Biografi Jejak Kaki - Resolusi Cinta Gunung Batur - Romantisme Setangkai Bunga - Bali di Kanvas Antonio Blanco | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Biografi Jejak Kaki - Resolusi Cinta Gunung Batur - Romantisme Setangkai Bunga - Bali di Kanvas Antonio Blanco Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Biografi Jejak Kaki - Resolusi Cinta Gunung Batur - Romantisme Setangkai Bunga - Bali di Kanvas Antonio Blanco

Biografi Jejak Kaki

Disebuah senja yang grimis, aku jadi tamu, kau sematkan
tiga bulir biji beras di kening, agar pikiranku
bening. Serta tiga bulir di dada agar jiwa jadi perkasa
Yang tiga ditanganku, kusematkan dibawah puserku
Supaya nafsuku tahan tak terganggu
.serta di bawah mulut, agar ucapanku tak ditelan
kabut.

Aku melihat Maya Denawa meracik cetik racun sambil
bermantra. Tapi dewa Indra, utusan dewa langit
itu, keburu menancapkan tombak. Air suci jelmaan
embun surga itu, mengantar lembut swara kidung,
dari langit arupadatu.
Dan kau membasuhi diri dengan air suci itu.

Kutemukan tapak kaki yang miring bekas pelarian
Maya Denawa , diantara angin malam dan kabut
pagi , tersudut dikejar Dewa Indra, atas kepongahannya.
Malam yang berdiam dalam sepi, berubah jadi
persabungan.

Pagi pagi bukit batu itu berubah jadi jejak jejak kaki
yang miring, serta anyir darah. Di situlah aku merenungkan,
perihal keangkuhan manusia.

Tampaksiring 19/4/2018.


Resolusi Cinta Gunung Batur

Di anak tangga gunung Batur kaki kita mendaki,
kubayangkan tanganmu kugenggam, kita disepuh
cahaya matahari
Salak anjing khintamani melengking menyapamu.
Khintamani begitu anggun, berwajah hijau pupus
dan sunyi. Tak ada nafas dan cinta berseteru di sini,
seperti danau batur yang berdiam kebiruan.

Kintamani kabutnya menjelma dhupa matra .
Cintamu larut dalam embun di setangkai bunga. Aku
mengheningkan cipta, menyesali jarak sedemikian
jauhnya.

Nikmatilah, hari harimu penyair, bulan berganti
musim, hari pun berganti angin. Betapa cinta
seperkasa gunung batur menjulang, pun runtuh oleh
magmanya
Tapi hanya kepadamu aku
Ingin berlabuh, dan mengakhiri tualangku.

Gunung Batur Bali. 19/4/2018.

Romantisme Setangkai Bunga 

Di pantai kuta, yang berkabut buih gelombang laut,
dirimu menjelma setangkai bunga. Kutanam didasar
hatiku terdalam akarnya menjalar, ke seluruh tubuh
dan pikiranku.
Kelopak itu mengertapkan aroma harum, kukenangkan
lagi wajahmu yang ranum

Abadi kusimpan di dasar hati di perasaanku, di dalam
bathinku , begitu dalam. Kintamani mengemasi
sepinya
aku mengeja, dan mengenangkan romantismu yang
manja. Hidup jadi sepi begini, kataku dalam hati.

Pelangi seperti menyusun trap anak tangga dimana
para dewa bermeditasi
Dan pure terus menebarkan asap dhupa, harumnya
seperti mencium bau surga.
Setangkai bungamu, akarnya menjalar ke seluruh
tubuh dan di hatiku terdalam.

Kintamani 19 /4/ 2018.

Bali di Kanvas Antonio Blanco 

Senja itu, ikan betutu yg kau hidangkan, menangis di
meja makan. Wajahnya lembab pucat pasi, seperti
menggambarkan kepedihan hutan bakau dan pantai
yang mengering.

Nyoman , pagi tadi bercerita, Bali yang hilang tengah
ditemukan kembali, di kanfas Antonio Blanco. Kini ia
sedang membakar dupa sambil bermatra di Ubud,
diiringi gending melagu sunyi.

Ikan betutu yang kau hidangkan, kutusuk garpu,
menjerit. Menjelmakan suara suluk tembang ladrangraras
yang meninggi.
Ia meloncat menemukan rumah barunya, di kanfas
Antonio Blanco dipigura pohon purba, dipajang di langit
Ubud.

Ubud 20 /4/2018.

*) Sumanang Tirtasujana, Alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dan Pendiri Kelompok Sastra Pendapa Yogya. Karyanya terhimpun dalam Antologi Puisi Modern Equator edisi tiga bahasa Inggris, Indonesia dan Jerman. Tinggal di Jalan Selatan Pasar Pituruh 6. Pituruh - Purworejo.54263

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sumanang Tirtasujana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 6 Mei 2018 

0 Response to "Biografi Jejak Kaki - Resolusi Cinta Gunung Batur - Romantisme Setangkai Bunga - Bali di Kanvas Antonio Blanco "