak Cinta Sang Nabi Agung

Semisal Riak Sungai

Siapa sungai terlentang
Mengular hulu-hilir
Muara di lautan bijak

Barangkali gempa kemarin
Meretaki bumi jadi jalur kali
Menggiring air hingga tak banjir

Siapa sungai rela disampahi
Ditambangi dikambinghitami
Diirigasi ke sawah padi

Lalu jadi tak sekedar kenyang
Tapi jadi hidup dan menghidupi
Sst,.. kembalikan sungaiku
jadi jernih dengan riak alami

Yk, 2018

Semisal Bunga

Kerna pagi semisal bunga
Pandang dan ciumi sederhana
Barangkali kelak membuah
Petik dan cicipi sederhana

Kerna hidup sebagai bunga
Fahami dan jalani sebatas usia
Barangkali kelak terperangah
Kebenaran tak berpihak padanya

Betapa tak mudah berkata tidak
Betapa tak mudahnya membenahkan
Bertahan setia tak seindah bunga
Sebagaimana janji yang ternyanyikan

Yk feb 2018

Menyapa Air Bah

Jangan, jangan kau bendungkan
Alirkan saja ke mana ia mau
Kembalikan habitat cara berair sejati

Jangan terlalu serakah kuasai
Kerna aku cuma air ayat alami
Kembalikan cuaca pada musimnya
Kerna aku cuma air, tak mau rekayasa

Jangankan hujan, sungai dalam bumi
pun bisa aku banjirkan

Jangan, jangan kau tebang habis
hutan sisa sahabat asli akar airku
Ia hutan cuma milik tatanan hidup
dan kehidupan

Hmm, mari kita suka tanam
setiap hari....

Yk. 2018

Sajak Cinta Sang Nabi Agung 

Terima kasih siapa tak terkata
tapi sampai
tak tergenggam
tapi tersimpan

Tersujud aku padamu, ya, Nabi Agung
Tersungkur aku di sajadah cintaMu

Gemetaran ini jiwa
Gemetaran angin, udara, dedaunan dan
serangga
Terasa dan ternyata
kehadiran kau, ya, Nabiku
Di sini
Di majlis maulidurrasul
shalawatan semalaman ini

Senandung bedug, senandung degub
jantung hatiku
Salam padamu penghulu para nabi
Salam padamu dan berkahi kami

Tanpa terutusNya kau
Jadi apa ini jiwa
Terusak-rusak moral pekerti manusia

Harga wanita terhina-hina
Murah darah murah berhala
Ya, ya Nabi Agungku, hadirlah kau
dalam hatiku

Yk. 2018

*) Marjudin Suabe lahir di Kulonprogo tahun 1954. Masuk di dalam buku Apa-Siapa Penyair Indonesia. Puisinya di Antologi Lima Tujuh Lima, Penyair Jogja 3 Generasi. Gunungan, Peseban, Bencana, Ziarah (bersama Budi Nugroho), Genderang Kurukasetra, Nyanyian Bukit Menoreh, Cermin Akhir Tahun, Gondomanan 15, Pendapa Tamansiswa, Bulan Bukit Menoreh (buku puisi tunggal). Alumni Renas, Insani, Persada Studi Klub. Kuliah IKIPYogya (kini UNY) masuk tahun 1975 lulus tahun 1986.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marjudin Suabe
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 1 April 2018

0 Response to "Semisal Riak Sungai - Semisal Bunga - Menyapa Air Bah - Sajak Cinta Sang Nabi Agung"