Upik Labu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Upik Labu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:30 Rating: 4,5

Upik Labu

AKU membenci perempuan itu, yang selalu berdaster kuning labu dengan corak bunga mawar merah yang norak. Rambutnya selalu dipotong pendek. Di wajahnya hampir tidak ada yang menarik. Berhidung dan berdagu pendek.

Dia selalu bangun subuh, dan langsung membasuh muka di baskom kecil di samping sumur. Di tempat yang sama, berbaris manis pula berbaskom-baskom baju kotor dari suami dan anak-anaknya yang masih balita. Baju-baju yang berbau kencing bercampur muntahan susu sampai samar-samar aroma tinja. Dia harus segera mencuci dan menjemur baju-baju itu sebelum matahari bersinar.

Sesudah itu ibu mertua dan ipar-ipar perempuannya yang masih gadis akan bergantian bangun. Berebut odol dan menyikat gigi lalu tersenyum-senyum sendiri di depan cermin. Mereka semua merasa diri secantik bidadari kekasih Jaka Tarub, yang kehilangan selendang dari kahyangan.

Di meja makan sudah tersaji sepanci bubur panas dan beberapa butir telur asin yang sudah dibelah dua. Upik Labu, yah begitu aku menjulukinya, dengan gesit berputar dan berpindah dari sumur ke dapur lalu ke mesin jahit tuanya. Masih ada sedikit waktu untuk menyelesaikan baju pesanan ibu guru Yemima. Sesekali jika ibu mertua memanggil, dia akan berhenti menginjak dinamo mesin jahit dan segera menghampiri sang ibu mertua.

’’Mayang... Mayang... Mayang!’’ Ibu mertua tidak akan berhenti memanggil nama itu sampai Upik Labu muncul di hadapannya. Ibu mertua belumlah tua benar, masih sehat masih lincah, rambutnya dikeriting sebahu, semua bajunya dijahit oleh sang menantu, dihiasi pinggiran berenda.

Ternyata Upik Labu lupa menyeduh teh melati dalam cangkir-cangkir kaleng penyok untuk setiap penghuni rumah. Tanpa menyia-nyiakan satu atau dua kata untuk menjawab, Upik Labu terbang kembali ke dapur, dan seperti pesulap perempuan yang sangat sakti, semua sudah tersaji di atas meja. Lalu dia pun kembali menekuni jahitannya dengan tabah. Kembali terdengar suara dinamo yang tersendat-sendat, sesuai dengan jeda berapa lama bibir ibu mertua akan kembali terbuka.

Sisa jahitan di bagian pinggiran baju saja yang belum dirapikan. Suami dan anak-anaknya akan segera bangun dan sudah pasti mereka akan ribut seperti orang kelaparan. Bergegas dia ke halaman belakang dan menjala dua ekor ikan emas besar dari kolam kecil berlumut di bawah pohon. Satu untuk digoreng dan satu untuk dibakar dalam bungkusan daun pisang.

Jika ikan-ikan itu selesai menemui takdirnya, maka dia bisa kembali ke mesin jahit. Walaupun kenyataannya, kalau semua sudah cukup kenyang atau kekenyangan, maka ibu mertua akan menjadi semakin malas bergerak dan suara penuh perintah akan terus-menerus tersiar di udara dengan nyaring. Mengalahkan deru sekarat dinamo mesin jahit. Itu berarti upah jahitan akan terlambat diterima, nilainya luar biasa besar, sama dengan susu sekaleng.

Ipar-iparnya yang sedang bersiap-siap akan ke sekolah juga tidak kalah hebohnya. Bingung sisir bingung bedak tabur bingung baju seragam yang kurang licin. Belum lagi mereka mulai naik darah mencari kaus kaki molor yang pasangannya entah di mana.

Mereka bertiga memang berwajah lumayan cantik, lengkap dengan bonus sifat malas yang luar biasa. Mata mereka bisa mengeluarkan silau yang kejam seperti terik matahari memantul di atas pecahan kaca. Tidak hanya itu saja, bibir-bibir mereka yang cerewet merepet dan suka berkatakata tajam bahkan bisa memuntahkan gelombang cahaya.

