Via Dolorosa sang Bhikkhu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Via Dolorosa sang Bhikkhu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:57 Rating: 4,5

Via Dolorosa sang Bhikkhu

AKU berpapas dengannya di tikungan Gandawyuha relief Candi Borobudur pada sebuah pagi di awal musim hujan. Gerimis lembut turun di permulaan hari yang jernih itu. Ia sedang menatap panil nidanaparivarta yang memperlihatkan Buddha berada di Jetavana bersama muridmuridnya. 

Ia menolehku, mengangguk sopan, dan sedikit senyum tersungging di bibirnya yang pucat. Bahu kanannya terbuka sudah basah oleh gerimis, pun jubah kashaya1 sewarna tembaga tanpa klem yang melilit tubuh kuningnya. Tetapi sanghati2 berwarna sama tetap tersampir di bahu kiri. Ada sebutir air jatuh di bulu matanya, seperti embun yang menempel di rerumput yang menghampar di halaman candi. Dia tidak sedang melakukan paradaksina, aku tahu itu. 

Ini hari ke tiga aku berada di area candi, dan selalu menyusuri lorong ini pada pagi sebelum matahari terbit untuk membaca panil-panil di pinggang candi, lalu akan aku lanjutkan menjelang sore saat matahari menjatuhkan bayang-bayang candi ke timur. 

Angin bertiup kuat dari perbukitan Menoreh mengirim bau pagi yang basah saat aku berada di depan panil Pangeran Sudhana dalam pengembaraan. Aku tidak naik ke Arupadhatu karena pasti di atas sana angin lebih kencang menerpa dan gerimis ini semakin kuat saja sehingga aku memutuskan menunda membaca relief Gandawyuha. Aku menimbang, apakah perlu melanjutkan meski gerimis makin kencang atau aku tunda saja. 

Akhirnya aku berbalik lalu turun ke lorong Kalyanamitra, sekali lagi berpapas dengan Sang Bhikkhu. Sanghati yang tadi tersampir di bahu kiri itu sudah ia pakai untuk melindungi dingin pagi. Dia berteduh di pintu penghubung, lalu ia tersenyum saat aku sekali lagi menyapa. Tiba-tiba aku merasa pernah bertemu dengannya. Tetapi di mana? 

“Apakah Bhikkhu memerlukan payung? sepertinya gerimis ini akan semakin deras. Jika iya, saya bisa pinjamkan di pos penjagaan,” kataku sambil terus memeras ingatan tentang sosoknya. Saat berpapas pertama tadi, pagi masih terlalu gelap tetapi sekarang aku bisa melihat parasnya lebih jelas. 

“Terima kasih, saya belum memerlukan,” jawabnya sopan. 

Aku sulit mengingatnya karena tiga tahun terakhir aku banyak menghabiskan waktu mengunjungi candi baik di dalam maupun luar negeri khususnya Candi Budha. 

“Ibu naik sampai ke atas tadi?” ia bertanya mencairkan kebekuan, aku menggeleng. 

“Tujuan saya Gandawyuha. Baru beberapa panil, tapi gerimis sudah menjadi hujan ringan, nanti saja saya melanjutkan.” 

“Untuk studi?” aku mengangguk. Lalu, begitu saja aku menceritakan kalau aku sangat suka pada fable-fabel di relief Karmawibhangga juga cerita tentang Putri Manohara dan masih terus berbincang-bincang tanpa merisaukan cuaca. 

Aku dan Sang Bhikkhu sama-sama berdiri di pintu penghubung lorong, menatap pegunungan Menoreh. Di atas kami burung-burung kecil dan besar terbang melayang merayakan pagi dalam gerimis tipis. Langit berwarna putih susu dan ada gumpalan awan kelabu. Saat aku menoleh, Sang Bhikkhu juga sedang mengamati langit sepertiku. Hening dan bening. 

