Surat Terakhir - Kecantikan Seluruh Zaman - Mewaktu di Sisimu - Aku Ingin Mengaku - Tuan Rumah yang Ramah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Surat Terakhir - Kecantikan Seluruh Zaman - Mewaktu di Sisimu - Aku Ingin Mengaku - Tuan Rumah yang Ramah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:00 Rating: 4,5

Surat Terakhir - Kecantikan Seluruh Zaman - Mewaktu di Sisimu - Aku Ingin Mengaku - Tuan Rumah yang Ramah

Surat Terakhir

Hari ini hari lahir kau, aku ingin
menjadikan doaku sebagai anak kecil
lucu yang membuat lenganmu betah
menimangnya lama-lama.

Kuselipkan sepucuk surat yang
malu menuliskan namaku dalam
hadiah yang kukasihkan padamu
sewaktu kau tidak melihatku.

Di hari lain, ketika aku menjadi diri
sendiri, akan kudewasakan doaku
dan kutuliskan namaku di surat
penghabisanku.

Kecantikan Seluruh Zaman

Haruskah aku bersembunyi di mana pun?
Padahal, sapaanmu seperti angin yang mengajak
dedaunan menari-nari, setelah sekian hari hanya
berdiam diri.

Ajakanmu juga seperti waktu yang mampu
membawaku melewati patahan detik-detik
di kala rindu masih rintik-rintik.
Dan semua makhluk mengerti, senyummu
sanggup mewakili kecantikan seluruh zaman.

Mewaktu di Sisimu

Apa yang akan aku tulis untukmu ialah kata-kata yang
selamanya tidak bisa menjelma puisi.
Tidak bisa membuatmu lega ketika membacanya,
seperti sepasang kekasih berebut napas.

Aku dan orang lain ialah kesalahan yang paling kau
dambakan di hari ketika hujan meninju bola matamu.
Tetaplah dalam keraguanmu yang jauh, karena aku
juga memiliki keraguan yang belum tertuntaskan.
Aku bukan seorang yang dengan mantap menatap
dalam dirimu hanya ada aku, kau memendam orang
lain yang mewaktu di sisimu.


Aku Ingin Mengaku

Aku ingin mengaku mengenalmu, agar
ketika bertemu, aku tidak segan
menyapamu begini: hai, apa kabarmu
selama ini?

Aku ingin mengaku menyukaimu, agar
ketika bersamamu, aku bisa merasakan
getar batinmu menjauhi atau
mendekatiku.

Aku ingin mengaku merindukanmu, agar
ketika berjarak, aku sanggup
mengirimimu tulisan yang berbunyi: di
sini, aku masih seseorang yang  waktu itu
mengaku mengenal dan menyukaimu.

Aku ingin mengaku mendemamkanmu,
agar ketika berbaring, aku tidak segera
meminta hadirmu, biarlah aku menikmati
ini, sedikit lebih lama.

Tuan Rumah yang Ramah

Di luar sana, aku sibuk mencari diri
sendiri, pada ilalang yang hilang ingatan
setiap kali sentuhan jemariku tidak
mengenainya.

Di mata, hanya ada raga lain yang
merumahi jiwa seseorang yang lapang
dan suka kukenang, namun diri sendiri
manusia tanpa kenangan.

Setengah berlari mengejar diri sendiri,
namun ia benar-benar pelari yang ingin
merasakan pulang menuju rumah yang
tidak dihuni siapa pun.

Di dalam sini, aku menuding diri sendiri,
bukan aku seorang yang hidup di dalam
sini, sudahkah aku menjadi tuan rumah
yang ramah bagi diri sendiri?

- Alif Waisal, lahir di Banyumas, 25 Desember1994, mahasiswa Jurusan Bahasa dan SastraArab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kumpulanpuisinya,Diam di Meja Makan, membuat diamenjadi satu dari 10 unggulan pemenang KekataPena Kawindra Award. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alif Waisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 22 April 2018

0 Response to "Surat Terakhir - Kecantikan Seluruh Zaman - Mewaktu di Sisimu - Aku Ingin Mengaku - Tuan Rumah yang Ramah"