Tungku Perkawinan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tungku Perkawinan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:24 Rating: 4,5

Tungku Perkawinan

Faisal kawin lagi!

Macua sampai menurunkan bulang hingga menutup separuh daun telinga. Ia sedang berupaya tuli dari gunjingan yang tak kunjung sunyi. Sejak ketupat masih penuh dalam keranjang sampai ikan gabus hanya menyisakan tulang, kabar anaknya yang poligami masih membahana seantero kampung Sungai Paring. Orang-orang berkicau bagai sekawanan burung pipit di pematang pada musim padi kuning keemasan.

“JADI benar Faisal kawin lagi dengan janda beranak satu, Macua?” usut Angah Samsuri usai menyambut sepiring ketupat berkuah santan dengan lauk jeroan ikan.

Kali ini bukan hanya Angah Samsuri yang menanti jawaban, melainkan pelanggan lain yang sejak tadi belum jua beranjak pergi. Macua mengembuskan napas. Kabut tipis meluncur dari ujung bibir merah darah hasil disepuh gambir bertahun-tahun. Diludahkannya sisa sirih ke tanah. Ditatapnya wajah orang-orang penasaran.

“Kau dengar kabar dari siapa, Samsuri?”

“Tuan Kadi. Katanya beliau sendiri yang menikahkan malam Jumat lalu.”

Perempuan renta itu membisu. Serapah bergemuruh di dada ringkihnya. Putri kepala kantor urusan agama itu lagi. Tidak jerakah Faisal mengkelindankan hati pada wanita yang pemah membuatnya nelangsa? Seketika angan Macua langlang ke masa silam. Segalanya bagai masih di depan pelupuk mata. Lara anaknya, duka dirinya. Perasaan terhina. Perasaan tiada berdaya.

***
SABUT kelapa baru menyala kala ketukan pintu terdengar mendesak beranjak. Macua melirik jam dinding, pukul tiga pagi. Siapa gerangan yang bertamu sebuta hari begini?

Setibanya di ambang pintu Macua nyaris memekik sebab mendapati Faisal datang sempoyongan. Urat di matanya merah bertonjolan. Rambutnya kusut-masai. Dari mulut Faisal mengudara aroma malaga. Tanpa bertanya dipapah Macua anaknya ke kursi dekat jendela.

“Anak Tuan Kadi, Macua, pinanganku ditolaknya dengan undangan perkawinan. Dua tahun kami berkelindan diputusnya dengan menerima Guru Agama.” racau Faisal nelangsa.

“Alahai, Macua, jangankan bersepakat mahar, belum mengetuk pintu saja telah ditatak batang—diputusnya pertalian—kita. Nasib orang tak berpunya.”

Faisal bermonolog tak habis-habis. Sesekali tertawa getir, selebihnya tersedu bagai bayi kehabisan susu. Ia kecewa setengah mati pada keputusan Anak Tuan Kadi, guru yang mengajar di sekolah dasar dekat warung Macua. Pertemuan saban pagi memulakan kisah keduanya. Berawal jelingan mata, lama-lama Faisal berani juga menunggu di depan gerbang dengan sepeda. Sesudahnya perempuan itu akan duduk di sadel belakang, sesekali terpaksa memegang pinggang Faisal jika roda sepeda menghantam lubang. Sebuah kesengajaan yang Faisal buat agar perjalanan tak terasa menjemukan. Sekaligus ajang curi-curi pegangan.

“Maaf, Dik, baru tahu ada lubang dekat rumahmu. Mungkin hasil hujan kemarin lalu,” kilah Faisal usai menurunkan anak Tuan Kadi sepuluh meter sebelum benar-benar sampai.

Anak Tuan Kadi akan tersipu-sipu, lalu pamit dengan lambaian samar. Jika sudah begitu, perjalanan delapan kilometer pulang pergi dengan tanjakan jembatan bukanlah sesuatu yang melelahkan. Kayuhan sepeda Faisal akan terasa amat ringan sebab hatinya riang bukan kepalang. Sepanjang jalan ia akan bersenandung. Terik menjadi kawan, mendung bukan cobaan. Saban hari musim terasa cerah saja bagi orang jatuh cinta.

Namun kini Faisal dirundung nelangsa. Hatinya remuk. Hidup hanyalah rangkaian gulita bagi orang berduka. Binar harapan padam seketika. Mata merahnya memandang Macua. Air masih menyisa di sudut-sudutnya.

“Esok aku ke Banjarmasin, Ma. Mencuci klise yang pernah diberikan Anak Tuan Kadi.” beritahu Faisal.