Tiba-tiba seekor burung kecil melayang oleng lalu terempas jatuh di telundak mengagetkan aku dan Sang Bhikkhu. Refleks dia bergegas menuju burung kecil itu. Menuruni telundak langkahnya lebarlebar sehingga kain yang melilit tubuhnya tersingkap cukup tinggi dan tertangkap mataku tato itu. 

Di atas mata kaki mengarah pada betisnya sebentuk salib panjang dililit sesulur bunga-bunga merah muda dan biru, dan ada satu kata ditato vertikal yang tak terbaca mataku. 

Tato di kaki itu membawa ingatanku saat aku dan seorang kawan berperahu menyusuri Chao Praya setelah lelah mengelilingi Wat Arun. Ketika tukang perahu menghentikan mesin, pemandu memberitahu bahwa kita akan memberi pakan ikan-ikan dalam sungai ini, aku menatapnya. Namun kemudian, dari sisi kananku aku melihat seorang Bhikkhu berdiri di dinding sungai mengulurkan galah, pada ujung galah itu ada keranjang yang berisi sebongkah roti putih. Aku mendongak. 

“Ambilah roti itu untuk pakan ikan, dan gantilah dengan 20 baht,” pemanduku berkata dalam Inggris. Tetapi aku tak lekas mengambil roti itu meski pecahan 20 Baht sudah di tanganku, aku masih menatap matanya. Aku menangkap sunyi yang dalam. Garis wajahnya seperti orang Indonesia, tetapi bukankah wajah-wajah orang Thailand dan Indonesia hampir sama? dia balas menatapku sebelum aku tergagap karena kawanku menyenggol lenganku. Buru-buru aku mengambil sebongkah besar roti putih itu dan menaruh pecahan 20 baht ke dalam keranjang yang diikat ujung galah. 

Saat Bhikkhu itu berbalik dan menaiki telundak, mataku sempat menangkap di kakinya ada tato salib yang dililit sesulur bunga merah dan biru dan sebuah kata yang tak terbaca mataku. 

Kini Sang Bhikkhu bersimpuh di lantai candi yang dingin, aku bergegas menyusul dan melihat di atas telapak tangannya barung kecil itu sekarat. Sayapnya berdarah, lehernya berdarah. Aku turut berdiri ketika ia berdiri dan melangkah menuruni telundak candi, gerimis tipis turun lagi. 

“Burung kecil ini sudah mati. Mungkin tadi ia diserang burung besar,” katanya dengan dua telapak tangan terangkat setinggi dadanya. Aku membuka payung, lalu memayungi Sang Bhikkhu dan burung sekarat itu. 

“Mari kita kuburkan burung malang ini di bawah pohon di sana,” katanya sambil melangkah, aku berjalan menyebelahi. 

“Bisakah ibu menggalikan tanah sekira duapuluh senti?” ia meminta ketika kami sampai di tanah basah di bawah pohon bodhi. Aku mengangguk dan menggunakan ujung payungku untuk mencongkel congkel tanah lalu kukeruk tanah itu dengan tanganku. 

“Sebentar, saya akan carikan daun-daun untuk alas tidur burung ini,” kataku lalu berdiri segera, memetik tiga lembar daun Bodhi remaja yang terjangkau tanganku. Kuletakkan dua lembar dalam liang kecil yang tadi kugali. Tangan Sang Bhikkhu terulur meletakkan burung mati itu lalu aku menutupnya dengan selembar daun terakhir dan kami sama-sama menguruk dengan tanah. Sang Bhikkhu merapal doadoa begitu khusyuk. Aku bergeming dalam hening pagi itu. 

Masih bersimpuh di tanah, ia bercerita bahwa burung itu mengingatkannya pada masa ketika ia kanak-kanak. Ketika ibunya harus bekerja siang-malam demi mendapatkan uang untuk pengobatan ayahnya. 