Inggrid yang nomor satu, penjelajah kampung ke kampung, berpindah dari satu pelukan pemuda desa di atas bukit ke pemuda desa lain di pinggir sungai. Karena waktunya tidak banyak di rumah, bisa dikata dia yang paling baik memperlakukan Upik Labu. Tapi sesekali dia juga harus menunjukkan solidaritas dengan sekadar ikut tertawa ketika misalnya Upik Labu sedang berjongkok menyikat lantai. Mereka saling berbisik dengan secuil senyum melecehkan, ’’Lihatlah dia, masih lebih cantik buah labu.’’

Linda si nomor dua, merasa yang paling cantik dan paling berkuasa. Dia tukang asah kata-kata. Sambil berdansa mengikuti irama radio yang sumbang karena batu baterei soak, Linda akan menyanyi nyaring, ’’Jelek-jelek aku sudah ada yang punya...’’

Lanny si bungsu, lain lagi kasusnya. Dia memang membenci apa saja. Matahari dan bulan yang bersinar, kerikil kecil di jalan, sendok makan bengkok murahan, kaki-kaki kepiting rebus yang kurus tak berdaging, durian yang berduri, pita rambut yang benangnya mulai terlepas, penjual buah yang perhitungan, dan yang terutama Upik Labu yang selalu riang gembira. Lanny kemudian akan bergabung dalam duet paduan suara dengan Linda, ’’Jelek-jelek aku sudah ada yang punya...’’

Upik Labu sadar, syair indah itu untuk dirinya. Tapi dia tidak ambil pusing. Baginya uang lebih penting. Lembaranlembaran kain di depannya sudah menyita semua pikirannya. Kain-kain ini harus segera dipola dan digunting. Kemudian dengan teliti dijahit rapi untuk pelanggan-pelanggan yang berbahagia.

***
SEMUA perempuan dalam rumah ini --kecuali Upik Labu-- meyakini bahwa surga berada di atas kasur. Setiap saat di luar jam makan dan jam sekolah, tiga dara itu sibuk bergulung-gulung di atas kasur. Toh ada Upik Labu yang dengan bahagianya gentayangan di dalam rumah. Apalagi jika hujan turun, lengkaplah sudah. Menarik selimut dan bermimpi bertemu anak orang kaya, saling jatuh cinta dan segera dilamar. Maka mereka benar-benar akan pulas dengan wajah berbinar-binar.

Anak-anak orang kaya itu tentu saja tidak pernah datang. Yang datang adalah pendekar-pendekar cinta yang membawa cokelat dengan citarasa tahi kucing.

Rumah ini sendiri bagi Upik Labu adalah rumah gawat darurat yang pintu dan jendela bahkan lubang kakusnya menyerupai bibir perempuan. Bibir suaminya sendiri sudah lama menjelma menjadi bibir yang juga berjenis kelamin perempuan. Semua begitu bernafsu untuk mengeluarkan titah dan sabda agung.

Mereka ingin mematahkan semangat dan harga dirinya, tapi Upik Labu adalah pemain bertahan yang tak terkalahkan. Dia tetap bekerja dalam diam, jari-jari tertusuk jarum pentul itu biasa. Tulang belakang nyeri, napas sesak kelelahan, sakit kepala yang datang dan pergi sesuka hati, tapi tetap saja dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda penderitaan. Demi anak-anak yang dikasihinya, lagi-lagi kalimat klise ini yang menjadi alasan.

Hari itu langit sedang berbaik hati menurunkan hujan, mendinginkan bumi, ketika keberuntungan akhirnya berhenti berdetak untuknya. Secara ajaib, semua bibir-bibir serong itu tiba-tiba pecah dan berhamburan di udara. Berdarah-darah dan bernanah, serpihannya menerjang dan mengiris tajam ke bola matanya. Upik Labu tumbang dari kursi kayu kerjanya --yang dialas bantalan kapuk tipis agar dia bisa betah duduk belasan jam menjahit. Tubuhnya menggelundung tanpa daya. Semangatnya boleh digdaya, tapi tubuhnya telah menggagalkannya.

Upik Labu tidak pernah menyerah tapi juga tidak pernah melawan. Untuk itulah aku sangat membencinya. Bagiku itu bukan perjuangan. Andaikan dia mengasihi hatinya sendiri dan mengerti sedikit tentang jam tubuhnya, maka aku, putrinya, sekarang masih akan bersama dia... ***

CAROLINE WONG 
Cerpenis, lulusan UK Petra Surabaya, kini tinggal di Makassar

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Caroline Wong
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 22 April 2018


0 Response to "Upik Labu"