“Jangan macam-macam, Faisal, dia akan jadi bini orang.”

Lelaki berjambang sekitar rahang itu menggeleng kuat. Ia pegangi lengan Macua erat-erat. Tatapan linglung berusaha ia buang. Macua harus tahu, ia tak pernah bercanda perkara hati. Tekad Faisal telah bulat, tidak dapat dicegat.

“Macua, utang harta dibayar harta, utang nyawa dilunas nyawa, utang hati berbalas hati. Andaikata tak dapat kuperistri Anak Tuan Kadi, mestilah ia diberitahu arti nelangsa. Tolong buatkan air yang telah dibacakan yasin 41 kali. Nanti akan kutanak fotonya dengan air itu.”

“Jangan kau tenggelamkan diri ke kubangan dosa, Faisal!” peringat Macua.

Ia paham sekali bahwasanya tanakan tiga lembar foto dengan air yasin empat puluh satu adalah usaha mengirimkan bala. Macam-macam tujuannya, dari membuat sakit fisik nyata sampai jiwa. Empat puluh hari empat puluh malam api tungku tak boleh padam. Sedetik pun jua. Sebab sekali padam, tulahnya akan menimpa diri sendiri. Rambut halus Macua meremang ngeri.

“Kalau yang kuperbuat adalah dosa, lantas ulahnya yang menyakitiku sedemikian rupa apa?” kejar Faisal tak bersahut.

***
“KALAU Macua sampai hati, bunuhlah Ananda dengan belati. Bulan syawal hidup sehari. Anak Tuan Kadi akan diperistri. Siapa yang sanggup makan hati berulam jantung?” desak Faisal frustrasi sebab belum jua berhasil membujuk Macua.

Lekat-lekat ditatap Macua putranya. Bagai atang—tungku tanah—telah lama tak disentuh api; wajah rupawan bersalin jelaga kepedihan penuh debu putus asa. Sebagai ibu tentu saja tak tega. Terangguk jua kepala Macua akhirnya.

Seminggu setelahnya Faisal berangkat menuju tepi Sungai Paring. Daun-daun rumbia ia sibak dengan sebilah parang. Di ujung perjalanan, sebatang pisang yang jantungnya telah menjelma buah matang ia tebang. Lapis demi lapis dikuliti dengan hati-hati. Hanya bagian berwarna putih berseri yang boleh ia bawa ke rumah.

“Tungku gadang sudah siap, Ma,” lapor Faisal pada Macua yang baru saja menyumbat mulut tempayan. Bulir-bulir air berjatuhan dari wajah yang penuh lipatan.

Selepas Magrib, Macua turun ke kolong rumah panggung. Pematik dinyalakan untuk memancing bara sabut kelapa. Api membalur buritan teko berisi air yasin. Sesekali perempuan itu meniup seruas bambu untuk menjaga perapiannya. Sedari malam ini Macua dan Faisal berbagi jaga. Di usia menuju senja perempuan itu mesti bertaruh nyawa; nyawa putranya atau nyawa perempuan yang dicintai putranya. Malang nian nasib Macua kiranya.

“Faisal, empat puluh hari setelah ini, pinanglah perempuan lain yang dapat menyenangkan hatimu. Usah kau kenang lagi Anak Tuan Kadi. Perpisahan ini barangkali pertanda takdir kalian tak saling bertalian.”

Faisal melepas napas. Pandangnya berpindah dari air yang meletup-letup. “Hari keempat puluh satu akan kusambangi rumah Tuan Kadi. Bilamana anaknya telah menerima bala akan kupinang perempuan lain sebagai ganti.”

***
SETAHUN selepas pernikahan Faisal dengan seorang gadis asal hilir sungai Barito, pintu reot kediaman Macua kembali diketuk paksa. Begitu terbuka, nampak Angah Samsuri berdiri doyong sebab kepayahan memapah Faisal yang lebih besar dan tinggi darinya.

“Badan Faisal panas sekali. Tadi ditemukan orang-orang meringkuk di warung Macua,” adu Angah Samsuri usai merebahkan Faisal. “Katanya tidak berani pulang, terlanjur ketahuan bininya menikahi lagi,” tambahnya lagi.

Di atas tilam Faisal meringkuk bagai bayi lahir kemarin. Bibirnya bergetar, matanya terpejam. Sekalipun selimut membalut sekujur badan hingga peluh bergelantungan, Faisal tetap kedinginan.