Di depan matanya, ia menyaksikan ibu kerap mendapat perlakuan kasar dan kejam dari majikan. Bahkan, juga dirinya sendiri mendapat perlakuan buruk ketika membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan. Pernah suatu kali majikan memukulnya hingga di punggung dan pahanya ada bilur-bilur dan bercak darah. Tetapi baik ibu maupun ia harus bertahan agar bisa menebus obat ayahnya. 

“Namun saat obat demi obat tertebus dan pelan-pelan ayah sembuh, ayah meninggalkan kami entah ke mana. Tinggal aku dan ibu berjuang hidup sekuat kami bisa. Hingga suatu pagi aku mendapati ibu tidak bangun lagi. Mungkin raganya sudah sakit dan kami sangat lapar. Lalu, seseorang menolongku dan aku dibawa ke biara sampai sekarang meski semua orang yang tinggal di biara tetap mengijinkan jika aku ingin ke gereja.” Suaranya begitu tenang dan bening. Lalu, Sang Bhikkhu mengela napas. Tenggorokanku sakit. Aku melihat masih ada bercak darah di kedua telapak tangannya yang mengingatkanku pada telapak tangan Kristus di kayu salib. 

“Mengapa ayah meninggalkan Anda dan ibu padahal dia sembuh karena kerja keras Anda dan ibu?” 

“Ayah menuduh ibu pelacur. Untuk mendapatkan obat itu, ayah menuduh ibu melacur.” aku tersentak, hingga kehilangan kata-kata. Lalu Sang Bhikkhu menyingkap jubah antarasavaka3 saffron4 itu hingga menampakkan kaki bertato. 

“Ibuku,” suaranya nyaris berbisik. 

Magdalena, aku mengeja kata yang ditato vertikal bersebelah dengan tato salib dililit sesulur bunga merah muda dan biru. Lalu, selekasnya Sang Bhikkhu merapikan kembali jubah antarasavakanya. 

“Saya pernah melihat seorang Bhikku dengan tato seperti itu saat saya berperahu di Chao Praya sekira satu tahun lalu,” kataku begitu saja. 

“Saya tahu, Bhikkhu yang ibu maksud adalah saya,” ia tersenyum lembut. “Ketika itu saya dikirim ke sana untuk belajar hidup. Ketika saya mengulurkan galah di tepi Chao Praya, saya melihat dua perempuan sedang berbicara Indonesia di dalam perahu. Saya teringat ibuku, teringat Indonesia.” 

Aku merasa pagi itu runtuh segala bangunan keangkuhan. Tiba-tiba pagi menjadi lebih dingin sehingga aku menggigil. 

“Setiap kita diberi salib sesuai kemampuan kita untuk memikulnya,” aku tahu suaraku berkarat. Sang Bhikkhu mengangguk kecil dan tersenyum damai. 

“Mari kita tinggalkan burung kecil ini, kita cuci tangan di pos penjagaan. Sepertinya ibu sudah kedinginan.” Lalu tangan itu menepuk kecil pusara burung. Ia terpejam sejenak dan merapal doa, saat mata itu kembali terbuka, aku tercekat, dua bulir air mata menetes berwarna merah. Sang Bhikkhu menangis darah. Aku tergugu dalam jernih pagi itu. 


Catatan kaki: 
1. Jubah terluar yang dikenakan Bhhikkhu tradisi Theravada 
2. Jubah esktra untuk melindungi dari dingin 
3. Jubah bagian dalam sepanjang mata kaki yang dililitkan seperti sarung 
4. Warna kuning tua menyerupai tembaga 

Indah Darmastuti tinggal dan berkarya di Solo. Ia menulis puisi dan prosa di beberapa media. Sejumlah karyanya yang telah diterbitkan ialah Novel Kepompong (2006), Kumpulan Noveltte (2012) Kumcer, Makan Malam Bersama Dewi Gandari (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indah Darmastuti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 15 April 2018

0 Response to "Via Dolorosa sang Bhikkhu"