“Samsuri,” cegat Macua membuat Samsuri membalikkan diri. Ia angsurkan pandangan penuh tanya. “Apa esok ada padi orang yang mesti kau giling?”

“Tidak ada, Macua. Kami hanya mengarungkan abu dan sekam untuk dijual ke pasar.”

“Kalau begitu, bawakan beberapa karung abu. Esok pagi buatkanlah sebuah atang lagi,” perintah Macua disepakati Angah Samsuri.

Menjelang tengah hari, Faisal terbatuk tanpa henti. Asap mengembara ke seantero kamarnya yang terletak paling dekat dengan dapur. Susah payah ia rambati dinding papan. Kepalanya masih terasa berkunang-kunang, tetapi bertahan dalam kepungan asap jelas bukan pilihan menyenangkan. Lalu satu demi satu ia turuni anak tangga, kemudian didapatinya punggung bengkok Macua sedang meniupi bambu di depan tungku. Alis Faisal naik satu. Sejak kapan Macua punya dua tungku? Barangkali sepanci ketupat tak lagi cukup memuaskan pelanggan sehingga mesti ditambah lagi porsi yang tersaji. Demikian pikirnya.

“Ma, apa selama kita menanak foto Anak Tuan Kadi, api pernah mati?” telisiknya usai memeram berhari-hari.

“Rasanya tidak pernah sekalipun. Bahkan sebelum jadi arang, kayu dan sabut sudah kusisipkan lagi.”

“Aneh sekali. Andaikata api tak pernah mati, mengapa sakit ini malah menimpaku bukan Anak Tuan Kadi?”

“Bukankah dahulu kau melihat Anak Tuan Kadi dipapah menaiki becak dengan raut pucat pasi?” sambut Macua atas tanya sang putra.

“Dahulu bukan sakit rupanya, Macua. Malam Jumat lalu, sebelum kucumbu, ia bercerita jikalau saat hamil muda badannya tidak berdaya. Itu sebabnya ia belum bersedia menambah cucu dari kami berdua.”

Selepas menandas kata, Faisal terbatuk lagi. Kali ini lebih sesak dari sebelumnya, seakan-akan asap dari atang Macua telah meremas paru-parunya. Retina Faisal menjelma merah tua. Rintik air mengairi sudut matanya. Sebelah tangan Faisal memegang dada, sedang sebelah lagi tergenggam di depan mulut.

“Macua, apa tidak bisa menanak ketupat dengan satu atang saja? Asapnya menyesakkan sekali,” keluh Faisal lirih.

“Bisa saja. Bahkan akan kusuruh Samsuri merubuhkan atang asal kau juga mau merubuhkan atang lain dalam hatimu,” pancing Macua sambil mencipratkan air dari tempayan hingga bara padam.

“Maksud, Macua?”

“Istri itu ibarat atang, Faisal. Kalau asap dari satu perapian saja sudah membuatmu sesak, lalu darimana kau yakin dadamu lapang untuk menampung keluh kesah dua perempuan dalam satu biduk perkawinan?”

Faisal membisu. Dua perempuan membayang bersamaan. Anak Tuan Kadi yang baru ia nikahi dan bininya yang kini mengandung buah hatinya sendiri. Macua benar, salah satu atang mesti dirubuhkan, tetapi yang mana?

“Kupikir, Faisal, dengan mengurangi bilangan bacaan yasin tiada bala yang akan menghampiri siapapun jua. Nyatanya aku keliru. Bala bukan dari api yang padam, namun nafsu yang menyala-nyala. Sambangi Anak Tuan Kadi, antarkan ia kepada Bapaknya, kembalilah pada atang-mu yang pertama.”


Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai Selatan, 16 September 1996. Menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Novelnya bersama Avesina Soebli berjudul Jendela Seribu Sungai diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2018. Cerpennya berjudul “Sebatang Lengkeng yang Bercerita” terhimpun dalam buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015.


____________________

Indra Gunadharma, lahir di Bandung, 1963, lulusan Desain Grafis FSRD ITB 1988, salah satu Mahasiswa Teladan FSRD ITB 1987. Pengalaman kerja di creative periklanan selama 21 tahun di 6 multinational advertising agency. Kini menjadi pelukis, desainer grafis, dan desainer artwork untuk interior di studio Indrartwork. Penghargaan: Desain Tipografi Terbaik pameran tahunan FSRD ITB 1987, puluhan penghargaan Citra Pariwara 1996-2005.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Miranda Seftiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 8 April 2018

0 Response to "Tungku Perkawinan"